Dec 3, 1992

Kushendy Asribusana pasarkan jeans Lee Cooper dan Lawman

Jakarta, 2 Desember 1992 - Pasar busana jeans di Indonesia diperebutkan secara ketat oleh ratusan pemain, dari yang hanya bermodal merk lokal, merk bercitra internasional, bahkan beredar juga merk-merk bajakan. Dengan mengandalkan daya tarik masing-masing, busana jeans pun dijajakan di kaki lima, pasar tradisional, toko-toko hingga ke butik-butik yang bertebaran di pusat-pusat pertokoan ternama.

Salah satu pemain yang ikut meramaikan pasar busana jeans adalah PT. Kushendy Asribusana. Dimotori oleh Jody Dharmawan, PT. Kushendy Asribusana mulai menggebrak pasar pada awal tahun 1990 dengan memunculkan merk Lee Cooper dari Inggris. Pemegang lisensi Lee Cooper, Vivat Holding PLC, mempercayakan pemasaran Lee Cooper kepada PT. Kushendy Asribusana. Merk Lee Cooper mulai diperkenalkan pada tahun 1908 oleh Morris Cooper di Inggris dengan mengandalkan unsur-unsur klasik dipadu dengan keotentikan konsep rancangan dan kualitas produk. Dalam waktu singkat, Lee Cooper mulai menjelajah ke seluruh dunia.

Menurut Jody Dharmawan, pasar Indonesia cukup menarik untuk digarap, mengingat besarnya populasi penduduk dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang pernah mencapai 7 % per tahun. Kemitraan yang terjalin antara PT. Kushendy Asribusana dan Vivat Holding PLC adalah bertujuan untuk menanamkan citra Lee Cooper di benak masyarakat Indonesia. Didukung sekitar 180 karyawan, Lee Cooper kini memiliki sekitar 35 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia. Lee Cooper juga mengelola 5 butik yang dioperasikan secara langsung. Dengan promosi yang cukup gencar, produk Lee Cooper berikut aksesorisnya mulai dikenal masyarakat luas. Penekanan pada brand image dan didukung oleh kwalitas produk adalah perlu bagi Lee Cooper, mengingat sasaran pasarnya adalah untuk kelas menengah ke atas. Target pasar Lee Cooper adalah kaum muda berusia 15 tahun ke atas. Menurut Jody, pasar Lee Cooper memang disiapkan untuk medium high market. Dalam waktu singkat, posisi Lee Cooper di Indonesia kini setingkat di bawah Levi's yang menjadi pioneer disini.

Lee Cooper adalah satu-satunya jeans yang membedakan fitting untuk pria dan wanita. Sebelum dipasarkan di Indonesia, Lee Cooper melakukan riset dengan mengukur fitting sekitar 150 pria dan 150 wanita, untuk menentukan fitting standar orang Indonesia. Tujuannya adalah agar pas dikenakan orang Indonesia. Kini Lee Cooper memiliki 6 (enam) fitting pria dan 7 (tujuh) fitting wanita. Untuk pasaran Indonesia, pihak mitra lokal diberi kebebasan berkreasi, "Jadi kami bisa membuat beragam variasi, tetapi sebelum dipasarkan harus mendapat approval dari London", kata Jody.

Pada 1993, PT. Kushendy Asribusana mentargetkan bisa menjual sekitar 500 ribu potong jeans. Ia yakin, langkahnya bakal mulus menembus rintangan. Dengan pasar sasaran kaum muda, Lee Cooper kini mendirikan sebuah kelompok yang diberi nama Lee Cooper Club.

Pada akhir 1992, PT. Kushendy Asribusana mulai melebarkan sayap. Selain Lee Cooper , PT. Kushendy Asribusana juga dipercaya oleh Lawman Hong Kong untuk memasarkan produk-produk jeans bermerk Lawman. Pada tanggal 12 Desember 1992, akan dibuka butik Lawman yang pertama di Indonesia, dengan lokasi di The Atrium Segi Tiga Senen, Jakarta.

Perusahaan induk dari PT. Kushendy Asribusana adalah Winner Group. Perusahaan yang beroperasi sejak 1980 itu bergelut dalam bidang garment manufacturer dan sekaligus garment exporter. Pabrik Winner yang berlokasi di Bogor ini memproduksi beragam pakaian jadi atas pesanan dari leading buyer ternama, seperti Calvin Klein, Banana Republic, Liz Claiborne, Jantzen, GAP, Russ Togs, Eddie Bauer, Phillips Van Heusen, Charming Shoppes, Quelle, Sun's, Men's Rally, Marubeni, Woolrich, Foster Brothers dan Montgomery Ward.

Winner juga dikontrak Marks Spencer untuk memproduksi beragam pakaian jadi yang dijual di outlet yang tersebar di berbagai negara. Atas keunggulannya dalam mempertahankan mutu produk, pada tahun 1990 Winner Group menerima Liz Claiborne Award untuk Contractor Quality. Dari 3000 kontraktor yang tersebar di seluruh dunia, hanya 14 perusahaan yang terpilih, salah satunya adalah Winner dari Indonesia. Pada tahun 1991, Winner berhasil mencetak angka ekspor US $ 50 juta.

No comments: