Nov 16, 2003

Sampoerna Hijau gelar Pentas Akbar di Malang

Meriahkan suasana bulan suci Ramadhan bersama "Sampoerna Hijau Parade Bedug"

Malang, 16 November 2003 - Pada hari ini, kota Malang mendapat kehormatan atas digelarnya Pentas Akbar di Lapangan Rampal. Hadirnya panggung hiburan ini adalah sebagai puncak acara dari "Sampoerna Hijau Parade Bedug" yang dimeriahkan oleh kelompok komedi musikal TeamLo dan Geng Hijau - digelar usai sholat Tarawih hingga pukul 23.00 wib. Malang adalah kota kesepuluh di Jawa Timur yang dilintasi parade spektakuler ini. Usai menggelar 'Pentas Jalan' di Tulungagung dan 'Pentas Berhenti' selama tiga jam di kota Blitar, iring-iringan Parade Bedug langsung memasuki kota Malang. Pada saat yang sama, di Lapangan Rampal berlangsung Kontes Bedug dengan hadiah 6 ekor kambing, dan aneka ragam permainan menarik. Saat memasuki kota Malang, Balabag Percussion - kelompok seniman dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta - ikut memeriahkan suasana dengan memainkan beragam alat musik yang menghentak. Rangkaian acara tersebut digelar untuk mengisi kegiatan sebelum Buka Puasa.

Memasuki hari ke-22, Parade Bedug yang disponsori oleh Sampoerna Hijau itu kini melintasi Malang. Digelarnya parade bedug ini dipastikan akan mengguncang Malang, seperti juga terjadi di kota-kota lainnya. Tak salah, kalau bulan suci Ramadhan yang penuh makna religius bagi umat Islam di wilayah Propinsi Jawa Timur pada umumnya dan kota Malang pada khususnya, kian bertambah semarak dengan hadirnya acara spektakuler tersebut.

Peserta parade yang mengawal bedug raksasa bernama "Bedug Sampoerna Hijau" tersebut telah dilepas secara resmi di Bandar Lampung pada hari Minggu, 26 Oktober 2003 lalu. Iring-iringan itu kemudian melanjutkan perjalanan ke beberapa kota di Pulau Jawa dengan menyeberangi Selat Sunda menggunakan feri. Acara akbar yang digelar selama 23 hari ini tersebut - mulai 26 Oktober lalu hingga 17 November 2003 - kemudian melintasi 53 kota di Pulau Jawa, terbentang mulai dari Serang di Propinsi Banten hingga Pasuruan di Jawa Timur.

Sederet kota kunci di Pulau Jawa yang dilalui arakan keliling yang melibatkan ribuan pendukung acara ini diantaranya adalah Serang, Tangerang, Bekasi, Bogor, Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Tegal, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Salatiga, Semarang, Kudus, Gresik, Surabaya, Kediri, Malang, dan Pasuruan sebagai titik terakhir. Usai menghibur masyarakat di Gresik, Parade Bedug lalu akan menyusuri 11 kota lainnya, mulai dari kota Surabaya hingga Pasuruan.

"Parade bedug adalah acara tahunan yang rutin kami gelar selama bulan puasa dengan mengarak keliling bedug raksasa dipadu dengan panggung hiburan yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas dengan gratis," tutur Toni Darusman, brand manager Sampoerna Hijau. "Parade tahun ini adalah gelaran yang keenam kalinya sejak kami luncurkan pertama kali pada tahun 1999," tambahnya. Sebagai catatan, bedug raksasa yang diarak keliling tersebut hingga kini masih menyandang predikat sebagai bedug berukuran terbesar se Indonesia dan pernah mencetak Rekor MURI.

"Tujuan utama kami menggelar acara ini tiada lain untuk menyajikan hiburan positif kepada masyarakat luas selama bulan puasa," ungkap Toni. "Kami juga ingin mengangkat pentingnya nilai kebersamaan dalam penyelenggaraan acara akbar ini. Parade yang melibatkan secara langsung ribuan masyarakat luas di berbagai kota ini merupakan realisasi dari makna kebersamaan tersebut," tambahnya.

Selain itu, acara ini juga sebagai wujud perhatian serta apresiasi Sampoerna Hijau pada dunia seni budaya dengan dilibatkannya para seniman lokal. Agar tidak memberi kesan hanya pengulangan belaka, parade di bulan puasa kali ini dikemas lebih menarik dibandingkan dengan arak-arakan tahun sebelumnya, yaitu perpaduan antara konsep parade dengan kontes bedug. Untuk tahun ini, Parade Bedug dibagi menjadi 3 segmen, yaitu gelaran 'Pentas Jalan' di 18 kota, 'Pentas Berhenti' di 18 kota dan 'Pentas Akbar', juga berlangsung di 18 kota.

Komunitas Hijau juga dilibatkan dalam parade kali ini dengan peran sebagai escort team. Mereka adalah barisan pedagang nasi goreng di Bandung, para sopir angkot di Bogor, anggota Vespa Club di Solo, rombongan tukang ojek dan tak ketinggalan pula para pengayuh becak. Kalau pada penyelenggaraan tahun-tahun lalu hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, parade tahun ini 'menyeberang' ke Pulau Sumatra, dengan titik awal di Bandar Lampung.

Geng Hijau yang menjadi aikon Sampoerna Hijau ikut memeriahkan parade berskala nasional ini. Mereka terlibat penuh dalam panggung hiburan yang digelar di berbagai kota. Penampilan Geng Hijau yang kocak, beragam permainan menarik yang digelar, serta panggung hiburan, tentunya menambah semaraknya parade. Kelompok penghibur kreatif Padhyangan 6 telah sukses menghibur masyarakat Bandar Lampung dan Jawa Barat, sedangkan TeamLo mendapat giliran menghibur masyarakat Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Mereka benar-benar menampilkan komedi musikal nan segar.

Sedangkan para seniman yang tergabung dalam Kelompok Balabag dari STSI Solo akan memainkan ensemble bedug yang mengkombinasikan instrumen modern dan tradisional. Masyarakat juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kontes bedug dan beragam permainan menarik seperti puzzle, lempar kapak, dart, merakit gerobak nasi goreng, pindah bangku dan lainnya. Sungguh sebuah hajatan akbar dengan makna yang sebenar-benarnya, bukan?

Sekilas Sampoerna Hijau

Sampoerna Hijau merupakan salah satu produk sigaret kretek tangan (SKT) unggulan dari PT. HM Sampoerna Tbk. (HMS). Ditujukan bagi pria dewasa (25-35 tahun) yang menghargai pentingnya kebersamaan baik dalam suka maupun duka, menikmati hidup yang sedang dijalani apa adanya, serta menghargai waktu saat beraktivitas bersama teman-teman. Rokok kretek ini pertama kali diproduksi pada 16 Juni 1968 di Denpasar (Bali) semasa almarhum Aga Sampoerna, generasi kedua dari pendiri HMS. Menapaki usia ke 35 tahun, Sampoerna Hijau yang menawarkan konsep good value for money kian populer dengan munculnya icon Geng Hijau yang kocak serta kompak.


"Sampoerna Hijau, Asyiknya Rame-Rame......."


Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:

Elia Setiawan
Media Relations Officer
PT HM Sampoerna Tbk.
Telephone +62 31 843 1699
Facsimile +62 31 842 0232
E-mail: esetiawa@sampoerna.co.id

Radityo Djadjoeri
Facsimile +62 21 791 94838/790 2806
Facsimile +62 31 842 0232
Mobile Phone 081 7980 2250
Email: bizzcomm@indosat.net.id

Nov 5, 2003

Sampoerna Hijau gelar Pentas Akbar di Cirebon

Meriahkan suasana bulan suci Ramadhan bersama "Sampoerna Hijau Parade Bedug"

Cirebon, 5 November 2003 - Pada hari ini, kota Cirebon mendapat kehormatan atas digelarnya Pentas Akbar di Alun-Alun Cirebon. Hadirnya panggung hiburan ini adalah sebagai puncak acara dari "Sampoerna Hijau Parade Bedug" yang akan dimeriahkan oleh Padhyangan 6 dan Geng Hijau - digelar usai sholat Tarawih. Acara parade sendiri akan dimulai pukul 13.30 wib hingga 23.00 wib, diawali dengan pawai keliling kota lalu dilanjutkan dengan Kontes Bedug berhadiah total sebanyak 6 ekor kambing. Saat parade keliling kota Cirebon, Balabag Percussion - kelompok seniman dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta - ikut memeriahkan suasana dengan memainkan beragam alat musik yang menghentak.

Cirebon adalah kota terakhir di Propinsi Jawa Barat yang dilintasi parade ini. Untuk wilayah Jawa Barat, 'Pentas Akbar' hanya digelar di 7 kota, yaitu Bekasi (28/10), Bogor (29/10), Sukabumi (30/10), Tasikmalaya (1/11), Majalengka (2/11), Subang (3/11) dan pada hari ini berlangsung di Cirebon. Sedangkan 'Pentas Berhenti' digelar di 6 kota, dan 'Pentas Berjalan' juga digelar di 6 kota. Digelarnya parade bedug ini dipastikan akan mengguncang Cirebon, seperti juga sudah terjadi di kota-kota lainnya di Jawa Barat. Tak salah, kalau bulan suci Ramadhan yang penuh makna religius bagi umat Islam di wilayah Jawa Barat kian bertambah semarak dengan hadirnya acara spektakuler tersebut.



.../2

Peserta parade yang mengawal bedug raksasa bernama "Bedug Sampoerna Hijau" tersebut telah dilepas secara resmi di Bandar Lampung pada hari Minggu, 26 Oktober 2003 lalu. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke beberapa kota di Pulau Jawa dengan menyeberangi Selat Sunda menggunakan feri. Acara akbar yang digelar selama 23 hari ini tersebut - mulai 26 Oktober lalu hingga 17 November 2003 - kemudian melintasi 53 kota berikutnya di Pulau Jawa, terbentang mulai dari Serang di Propinsi Banten hingga Pasuruan di Jawa Timur.

Sederet kota kunci di Pulau Jawa yang dilalui arakan keliling yang melibatkan ribuan pendukung acara ini diantaranya adalah Serang, Tangerang, Bekasi, Bogor, Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Semarang, Kudus, Surabaya, Kediri, Malang, dan Pasuruan sebagai titik terakhir. Usai menghibur masyarakat di Kota Udang, Parade Bedug lalu akan menyusuri 16 kota di Propinsi Jawa Tengah, mulai dari Losari hingga Rembang.

"Parade bedug adalah acara tahunan yang rutin kami gelar selama bulan puasa dengan mengarak keliling bedug raksasa dipadu dengan panggung hiburan yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas dengan gratis," tutur Toni Darusman, brand manager Sampoerna Hijau. "Parade tahun ini adalah gelaran yang keenam kalinya sejak kami luncurkan pertama kali pada tahun 1999," tambahnya. Sebagai catatan, bedug raksasa yang diarak keliling tersebut hingga kini masih menyandang predikat sebagai bedug berukuran terbesar se Indonesia dan pernah mencetak Rekor MURI.

"Tujuan utama kami menggelar acara ini tiada lain untuk menyajikan hiburan positif kepada masyarakat luas selama bulan puasa," ungkap Toni. "Kami juga ingin mengangkat pentingnya nilai kebersamaan dalam penyelenggaraan acara akbar ini. Parade yang melibatkan secara langsung ribuan masyarakat luas di berbagai kota ini merupakan realisasi dari makna kebersamaan tersebut," tambahnya.




..../3

Siaran Media "Sampoerna Hijau Gelar ................
5 November 2003
Hal. 3 dari 4

Selain itu, acara ini juga sebagai wujud perhatian serta apresiasi Sampoerna Hijau pada dunia seni budaya dengan dilibatkannya para seniman lokal. Agar tidak memberi kesan hanya pengulangan belaka, parade di bulan puasa kali ini dikemas lebih menarik dibandingkan dengan arak-arakan tahun sebelumnya, yaitu perpaduan antara konsep parade dengan kontes bedug. Untuk tahun ini, Parade Bedug dibagi menjadi 3 segmen, yaitu gelaran 'Pentas Jalan' di 18 kota, 'Pentas Berhenti' di 18 kota dan 'Pentas Akbar', juga akan berlangsung di 18 kota.

Komunitas Hijau juga dilibatkan dalam parade kali ini dengan peran sebagai escort team. Mereka adalah barisan pedagang nasi goreng di Bandung, para sopir angkot di Bogor, anggota Vespa Club di Solo, rombongan tukang ojek dan tak ketinggalan pula para pengayuh becak. Kalau pada penyelenggaraan tahun-tahun lalu hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, parade tahun ini 'menyeberang' ke Pulau Sumatra, dengan titik awal di Bandar Lampung.

Geng Hijau yang menjadi aikon Sampoerna Hijau ikut memeriahkan parade berskala nasional ini. Mereka terlibat penuh dalam panggung hiburan yang digelar di berbagai kota. Penampilan Geng Hijau yang kocak, beragam permainan menarik yang digelar, serta panggung hiburan, tentunya menambah semaraknya parade. Kelompok penghibur kreatif Padhyangan 6 dan TeamLo secara bergantian juga akan menampilkan komedi musikal nan segar. Sedangkan para seniman yang tergabung dalam Kelompok Balabag dari STSI Solo akan memainkan ensemble bedug yang mengkombinasikan instrumen modern dan tradisional. Masyarakat juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kontes bedug dan beragam permainan menarik seperti puzzle, lempar kapak, dart, merakit gerobak nasi goreng, pindah bangku dan lainnya. Sungguh sebuah hajatan akbar dengan makna yang sebenar-benarnya, bukan?








..../4

Siaran Media "Sampoerna Hijau Gelar ................
5 November 2003
Hal. 3 dari 4


Sekilas Sampoerna Hijau

Sampoerna Hijau merupakan salah satu produk sigaret kretek tangan (SKT) unggulan dari PT. HM Sampoerna Tbk. (HMS). Ditujukan bagi pria dewasa (25-35 tahun) yang menghargai pentingnya kebersamaan baik dalam suka maupun duka, menikmati hidup yang sedang dijalani apa adanya, serta menghargai waktu saat beraktivitas bersama teman-teman. Rokok kretek ini pertama kali diproduksi pada 16 Juni 1968 di Denpasar (Bali) semasa almarhum Aga Sampoerna, generasi kedua dari pendiri HMS. Menapaki usia ke 35 tahun, Sampoerna Hijau yang menawarkan konsep good value for money kian populer dengan munculnya icon Geng Hijau yang kocak serta kompak.


"Sampoerna Hijau, Asyiknya Rame-Rame......."


Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:

Meta Rostiawati Radityo Djadjoeri
Media Relations Officer Bizzcomm!
PT HM Sampoerna Tbk. Telephone +62 21 791 94838
Telephone +62 21 526 7205 Facsimile +62 21 790 2806
Facsimile +62 21 526 7260/61 H/P 081 7980 2250
E: mrostiaw@sampoerna.co.id Email: bizzcomm@indosat.net.id

Oct 26, 2003

"Sampoerna Hijau Parade Bedug" siap mengguncang Bandar Lampung

Road show selama 23 hari, melintasi 54 kota di 6 propinsi

Bandar Lampung, 26 Oktober 2003 - Pada siang hari ini, resmi akan dibuka acara spektakuler bertajuk "Sampoerna Hijau Parade Bedug" di area parkir GOR Saburai, Bandar Lampung. Peserta parade yang mengawal bedug raksasa bernama "Bedug Sampoerna Hijau" tersebut bakal dilepas oleh Lilian Si dari PT HM Sampoerna Tbk. dan Toni Darusman, brand manager Sampoerna Hijau yang disaksikan pejabat setempat. Mereka secara simbolis akan menabuh bedug bertalu-talu di atas truk tronton sebagai tanda bahwa parade sudah bisa dimulai. Tak lama kemudian, kelompok seniman asal Solo Balabag Percussion memainkan beragam alat musik yang menghentak. Penampilan parade bedug itu dipastikan akan mengguncang Bandar Lampung. Tak salah, kalau bulan suci Ramadhan yang penuh makna religius bagi umat Islam di Lampung kian bertambah semarak dengan hadirnya acara spektakuler tersebut.

Usai menggelar kontes bedug dan Pentas Akbar semalam suntuk yang dihibur oleh Padhyangan 6 di Bandar Lampung, menurut rencana peserta parade akan meneruskan perjalanan ke beberapa kota di Pulau Jawa dengan menyeberangi feri. Acara akbar yang digelar selama 23 hari ini tersebut (mulai 26 Oktober hingga 17 November 2003) kemudian akan melintasi 53 kota berikutnya di Pulau Jawa, terbentang mulai dari Serang di Propinsi Banten hingga Pasuruan. Sederet kota kunci di Pulau Jawa yang akan dilalui arakan keliling yang melibatkan ribuan pendukung acara ini diantaranya adalah Serang, Tangerang, Bekasi, Bogor, Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Semarang, Kudus, Surabaya, Kediri, Malang, dan Pasuruan sebagai titik terakhir.

.../2

Siaran Media "Sampoerna Hijau Parade Bedug" Siap .............
26 Oktober 2003
Hal. 2 dari 3

"Parade bedug adalah acara tahunan yang rutin kami gelar selama bulan puasa dengan mengarak keliling bedug raksasa dipadu dengan panggung hiburan yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas dengan gratis," tutur Toni Darusman, brand manager Sampoerna Hijau. "Parade tahun ini adalah gelaran yang keempat kalinya sejak kami luncurkan pertama kali pada tahun 2000," tambahnya. Sebagai catatan, bedug raksasa yang akan diarak keliling tersebut bernama "Bedug Sampoerna Hijau" yang hingga kini masih menyandang predikat sebagai bedug berukuran terbesar se Indonesia dan pernah mencetak Rekor MURI.

"Tujuan utama kami menggelar acara ini tiada lain untuk menyajikan hiburan positif kepada masyarakat luas selama bulan puasa," ungkap Toni. "Kami juga ingin mengangkat pentingnya nilai kebersamaan dalam penyelenggaraan acara akbar ini. Parade yang melibatkan secara langsung ribuan masyarakat luas di berbagai kota ini merupakan realisasi dari makna kebersamaan tersebut," tambahnya. Selain itu, acara ini juga sebagai wujud perhatian serta apresiasi Sampoerna Hijau pada dunia seni budaya dengan dilibatkannya para seniman lokal.
Agar tidak memberi kesan hanya pengulangan belaka, parade di bulan puasa kali ini dikemas lebih menarik dibandingkan dengan arak-arakan tahun sebelumnya, yaitu perpaduan antara konsep parade dengan kontes bedug. Untuk tahun ini, Parade Bedug dibagi menjadi 3 segmen, yaitu gelaran 'Pentas Jalan' di 18 kota, 'Pentas Berhenti' di 18 kota dan 'Pentas Akbar', juga akan berlangsung di 18 kota.

Komunitas Hijau juga akan dilibatkan dalam parade kali ini sebagai escort team, seperti barisan pedagang nasi goreng di Bandung, sopir angkot di Bogor, Vespa Club di Solo, rombongan tukang ojek dan tak ketinggalan pula para pengayuh becak. Kalau pada penyelenggaraan tahun-tahun lalu hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, parade tahun ini 'menyeberang' ke Pulau Sumatra, dimana acara pembukaan Parade Bedug akan berlangsung di Area Parkir GOR Saburai, Lampung, pada hari Minggu, 26 Oktober 2003 mendatang.

..../3

Siaran Media "Parade Bedug Sampoerna Hijau" Siap ................
26 Oktober 2003
Hal. 3 dari 3

Geng Hijau yang menjadi aikon Sampoerna Hijau dipastikan akan hadir untuk memeriahkan parade berskala nasional ini. Mereka juga akan terlibat penuh dalam panggung hiburan yang bakal digelar di kota-kota yang dilalui parade ini. Penampilan Geng Hijau yang kocak, beragam permainan menarik yang digelar, serta panggung hiburan, tentunya akan menambah semaraknya parade. Kelompok penghibur kreatif Padhyangan 6 dan TeamLo secara bergantian juga akan menampilkan komedi musikal nan segar. Sedangkan para seniman yang tergabung dalam Kelompok Balabag dari STSI Solo akan memainkan ensemble bedug yang mengkombinasikan instrumen modern dan tradisional. Masyarakat juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kontes bedug dan beragam permainan menarik seperti puzzle, lempar kapak, dart, merakit gerobak nasi goreng, pindah bangku dan lainnya. Sungguh sebuah hajatan akbar dengan makna yang sebenar-benarnya, bukan?

Sekilas Sampoerna Hijau

Sampoerna Hijau merupakan salah satu produk sigaret kretek tangan (SKT) unggulan dari PT. HM Sampoerna Tbk. (HMS). Ditujukan bagi pria dewasa (25-35 tahun) yang menghargai pentingnya kebersamaan baik dalam suka maupun duka, menikmati hidup yang sedang dijalani apa adanya, serta menghargai waktu saat beraktivitas bersama teman-teman. Rokok kretek ini pertama kali diproduksi pada 16 Juni 1968 di Denpasar (Bali) semasa almarhum Aga Sampoerna, generasi kedua dari pendiri HMS. Menapaki usia ke 35 tahun, Sampoerna Hijau yang menawarkan konsep good value for money kian populer dengan munculnya icon Geng Hijau yang kocak serta kompak.

"Sampoerna Hijau, Asyiknya Rame-Rame......."


Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:

Meta Rostiawati Radityo Djadjoeri
Media Relations Officer Bizzcomm!
PT HM Sampoerna Tbk. Telephone +62 21 791 94838
Telephone +62 21 526 7205 Facsimile +62 21 790 2806
Facsimile +62 21 526 7260/61 H/P 081 7980 2250
E: mrostiaw@sampoerna.co.id Email: bizzcomm@indosat.net.id

Oct 22, 2003

Sekilas tentang PT H.M. Sampoerna

PT H.M. Sampoerna Tbk., salah satu produsen rokok terkemuka di Indonesia, masuk dalam jajaran perusahaan keluarga terbesar di dunia yang masih tetap berkiprah dari generasi ke generasi. Sejarah perusahaan ini tak dapat dipisahkan dari keberadaan keluarga Sampoerna secara turun temurun. Kesuksesan diawali dari perintisan bisnis oleh Liem Seeng Tee, dilanjutkan kesuksesan Liem Swie Ling membangun pondasi bisnis yang kokoh, lalu kemudian diteruskan hingga kini oleh Putera Sampoerna dan Michael Joseph Sampoerna, putranya.

GENERASI PERTAMA

Sejarah perusahaan ini berawal jauh sebelum 1913 ketika Liem Seeng Tee dan isterinya, Tjiang Nio, mendirikan perusahaan dengan nama Handel Maastchapij Liem Seeng Tee yang kemudian berubah menjadi NV Handel Maastchapij Sampoerna (H.M. Sampoerna). Usai Perang Dunia II, nama perusahaan tersebut di-Indonesia-kan menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna dengan tetap menonjolkan inisial HM.

Kesempatan besar muncul pada awal 1916, ketika Liem Seeng Tee membeli berbagai jenis tembakau dalam jumlah besar dari seorang pedagang tembakau yang bangkrut bisnisnya. Sejak itu Liem Seeng Tee dan Tjiang Nio, isterinya, mencurahkan seluruh tenaganya untuk mengembangkan bisnis tembakau.

Ditengah situasi keuangan yang sulit, Liem Seeng Tee tetap bertekad menjadikan perusahaannya sebagai "Kerajaan Tembakau" dengan menempatkan karakter bahasa Mandarin "Wang" (yang dalam dialek Hokkian disebut "Ong") yang berarti "raja" di depan produk unggulannya 'Dji Sam Soe'. Kemudian ia menggabungkan simbol "Wang" dengan huruf Mandarin "Ren" yang berarti "orang", sehingga menghasilkan paduan kata yang bermakna "Sampoerna". Hal ini sangat jelas menggambarkan keinginan Liem Seeng Tee untuk menghasilkan produk tembakau yang terbaik dan meraih predikat sebagai 'raja rokok kretek'.

Sangat menarik untuk diketahui bahwa jumlah huruf pada merk 'Dji Sam Soe' adalah 9 dan bila angka "234" dijumlahkan juga akan menjadi 9. Selain itu, pada setiap kemasan 'Dji Sam Soe' terdapat 9 bintang bersudut sembilan. Jumlah huruf dalam angka "Sampoerna" juga ternyata 9. Ini berhubungan dengan kepercayaan di Cina Selatan tentang angka 9 sebagai angka keberuntungan.

Rangkaian produk awal yang dibuat Sampoerna antara lain 'Sampoerna Star', 'Summer Palace', dan 'Statue of Liberty'. Merk 'Sampoerna Star' termasuk salah satu rokok berfilter yang pertama di Indonesia.

Sejak awal Liem Seeng Tee bertekad untuk menghasilkan produk yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Dari rokok murah bermerk 'Djangan Lawan', sampai ke rokok yang berharga lebih mahal karena terbuat dari tembakau pilihan dan rempah alami.

Mulai awal 1940, bisnis PT H.M. Sampoerna terus tumbuh dengan pesat. Produksi gabungan rokok lintingan tangan dan lintingan mesin mencapai kurang lebih 3 juta batang setiap minggunya. Untuk melinting 'Dji Sam Soe' saja diperlukan sekitar 1.300 pekerja.

Perang Dunia II yang dimulai dengan pendaratan tentara Jepang di Pulau Jawa, memporak-porandakan asset perusahaan ini. Liem Seeng Tee ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara selama masa perang. Pabriknya digunakan oleh pasukan Jepang untuk membuat rokok bermerk 'Fuji'. Seusai perang, tiada secuilpun harta benda keluarga ini yang tertinggal selain merk 'Dji Sam Soe'.

Dengan berakhirnya pendudukan Jepang di Indonesia selama 3,5 tahun lamanya, keluarga ini perlahan-lahan mulai membangun kembali bisnisnya. Hal ini juga ditunjang dengan keberhasilan 'Dji Sam Soe' di pasar, sehingga pada 1949 kondisi usaha PT H.M. Sampoerna sudah dapat dikatakan pulih kembali.

Pada 1956, Liem Seeng Tee wafat dalam usia 63 tahun.

GENERASI KEDUA

Setelah wafatnya Liem Seeng Tee, roda perusahaan dijalankan oleh kedua puterinya, Liem Sien Nio dan Liem Hwee Nio, beserta suami masing-masing. Kerja keras mereka ternyata tidak memberikan hasil yang memuaskan karena terjadi perubahan politik dan keadaan ekonomi Indonesia yang kian memburuk pada akhir tahun '50-an dan awal '60-an.

Liem Swee Ling yang lebih dikenal dengan nama Aga Sampoerna, lalu memimpin tampuk perusahaan. Beliau adalah putra kedua dari pasangan Liem Seeng Tee dan Tjiang Nio. Masuknya manajemen Aga Sampoerna berbeda dengan almarhum ayahnya yang selalu hadir dan mengawasi proses pembuatan rokok dari awal hingga akhir. Aga memanfaatkan beberapa tenaga profesional pada tingkatan manajer. Kunci sukses Aga Sampoerna adalah pada kemampuan dan kemauannya untuk bekerja sama dengan semua tingkatan karyawan. Dengan modal kepiawaian berbicara dalam berbagai ragam bahasa, Aga Sampoerna dapat dengan mudah berbaur dengan seluruh pekerja dan membangun hubungan yang bersifat pribadi. Kepekaannya ini tampak dari upah pelinting di Sampoerna yang selalu paling tinggi di Jawa Timur.

Pada 16 Juni 1968, Aga Sampoerna mulai memproduksi rokok kretek bermerk 'Sampoerna A' di Denpasar, Bali. Kini merk tersebut lebih dikenal dengan sebutan 'Sampoerna Hijau'. Di masa itu pula muncul merk 'Panamas Kuning'. Kini sigaret kretek tangan buatan Surabaya tersebut lebih banyak beredar di wilayah Sumatra.

Aga Sampoerna wafat di Singapura pada tanggal 13 Oktober 1995.

GENERASI KETIGA

Putera Sampoerna, putera kedua Liem Swie Ling, mulai aktif dalam perusahaan pada awal '70-an. Lalu pada 1978, Putera dipercaya untuk mengelola pabrik baru di Malang. Namun usaha keras untuk mengembangkan perusahaan terhadang oleh kebakaran yang terjadi di pabrik Taman Sampoerna pada 1979. Akan tetapi dengan kerja keras seluruh karyawan, Sampoerna tetap dapat mempertahankan produksi rokoknya dari Malang. Dalam waktu 24 jam setelah kejadian itu, rokok 'Dji Sam Soe' kembali hadir di masyarakat, walau dalam jumlah terbatas.

Dengan kian berkembangnya perusahaan, ruang untuk produksi di Taman Sampoerna dan di Malang menjadi kian terbatas, sehingga pada 1982 manajemen memutuskan pemindahan pusat usaha ke kawasan industri Rungkut, Surabaya. Sejak saat itu, telah banyak prestasi yang berhasil dicetak, antara lain pendirian laboratorium kontrol untuk memenuhi standar internasional dan perolehan lisensi untuk transportasi komersial bagi PT Sampoerna Transportasi Nusantara (STN). STN dimanfaatkan untuk keperluan distribusi produk-produk Sampoerna. Pada 1989, muncul ide brilian Putera Sampoerna dalam mengembangkan jajaran merk rokok berlabel 'A', ditandai dengan peluncuran A Mild - rokok dengan kadar tar dan nikotin terendah. Produk ini meraih sukses di pasaran karena dapat memenuhi keinginan masyarakat luas yang kian berpikiran modern. Selain itu, masih ada beberapa merk rokok lainnya yang diproduksi PT H.M. Sampoerna di masa kepemimpinan Putera Sampoerna, diantaranya adalah merk 'A International'.

Keberhasilan lainnya adalah dengan terdaftarnya PT H.M. Sampoerna sebagai perusahaan publik pada 27 Agustus 1990. Ketika itu, PT. H.M. Sampoerna Tbk berhasil menjual sahamnya sebanyak 27 juta lembar dengan harga Rp 12,600 per lembar saham. Sejak saat itu, saham PT H.M. Sampoerna Tbk selalu menduduki lapisan saham papan atas (blue chip).

GENERASI KEEMPAT

Pada 27 Juni 2001, Michael Joseph Sampoerna menduduki posisi sebagai Presiden Direktur sekaligus sebagai Chief Operating Officer dan Chief Financial Officer PT. H.M. Sampoerna Tbk.

Sedangkan Putera Sampoerna kini tetap aktif di perusahaan sebagai Presiden Komisaris PT HM Sampoerna Tbk.

"Sampoerna Hijau Parade Bedug" kembali digelar

Road Show Selama 23 Hari, Melintasi 54 kota di 6 propinsi

Jakarta, 22 Oktober 2003 - Bulan suci Ramadhan yang penuh makna religius bagi umat Islam bakal kian semarak dengan hadirnya acara spektakuler bertajuk "Sampoerna Hijau Parade Bedug". Acara road show ini akan kembali digelar selama 23 hari, mulai 26 Oktober hingga 17 November 2003, melintasi 54 kota di 6 propinsi, terbentang mulai dari Lampung di Pulau Sumatra hingga Pasuruan, Jawa Timur. Sederet kota kunci yang akan dilalui arak-arakan keliling yang melibatkan ribuan pendukung acara ini diantaranya adalah Lampung, Tangerang, Bekasi, Bogor, Sukabumi, Bandung, Cirebon, Tegal, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Semarang, Kudus, Surabaya, Kediri, Malang, dan Pasuruan sebagai titik terakhir.

"Parade bedug adalah acara tahunan yang rutin kami gelar selama bulan puasa dengan mengarak keliling bedug raksasa dipadu dengan panggung hiburan yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas dengan gratis," tutur Toni Darusman, brand manager Sampoerna Hijau. "Parade tahun ini adalah gelaran yang keempat kalinya sejak kami luncurkan pertama kali pada tahun 2000," tambahnya. Sebagai catatan, bedug raksasa yang akan diarak keliling tersebut bernama "Bedug Sampoerna Hijau" yang hingga kini masih menyandang predikat sebagai bedug berukuran terbesar se-Indonesia dan pernah mencetak Rekor MURI.

"Tujuan utama kami menggelar acara ini tiada lain untuk menyajikan hiburan positif kepada masyarakat luas selama bulan puasa," ungkap Toni. "Kami juga ingin mengangkat pentingnya nilai kebersamaan dalam penyelenggaraan acara akbar ini. Parade yang melibatkan secara langsung ribuan masyarakat luas di berbagai kota ini merupakan realisasi dari makna kebersamaan tersebut," tambahnya. Selain itu, acara ini juga sebagai wujud perhatian serta apresiasi Sampoerna Hijau pada dunia seni budaya dengan dilibatkannya para seniman lokal.


Agar tidak memberi kesan hanya pengulangan belaka, parade di bulan puasa kali ini dikemas lebih menarik dibandingkan dengan arak-arakan tahun sebelumnya, yaitu perpaduan antara konsep parade dengan kontes bedug. Untuk tahun ini, Parade Bedug dibagi menjadi 3 segmen, yaitu gelaran 'Pentas Jalan' di 18 kota, 'Pentas Berhenti' di 18 kota dan 'Pentas Akbar', juga akan berlangsung di 18 kota.

Komunitas Hijau juga akan dilibatkan dalam parade kali ini sebagai escort team, seperti barisan pedagang nasi goreng di Bandung, sopir angkot di Bogor, Vespa Club di Solo, rombongan tukang ojek dan tak ketinggalan pula para pengayuh becak. Kalau pada penyelenggaraan tahun-tahun lalu hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, parade tahun ini 'menyeberang' ke Pulau Sumatra, dimana acara pembukaan Parade Bedug akan berlangsung di Area Parkir GOR Saburai, Lampung, pada hari Minggu, 26 Oktober 2003 mendatang.

Geng Hijau yang menjadi aikon Sampoerna Hijau dipastikan akan hadir untuk memeriahkan parade berskala nasional ini. Mereka juga akan terlibat penuh dalam panggung hiburan yang bakal digelar di kota-kota yang dilalui parade ini. Penampilan Geng Hijau yang kocak, beragam permainan menarik yang digelar, serta panggung hiburan, tentunya akan menambah semaraknya parade. Kelompok penghibur kreatif Padhyangan 6 dan TeamLo secara bergantian juga akan menampilkan komedi musikal nan segar. Sedangkan para seniman yang tergabung dalam Kelompok Balabag dari STSI Solo akan memainkan ensemble bedug yang mengkombinasikan instrumen modern dan tradisional. Masyarakat juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kontes bedug dan beragam permainan menarik seperti puzzle, lempar kapak, dart, merakit gerobak nasi goreng, pindah bangku dan lainnya. Sungguh sebuah hajatan akbar dengan makna yang sebenar-benarnya, bukan?

Sekilas Sampoerna Hijau

Sampoerna Hijau merupakan salah satu produk sigaret kretek tangan (SKT) unggulan dari PT. HM Sampoerna Tbk. (HMS). Ditujukan bagi pria dewasa (25-35 tahun) yang menghargai pentingnya kebersamaan baik dalam suka maupun duka, menikmati hidup yang sedang dijalani apa adanya, serta menghargai waktu saat beraktivitas bersama teman-teman. Rokok kretek ini pertama kali diproduksi pada 16 Juni 1968 di Denpasar (Bali) semasa almarhum Aga Sampoerna, generasi kedua dari pendiri HMS. Menapaki usia ke 35 tahun, Sampoerna Hijau yang menawarkan konsep good value for money kian populer dengan munculnya icon Geng Hijau yang kocak serta kompak.


"Sampoerna Hijau, Asyiknya Rame-Rame......."


Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:

Meta Rostiawati Radityo Djadjoeri
Media Relations Officer Bizzcomm!
PT HM Sampoerna Tbk. Telephone +62 21 791 94838
Telephone +62 21 526 7205 Facsimile +62 21 790 2806
Facsimile +62 21 526 7260/61 Mobile Phone 081 7980 2250
E: mrostiaw@sampoerna.co.id E: bizzcomm@indosat.net.id

Oct 20, 2003

Aspira Oil menggelar uji ketahanan berkendara selama 24 jam, untuk membuktikan diri sebagai pelumas berkualitas tinggi

Bogor, 20 Oktober 2003 - Aspira Oil, pelumas produksi PT. Astra Komponen Indonesia (ASKI), pada hari ini menggelar acara menarik bertajuk "Uji Ketahanan 24 Jam" yang berlangsung di Sentul International Circuit, Bogor. Sebanyak 18 pembalap Ibu Kota akan menguji ketangguhan kendaraan roda dua yang menggunakan pelumas bermerek Aspira Oil selama 24 jam nonstop. Secara bergantian, mereka akan mengendarai berbagai merek sepeda motor bebek 4T sejak Senin siang, 20 Oktober hingga Selasa siang, 21 Oktober 2003.

"Tujuan utama kami menggelar acara ini tiada lain untuk membuktikan bahwa pelumas yang kami pasarkan memiliki kualitas prima dan layak untuk digunakan segala jenis kendaraan bermotor," tutur Harry Widjaja, business operation director ASKI. "Ini adalah kesempatan langka karena sampai saat ini hanya Aspira Oil yang berani melakukan uji coba ketahanan berkendara 24 jam lamanya," tambahnya. Beberapa merek pelumas ramai-ramai menonjolkan diri sebagai oli yang paling berkualitas, tetapi tak pernah membuktikan keunggulannya melalui ajang uji ketangguhan seperti dilakukan Aspira Oil.

Jenis oli yang digunakan pada acara ini adalah Aspira Maxima 4T Motorcycle Oil yang memiliki kemampuan standar API SG/CD, SAE 20W-50. Pelumas ini memiliki kemampuan kerja prima, kondisi yang stabil karena merupakan pelumas bahan bakar bensin jenis multigrade yang dirancang untuk sepeda motor empat langkah dan mesin yang mensyaratkan API Service SG, termasuk mesin-mesin yang mempunyai tingkat output tinggi.


Pada kesempatan ini, Aspira Oil juga mengumumkan rencana perubahan kemasan produk Aspira Maxima dari kaleng ke botol plastik warna merah. Menurut rencana, kemasan baru tersebut akan diluncurkan pada awal November 2003.


Sekilas Aspira Oil

Aspira Oil dipasarkan oleh PT. Astra Komponen Indonesia (ASKI) sebagai anak perusahaan PT. Astra Otoparts Tbk. Saat ini Aspira Oil memasarkan 3 jenis produk yaitu Aspira Maxima 4T Motorcycle Oil (pelumas sepeda motor 4 langkah); Aspira Maxima Gasoline Engine Oil (pelumas mobil berbahan bakar bensin), dan Aspira Maxima Diesel Engine Oil (pelumas untuk mesin diesel).



"Astra, ahlinya otomotif di Indonesia menghadirkan pelumas Aspira"


Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:

Johanes Salim
Head - Marketing Department
PT Astra Komponen Indonesia
Telephone +62 21 651 1518
Facsimile +62 21 651 0089
E-mail: johanes.salim@aspira.astra.co.id



Sep 25, 2003

Olivier Bernheim, President & C.E.O. of Raymond Weil

Olivier Bernheim was born into a family of industrialists in Strasbourg, France, in 1954. After gaining his Law degree and graduating from a French business school he started his career as a sales executive with Kronenbourg and then moved to Unilever to look after the marketing of the new Astra-Calve products.

He joined RAYMOND WEIL in 1982 when the company was rapidly expanding its production but still wanting to preserve its exclusive identity as a family business. Olivier Bernheim was instrumental in making this critical transition by introducing various organizational and structural changes. He developed a number of markets and at the same time take over the communications strategy to strengthen RAYMOND WEIL's international image.

Olivier Bernheim is currently the President and CEO of RAYMOND WEIL. He spends most of his time traveling around the world to positively develop the RAYMOND WEIL brand across the luxury goods market.

A connoisseur of music, Olivier Bernheim's passion for the arts led him to develop RAYMOND WEIL's musical strategy. The advertising campaigns: 'Precision Movements' and 'Celebrate the Moment', reflects RAYMOND WEIL's commitment to the world of music, dance and the arts. Many of the collections take their name from operas such as Parsifal, Othello and Don Giovanni or have musical theme such as Tema and Tango.

Olivier Bernheim is married to one of Raymond Weil's daughters, Diana, who is professional pianist and they have three children. In his free time he plays golf, tennis and enjoys horse riding.

TRANSLATION:

OLIVIER BERNHEIM
PRESIDEN-DIREKTUR & C.E.O. RAYMOND WEIL

Olivier Bernheim lahir dari keluarga industrialis di Strasbourg, Perancis, pada tahun 1954. Usai meraih gelar sarjana hukum dan lulus dari sekolah bisnis Perancis, ia mulai meniti karier sebagai staff penjualan di perusahaan Kronenbourg dan kemudian pindah ke Unilever untuk menangani pemasaran lini produk baru bermerk Astra-Calve.

Ia bergabung dengan RAYMOND WEIL pada tahun 1982 ketika perusahaan ini sedang gencar memperluas produksi namun ingin tetap mempertahankan identitas eksklusif sebagai suatu bisnis keluarga. Olivier Bernheim memegang peranan penting dalam melakukan transisi kritis ini dengan memperkenalkan berbagai perubahan dalam organisasi dan struktur perusahaan. Ia mengembangkan sejumlah pasar dan pada saat yang sama mengambil alih strategi komunikasi untuk memperkuat citra RAYMOND WEIL di dunia internasional. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya dengan melakukan perjalanan keliling dunia untuk mengembangkan merek RAYMOND WEIL secara positif di pasaran barang-barang mewah.

Sebagai ahli di bidang musik, kecintaan Olivier Bernheim terhadap seni mendorongnya untuk mengembangkan 'strategi musik' yang diterapkan pada RAYMOND WEIL. Rangkaian kampanye iklan bertajuk "Precision Movement" dan "Celebrate The Moment" mencerminkan komitmen RAYMOND WEIL pada dunia seni, khususnya musik dan tari. Beragam koleksinya mengambil nama dari opera seperti Parsifal, Othello dan Don Giovanni, atau memilih tema yang berkaitan dengan musik, seperti Tema dan Tango.

Menikah dengan Diana Weil, salah seorang putri Raymond Weil yang berprofesi sebagai pianis, mereka dikaruniai tiga anak. Untuk mengisi waktu luang, Olivier bermain golf, tenis dan menunggang kuda.

Pada 25 September 2003, ia berkunjung ke Indonesia untuk berbincang dengan mitra usaha dan sekaligus melihat perkembangan bisnis jam tangan.

Raymond Weil: Some milestones in history

The Making Of A RAYMOND WEIL Watch

Every RAYMOND WEIL watch is the result of long process of development where technical expertise is combined with the beauty of design.

By following the instincts as well as analyzing the market, the RAYMOND WEIL team continually strives to improve and broaden the brand's existing range of products. They communicate their ideas and intuitions to a team of designers who then use their talents to give the project shape and substance

Once the designs have been thoroughly studied, discussed and modified, a prototype is produced so that the model can be studied in a three-dimensional format. After the design has been finalized the first cases and bracelets can be produced.

Next, the dial is created - the face of the watch. Dozens of design variations will be tested before a few designs are selected. This still leaves the choice of hands, the fitting of the movement and the checking of many essential details before the watch takes on its definitive appearance.

Finally it is time for the watch to be assembled. By then each watch has been tested at every stage and undergone a total of 360 inspections.

Inspired by the same 'esprit de corps', Raymond Weil and Oliver Bernheim have built up a solid and reliable worldwide network of representative. These distributors stand as guarantors of the quality of RAYMOND WEIL watches, which come with a year's guarantee and benefit from excellent after-sales service


1970 - 2002
RAYMOND WEIL OFFER ALL THE PRECISION OF THEIR WATCHES

In the last quarter, RAYMOND WEIL, the Geneva based watch company has achieved an enviable position among the galaxy of the best known and most renowned Swiss watchmakers in the world.

Its policy, one of both riguor and passion, is based on expertise and precision. Using all that modern technology has to offer. RAYMOND WEIL will settle for nothing less than impeccable product quality. Indeed, this constant quest for perfection is one of the keys to its success with the same degree of careful attention to detail being applied to each and every model,

But what's the use of technical perfection without soul?

Over the years, the brand has come to stand for a world of culture, art and music. Therefore most of the collections draw their inspiration dorm such major musical works as Parsifal Don Giovanni and Othello. These works now embody RAYMOND WEIL love for classical music the opera and the arts.

Each of the collections has its own individuality. Its own specific design, thus the range includes a variety of models representing a harmonious blend of the traditional and the contemporary. RAYMOND WEIL places particular importance aesthetic appeal of its design, which is lovingly perfected down to the last detail.

Every day since its conception, RAYMOND WEIL has been producing elegant watches. Whether traditional, for sports or formal occasions, the latest fashion, steel gold or gold plated, on leather or a bracelet, the RAYMOND WEIL watches, each in their different way combine simplicity of design with fabulous materials.

The vision of RAYMOND WEIL can be summed up in just a few words: creation, innovation and evolution. All three aspects are permanent features of its professional code of ethics, the primary concern of which is to impress and give a pleasurable to customers who choose a RAYMOND WEIL timepiece and who share with it the best moments of their lives.

Some milestones in history

1976: RAYMOND WEIL creates REYMOND WEIL S.A. in Geneva at a time when the watch market was suffering severe recession

1979: RAYMOND WEIL, opts for quartz movements and launches the Golden Eagle collection, consisting of steel sports watches, .......... This was a great success

1982: Oliver Bernheim, RAYMOND WEIL's son - in - law, joins the company as marketing and sales manager. He is now President and C.E.O

1983: RAYMOND WEIL launches the Amadeus collection, following … Forman's Film of the same name. The names of RAYMOND WEIL leading collection have been draw from classical and operatic music ever since

1984: Launch of the new 'Amadeus" advertising campaign
1985: Launch of the Fidello collection : these delicate and slander-looking watches, which were mostly fitted onto bracelets made of 18 carat gold plated links, were another worldwide success.

1986: RAYMOND WEIL celebrates its 10th anniversary. Launch of the Othello collection. Avant-garde technology (the ultra-flat movement is just 1,2 mm thick) combined with sophisticated-looking design. This collection made a major contribution to RAYMOND WEIL unbelievably rapid success.

1988: Launch of the Traviata collection. These stained glass watches fitted with multicolored dials turned traditional aesthetic value on their head.

1989: RAYMOND WEIL takes its place among the bid names in the Swiss watch industry and launches its advertising "Islande"
1991: The market is moving. The luxury watch segment is growing. RAYMOND WEIL launched the Persifal collection. The brand's first in stainless steel and 18-carat gold.

1992: Launch of the Amadeus 200 collection, the first sports watch water-resistant to 20 meters and the Parsifal 18-carat gold and diamond jewelry collection

1993: Three new parsifal models : GMT, Square and Automatic

1994: RAYMOND WEIL adopts a new image and chooses the world of dance for its new advertising entitled "Precision Movement". The company also launches a new watch collection entitled " Tradition Mecanique", fitted with automatic or manual movements.

1995: RAYMOND WEIL ads a cinema and TV advertising

1998: For its 20th anniversary, RAYMOND WEIL creates the Duo Jubile limited edition, a man's watch with a dual time-zone display and a solid -steel ...... case hugging the curve or the wrist. Launch of the W1 an avant-garde collection in steel and carbon fiber.

1998: Launch of three new product lines: Don Giovanni, rectangular and steel. Tema available in ladies size or mini version, and Allegro a trendy watch in steel or yellow gold-plated

1999: Launch of the new advertising campaign entitled "Celebrate The Moment". RAYMOND WEIL new creations focus on a concept combining Rigour and Emotion. Rectangular Persifal Aspiration. Don Giovanni chronograph with leather strap. W1 chronograph, men's and ladies size and Tango mini.

2000: This year is seen as a turning pint with a harmonious new trip in which diamonds, mother-of-pearl and steel give form to the new variations conceived for the Parsifal, Don Giovanni, chorus and Tango ranges.

2001: RAYMOND WEIL celebrates its first quarter of a century and gives the Othello collection a new lease of life. Othello unveils a magic work, created by a perfect marriage between daring and mystery. It is constructed from an extremely string convex sapphire glass, and plays on the reflections of the dial's black background and its mid-night blue bezel. Its two vertical lines break up the continuity if the glass ................ of a one-piece design. The Othello line comes in four versions L a man's watch, a lady watch, a miniature lady's watch and an automatic version engraved by RAYMOND WEIL "aux cotes de Geneva"/ RAYMOND WEIL has also embarked on a global sponsorship with Bond, the new classical pop group that has taken the world by storm.

2002: RAYMOND WEIL gives the Othello collection a new lease of life and launches, after the dark blue Othello, the yellow and pink gold models. The crown its efforts the company launches also new Don Giovanni …., an unusual version with its our ordinary

Tonggak sejarah Raymond Weil

Proses pembuatan Raymond Weil

Setiap arloji RAYMOND WEIL merupakan hasil daripada sebuah proses pengembangan yang panjang dimana keahlian teknis digabungkan dengan keindahan disain. Dengan mengikuti instink dan menganalisa pasar, tim RAYMOND WEIL selalu berusaha meningkatkan mutu dan memperluas macam produk yang dihasilkan. Mereka menyampaikan ide-ide dan intuisi mereka kepada tim perancang yang kemudian akan menggunakan bakat mereka untuk memberi wujud dan substansi kepada proyek ini.

Setelah desain dipelajari, dibahas dan dimodifikasi, dibuatlah suatu prototipe sehingga model dapat dipelajari dalam format tiga-dimensi. Begitu disain dirampungkan, kerangka jam dan gelangnya dapat diproduksi. Kemudian, diciptakan cakra angka - yaitu muka arloji. Lusinan variasi disain akan diuji terlebih dahulu sebelum memilih beberapa disain. Setelah itu masih harus dipilih tangan-tangan arloji, mengepas gerakan jam dan memeriksa bermacam detail penting sebelum tampilan arloji menjadi nyata.

Akhirnya tiba saatnya untuk merakit arloji. Pada saat itu masing-masing arloji sudah menjalani pengujian pada setiap tahap pembuatan dan mengalami 360 kali pemeriksaan.
Dengan inspirasi berdasarkan semangat dan antusiasme yang sama, Raymond Weil dan Olivier Bernheim telah membangun jaringan perwakilan internasional yang kokoh dan terpercaya. Para distributor ini menjamin kualitas arloji merek RAYMOND WEIL, yang dilengkapi garansi satu tahun dan pelayanan purna-jual yang prima.

Dalam triwulan terakhir, RAYMOND WEIL, perusahaan arloji berbasis di Jenewa (Geneve), telah mencapai posisi yang sangat bagus di antara galaksi para pembuat jam tangan Swiss yang paling dikenal dan paling terkenal di dunia.

Kebijakan perusahaan yang bersifat tegas namun sekaligus penuh gairah, didasarkan pada keahlian dan presisi. Dengan menggunakan semua teknologi modern yang ada, RAYMOND WEIL hanya memproduksi produk dengan kualitas tanpa cela. Memang, keinginan untuk selalu mengejar kesempurnaan adalah salah satu kunci suksesnya dimana setiap model dibuat dengan penuh perhatian dan kecermatan yang sama.

Namun, apa gunanya kesempurnaan teknis bila tanpa jiwa? Sebuah jam tangan dengan 'sentuhan seni' adalah jawabnya. Dengan berlalunya waktu, merek ini seolah-olah mewakili dunia budaya, seni dan musik. Karena itu sebagian besar koleksi arloji mengambil inspirasi dari karya-karya musik besar seperti Parsifal, Don Giovanni dan Othello. Karya-karya ini mewujudkan kecintaan RAYMOND WEIL akan musik klasik, opera dan kesenian. Masing-masing koleksi mempunyai ciri khas tersendiri. Suatu disain yang spesifik, sehingga satu rangkaian produk mencakup berbagai model yang mewakili perpaduan yang harmonis antara yang tradisional dan yang kontemporer. RAYMOND WEIL sangat mementingkan daya tarik estetika dari disain arloji, yang disempurnakan hingga detail terkecil.

Setiap hari semenjak didirikan, RAYMOND WEIL memproduksi arloji-arloji yang anggun. Apakah dengan disain tradisional, atau untuk olahraga atau kesempatan-kesempatan formal, mode yang mutakhir, dari emas baja atau lapis emas, dengan tali kulit atau gelang, arloji-arloji RAYMOND WEIL dengan caranya masing-masing merupakan gabungan kesederhanaan disain dengan bahan-bahan yang berkelas.

Visi bisnis RAYMOND WEIL dapat disimpulkan dengan hanya beberapa kata: kreasi, inovasi, dan evolusi. Ketiga aspek ini menjadi ciri tetap dalam kode etik profesional perusahaan, yang tujuan utamanya adalah untuk memberikan kesan mendalam dan menyenangkan pelanggan. Mari rayakan saat-saat terindah dalam hidup bersama RAYMOND WEIL.


Tonggak sejarah RAYMOND WEIL

1976: RAYMOND WEIL mendirikan RAYMOND WEIL S.A. di Jenewa (Swis) pada saat pasar untuk jam tangan/arloji sedang mengalami resesi yang sangat hebat.

1979: RAYMOND WEIL memilih gerakan kuarsa dan meluncurkan koleksi "Golden Eagle", terdiri dari arloji-arloji baja untuk dipakai dalam kegiatan olahraga. Ini merupakan suatu sukses besar.

1982: Oliver Bernheim, menantu Raymond Weil, bergabung dalam perusahaan sebagai manajer pemasaran dan penjualan. Kini ia menjabat Presiden-Direktur dan CEO.

1983: RAYMOND WEIL meluncurkan koleksi "Amadeus", terinspirasi dari film layar lebar karya sutradara Forman. Semenjak itu penamaan koleksi arloji RAYMOND WEIL diambil dari karya musik klasik dan opera.

1984: Peluncuran kampanye iklan yang baru untuk koleksi
'Amadeus'.

1985: Peluncuran koleksi "Fidello": arloji-arloji yang berpenampilan halus dan tipis ini, dengan gelang rantai berlapis emas 18 karat. RAYMOND WEIL mencetak satu kesuksesan lagi dalam dunia jam tangan.

1986: RAYMOND WEIL merayakan ulang tahunnya ke-10, ditandai dengan peluncuran koleksi "Othello". Teknologi yang begitu canggih dan modern (gerakan ultra-datar dengan ketebalan hanya 1,2 mm) dipadu dengan disain yang anggun. Koleksi ini memberi kontribusi besar terhadap kesuksesan dan citra RAYMOND WEIL yang begitu cepat melambung.

1988: Peluncuran koleksi "Traviata". Arloji-arloji dengan kaca berwarna dan cakra angka yang multi-warna telah menjungkir-balikkan nilai estetika tradisional.

1989: RAYMOND WEIL mengambil tempat di antara nama-nama besar dalam industri jam Swiss dan meluncurkan kampanye iklan "Islande".

1991: Pasar bergerak. Segmen arloji mewah semakin tumbuh semakin besar. RAYMOND WEIL meluncurkan koleksi "Persifal". Arloji-arloji pertama yang terbuat dari baja anti-karat dan emas 18-karat.

1992: Peluncuran koleksi "Amadeus 200 Collection", arloji-arloji olahraga pertama yang kedap air hingga 20 meter dan koleksi perhiasan "Parsifal" dari emas 18 karat dan berlian.

1993: Peluncuran tiga model "Parsifal" baru : GMT, Square dan Automatic

1994: RAYMOND WEIL membentuk citra baru dan memilih dunia tari untuk iklan terbarunya yang berjudul "Precision Movement". Perusahaan juga meluncurkan koleksi arloji-arloji baru yang dinamakan "Tradition Mechanique", dilengkapi dengan gerakan-gerakan otomatis atau manual.

1995: RAYMOND WEIL meluncurkan iklan baru untuk bioskop dan televisi.

1998: Saat berulang tahun ke-20, RAYMOND WEIL menciptakan "Duo Jubile" edisi terbatas, yaitu arloji pria dari baja anti-karat dengan tampilan dua zona-waktu, mengelilingi pergelangan tangan. Peluncuran "W1", suatu koleksi jam tangan 'avant-garde' yang terbuat dari serat baja dan karbon.

1998: Peluncuran tiga rangkaian produk baru: "Don Giovanni", berbentuk segi-empat dari baja. Tema yang tersedia dengan ukuran untuk wanita atau versi mini, dan Allegro, arloji trendy dari baja atau lapis emas kuning.

1999: Peluncuran kampanye iklan baru berjudul "Celebrate The Moment". Kreasi baru RAYMOND WEIL berpusat pada konsep yang menggabungkan sifat keras dan perasaan mendalam. "Persifal Aspiration" berbentuk empat persegi. "Don Giovanni Chronograph" dengan tali kulit. "W1 chronograph", dalam ukuran untuk pria dan wanita dan "Tango" mini.

2000: Tahun ini dilihat sebagai titik balik dengan langkah baru terpadu dimana berlian, kulit mutiara dan baja ber-stau untuk membentuk variasi-variasi baru dalam koleksi Parsifal, Don Giovanni, Chorus dan Tango.

2001: RAYMOND WEIL merayakan 25 tahun berdirinya dan memperbarui koleksi "Othello". Koleksi arloji Othello merupakan karya yang sungguh menawan, perpaduan sempurna antara keberanian dan kemisteriusan. Terbuat dari kaca safir cembung yang sangat kuat, dengan pemantulan dari cakra angka yang hitam dan bezel biru tua pekat. Dua garis vertikal memotong kontinuitas kaca dari desain satu-potong. Koleksi Othello tampil dalam empat versi, yaitu arloji pria, arloji wanita, arloji wanita versi mini, dan versi otomatis yang digrafir oleh RAYMOND WEIL: "aux cotes de Geneva". RAYMOND WEIL juga telah menjalin kerjasama sponsor global dengan Bond, kelompok musik klasik pop yang lagi naik daun di seluruh dunia.

2002: RAYMOND WEIL memberi nafas baru kepada koleksi Othello. Othello yang dulu berwarna biru tua, kini tersedia model baru berwarna kuning dan merah-muda. Sebagai puncak karyanya, perusahaan meluncurkan "Don Giovanni" seri terbaru, versi yang unik dengan dimensi yang luar biasa.

Raymond Weil persembahkan koleksi jam tangan terbaru: Menggelar Pameran Mini bertajuk "Raymond Weil 2003"

Raymond Weil persembahkan koleksi jam tangan terbaru: Menggelar Pameran Mini bertajuk "Raymond Weil 2003"

Jakarta, 25 September 2003 - Raymond Weil, merk jam tangan terkemuka asal Swis, pada hari ini memajang koleksi terbarunya di Jakarta, khusus untuk disaksikan para pedagang jam tangan dan wartawan. Pameran mini hasil kerjasama antara Raymond Weil S.A. Geneve dan Crystal Time(S) Pte Ltd. dari Singapura ini bertajuk "Raymond Weil 2003", digelar hanya sehari di Ruang Sumba, Hotel Borobudur Jakarta.

Karya monumental Raymond Weil yang dipajang pada pameran kali ini diantaranya adalah Parsifal Diamonds Lady, Tema Diamonds, Tradition Mecanique dan Parsifal Automatic. Juga tampil mahakarya terbaru dari Raymond Weil yaitu Don Giovanni Cosi Grande.

Olivier Bernheim, CEO merangkap presiden direktur Raymond Weil S.A., ikut hadir dalam ajang pameran ini. "Saya sengaja datang ke Indonesia untuk bertemu dengan para mitra bisnis agar dapat lebih mendalami pasaran jam tangan disini, sekaligus memperkenalkan koleksi terbaru kami," tutur Olivier yang dalam kunjungannya kali ini akan didampingi oleh Sylvain Van Muylders, senior sales manager Raymond Weil S.A.

Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang ia pilih dalam perjalanan bisnisnya kali ini. Selain menggelar pameran mini jam tangan mewah koleksi terbaru, ia juga akan melakukan serangkaian pembicaraan dengan para pelaku bisnis arloji di Indonesia. Diharapkan, hasil dari kedua kegiatan tersebut pihaknya akan dapat lebih memahami selera dan keinginan konsumen jam tangan di Indonesia yang ia nilai unik.

"Jam tangan kini tak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, tapi telah berubah menjadi perhiasan mewah yang menunjukkan prestise pemakainya," ucap Olivier. Tak heran kalau Raymond Weil terus menggulirkan inovasi-inovasi baru agar karyanya bisa diterima masyarakat kelas menengah atas dari berbagai belahan bumi. Melalui berbagai ajang pameran di berbagai negara, Raymond Weil dapat membaca beragam keinginan para konsumennya.


Swiss yang identik dengan teknologi jam tangan adalah negeri dimana Raymond Weil lahir, tumbuh dan lalu berkembang menjadi merk jam tangan terkemuka. Sejumlah merek jam tangan terkenal di dunia memang berasal dari negeri di lereng Pegunungan Alpen ini, dimana secara berkala di kota Basel digelar pameran internasional jam tangan dan perhiasan kelas dunia. Pada pameran tahun ini, Raymond Weil mempersembahkan koleksi masterpiece-nya, yaitu Don Giovanni Casa Grande dan Parsifal Diamond.


Sekilas RAYMOND WEIL

Tonggak sejarah merk jam tangan mewah ini berawal saat seorang pria bernama Raymond Weil mendirikan perusahaan yang diberi nama RAYMOND WEIL S.A. di Jenewa, Swiss pada 1976. Di masa itu, pasaran jam tangan dunia dihantam oleh resesi yang sangat hebat. Di saat orang lain enggan melakukan investasi pada bisnis jam tangan, ia malah memasukinya. Bermodal kepercayaan kuat dan semangat membaja untuk memproduksi jam tangan berkualitas prima, Raymond Weil pun sukses menapaki bisnisnya. Keinginan untuk selalu mengejar kesempurnaan adalah salah satu kunci suksesnya dimana setiap model dirancang rapih, lalu dibuat dengan penuh perhatian dan kecermatan. Masing-masing koleksi mempunyai ciri khas tersendiri - sungguh sebuah perpaduan yang harmonis antara gaya tradisional dan kontemporer.

Raymond Weil amat mementingkan daya tarik estetika dari disain arloji, yang disempurnakan hingga detail terkecil. Namun, apa gunanya kesempurnaan teknis bila tanpa jiwa? Sebuah jam tangan dengan 'sentuhan seni' adalah jawabannya. Dengan berlalunya waktu, merek Raymond Weil seolah-olah mewakili dunia seni dan budaya. Pasalnya, sebagian besar koleksi arlojinya mengambil inspirasi dari beragam karya musik besar seperti "Parsifal", "Don Giovanni" dan "Othello". Rangkaian karya menawan tersebut mewujudkan kecintaan Raymond Weil akan dunia seni, khususnya opera dan musik klasik.

Berawal pada 1983, saat Raymond Weil meluncurkan koleksi "Amadeus", terinspirasi dari film layar lebar karya sutradara Forman yang berjudul sama. Semenjak itu rangkaian koleksi arloji Raymond Weil diambil dari musik klasik dan opera. Raymond Weil juga kerap menjalin kemitraan dengan para seniman. Saat perayaan ulang tahun ke-25 yang jatuh pada 2001 lalu, Raymond Weil menjalin kerjasama sponsor global dengan Bond, kelompok musik klasik pop yang sedang melejit di dunia.


Visi bisnis Raymond Weil dapat disimpulkan hanya dengan beberapa kata: kreasi, inovasi, dan evolusi. Ketiga aspek ini menjadi ciri khas Raymond Weil dalam menjalankan usaha sesuai etika profesional, yang tujuan utamanya adalah untuk menuangkan kesan mendalam demi kepuasan pelanggan. Mari jalani saat-saat terindah dalam hidup bersama Raymond Weil.

Untuk info lebih lengkap, klik: www.raymond-weil.com

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:

Surya Arief Is
Neo Indonesia
Telephone +62 21 830 77798
Facsimile +62 21 939 2278
Mobile phone: 0816-1926464
E-mail: surya.arief@neoindonesia.com

Untuk wawancara khusus dengan Mr. Olivier Bernheim, silakan hubungi:

Radityo Djadjoeri
Mobile: 0817-9802250
E-mail: bizzcomm@lycos.com

Aug 11, 2003

Sampoerna Hijau raih penghargaan dari MURI

Berhasil Menggelar Pesta Pedagang Nasi Goreng Keliling Terbesar Se-Indonesia

Jakarta, 11 Agustus 2003 - Pada 10 Agustus lalu, Sampoerna Hijau berhasil menorehkan sejarah saat menggelar acara pesta nasi goreng yang diikuti 270 pedagang nasi goreng keliling di Lapangan Gasibu, Bandung. Atas pencapaian prestasi tersebut, Museum Rekor Indonesia (MURI) menganugerahkan penghargaan kepada Sampoerna Hijau atas penciptaan rekor baru sebagai pesta para pedagang nasi goreng terbesar se-Indonesia. Jayasuprana dari MURI bahkan menyatakan bahwa pesta ini sebenarnya secara otomatis juga mencetak rekor dunia. Alasannya, acara serupa belum pernah digelar di belahan bumi manapun.

Penghargaan dari MURI tersebut diterima oleh Angky Camaro, managing director PT HM Sampoerna Tbk. Sebanyak 270 pedagang nasi goreng yang mengikuti acara kolosal tersebut merasa bangga akhirnya berhasil meraih penghargaan itu, begitu pula masyarakat Bandung dan sekitarnya yang menyaksikan perhelatan akbar itu. Sejak pagi hingga siang hari, para peserta pesta yang semuanya pedagang nasi goreng tersebut mempertontonkan kebolehannya meracik bumbu dan menggoreng nasi yang disaksikan oleh sekitar 15,000 pengunjung.

Kehadiran Geng Hijau yang menjadi maskot Sampoerna Hijau, mendapat sambutan hangat masyarakat Kota Kembang. Mereka memandu seluruh prosesi pencetakan rekor tersebut. Selain itu, penyanyi kondang Nini Karlina juga tampil atraktif saat menghibur seluruh peserta serta ribuan pengunjung yang memadati Lapangan Gasibu. Penampilan Geng Hijau yang kocak, beragam permainan menarik yang digelar, serta panggung hiburan, menambah semaraknya pesta. Para penonton juga diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi di berbagai segmen acara yang tersaji. Usai acara, ribuan piring nasi goreng yang tersaji langsung disantap oleh masyarakat dengan gratis. Sungguh sebuah hajatan akbar dengan makna yang sebenar-benarnya.

"Kebersamaan adalah salah satu nilai penting yang kami angkat dalam pesta ini," tutur Sendi Sugiharto, Senior Brand Manager PT HM Sampoerna Tbk. "Pesta yang melibatkan secara langsung pedagang nasi goreng dan masyarakat luas ini merupakan realisasi dari apa makna kebersamaan tersebut," tambahnya. Ide menggelar acara itu sendiri diambil dari tema iklan terbaru Sampoerna Hijau yang bertajuk 'Geng Hijau Makan Nasi Goreng'. "Disamping itu, acara ini juga sebagai wujud perhatian serta apresiasi kepada pedagang kecil," ungkap Sendi.

Sekilas Sampoerna Hijau

Sampoerna Hijau merupakan salah satu produk sigaret kretek tangan (SKT) unggulan dari PT. HM Sampoerna Tbk. (HMS). Ditujukan bagi pria dewasa (25-35 tahun) yang menghargai pentingnya kebersamaan baik dalam suka maupun duka, menikmati hidup yang sedang dijalani apa adanya, serta menghargai waktu saat beraktivitas bersama teman-teman. Rokok ini pertama kali diproduksi pada 16 Juni 1968 di Denpasar (Bali) semasa almarhum Aga Sampoerna, generasi kedua dari pendiri HMS. Menapaki usia ke-35 tahun, Sampoerna Hijau yang menawarkan konsep good value for money itu kian populer dengan munculnya aikon Geng Hijau yang kocak serta kompak.


"Sampoerna Hijau, Asyiknya Rame-Rame......."


Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi:

Yudy Rizard Hakim
Head, Public Relations
PT HM Sampoerna Tbk.
Telephone +62 21 526 7205
Facsimile +62 21 526 7260/61
E-mail: y-rizard@sampoerna.co.id

Aug 10, 2003

Sampoerna Hijau raih penghargaan dari MURI:

Berhasil menggelar pesta pedagang nasi goreng keliling terbesar se-Indonesia

Bandung, 10 Agustus 2003 - Pada hari ini, Sampoerna Hijau menggelar "Pesta NasGor Sampoerna Hijau" di Lapangan Gasibu, Bandung. Sejak pagi hingga siang hari, para peserta pesta yang semuanya pedagang nasi goreng tersebut mempertontonkan kebolehannya meracik bumbu dan menggoreng nasi yang disaksikan oleh ribuan orang. Acara kolosal yang diikuti 270 pedagang nasi goreng keliling berikut gerobaknya itu akhirnya berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pesta para pedagang nasi goreng terbesar se-Indonesia. Jayasuprana dari pihak MURI bahkan menyatakan bahwa pesta ini sebenarnya sudah secara otomatis juga mencetak rekor dunia. Alasannya, acara serupa belum pernah digelar di belahan bumi manapun.

Kehadiran Geng Hijau yang menjadi maskot Sampoerna Hijau, mendapat sambutan hangat masyarakat Kota Kembang. Mereka memandu seluruh prosesi pencetakan rekor tersebut. Selain itu, penyanyi kondang Nini Karlina juga tampil atraktif saat menghibur seluruh peserta serta ribuan pengunjung yang memadati Lapangan Gasibu. Penampilan Geng Hijau yang kocak, beragam permainan menarik yang digelar, serta panggung hiburan, menambah semaraknya pesta. Para penonton juga diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi di berbagai segmen acara yang digelar. Usai acara, ribuan piring nasi goreng yang tersaji langsung disantap oleh masyarakat dengan gratis. Sungguh sebuah hajatan akbar dengan makna yang sebenar-benarnya.

"Kebersamaan adalah salah satu nilai penting yang kami angkat dalam pesta ini," tutur Sendi Sugiharto, Senior Brand Manager PT HM Sampoerna Tbk. "Pesta yang melibatkan secara langsung pedagang nasi goreng dan masyarakat luas ini merupakan realisasi dari apa makna kebersamaan tersebut," tambahnya. Ide menggelar acara itu sendiri diambil dari tema iklan terbaru Sampoerna Hijau yang bertajuk 'Geng Hijau Makan Nasi Goreng'. "Disamping itu, acara ini juga sebagai wujud perhatian serta apresiasi kepada pedagang kecil," ungkap Sendi.

Sebagai catatan, iklan yang digarap oleh biro iklan Lowe Worldwide tersebut menggambarkan keseharian dan kejenakaan Geng Hijau yang secara berkala temanya selalu berganti. Versi iklan Geng Hijau sebelumnya antara lain: "Lomba Bakiak"; "Bedug"; "Durian Jatuh"; dan "Banjir". Rangkaian iklan Geng Hijau tersebut dinilai unik dan mendapat tanggapan positif dari masyarakat luas. Bahkan beberapa diantaranya meraih kemenangan dalam ajang pemilihan iklan favorit pilihan pemirsa.


Sekilas Sampoerna Hijau

Sampoerna Hijau merupakan salah satu produk sigaret kretek tangan (SKT) unggulan dari PT. HM Sampoerna Tbk. (HMS). Ditujukan bagi pria dewasa (25-35 tahun) yang menghargai pentingnya kebersamaan baik dalam suka maupun duka, menikmati hidup yang sedang dijalani apa adanya, serta menghargai waktu saat beraktivitas bersama teman-teman. Rokok ini pertama kali diproduksi pada 16 Juni 1968 di Denpasar (Bali) semasa almarhum Aga Sampoerna, generasi kedua dari pendiri HMS. Menapaki usia ke-35 tahun, Sampoerna Hijau yang menawarkan konsep good value for money itu kian populer dengan munculnya aikon Geng Hijau yang kocak serta kompak.


"Sampoerna Hijau, Asyiknya Rame-Rame......."

Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi:

Yudy Rizard Hakim
Head, Public Relations
PT HM Sampoerna Tbk.
Telephone +62 21 526 7205
Facsimile +62 21 526 7260/61
E-mail: y-rizard@sampoerna.co.id

Aug 5, 2003

Sampoerna Hijau incar Rekor MURI, 270 pedagang nasi goreng bakal unjuk kebolehan di Bandung




Jakarta, 5 Agustus 2003 - Apa yang istimewa dari nasi goreng? Mungkin tidak ada, kecuali merupakan salah satu masakan khas Indonesia dan dapat ditemui hampir di setiap tempat, mulai dari hotel bintang lima, warung pinggir jalan sampai pedagang keliling. Tetapi dalam waktu ini dekat ini, sebuah acara unik akan digelar oleh Sampoerna Hijau pada 10 Agustus 2003 mendatang di Lapangan Gasibu, Bandung.

Sebanyak 270 penjual nasi goreng berikut gerobagnya akan secara serentak dan kolosal mempertontonkan kebolehan mereka meracik bumbu dan menggoreng nasi dalam sebuah pesta akbar: "Pesta NasGor Sampoerna Hijau". Istimewanya lagi, acara ini juga bakal dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pesta para pedagang nasi goreng terbesar se-Indonesia. Pihak MURI bahkan mengklaim pesta ini bisa mencetak rekor tingkat dunia.

"Kebersamaan adalah salah satu nilai penting yang kami angkat dalam pesta ini," tutur Sendi Sugiharto, Senior Brand Manager PT HM Sampoerna Tbk. "Pesta yang melibatkan secara langsung pedagang nasi goreng dan masyarakat luas ini merupakan realisasi dari apa arti kebersamaan tersebut," tambahnya. Ide menggelar acara ini sendiri diambil dari tema iklan terbaru Sampoerna Hijau yang bertajuk 'Geng Hijau Makan Nasi Goreng'. "Disamping itu, acara ini juga sebagai wujud perhatian serta apresiasi kepada pedagang kecil," ungkap Sendi.

Sebagai catatan, iklan yang digarap oleh biro iklan Lowe Worldwide tersebut menggambarkan keseharian dan kejenakaan Geng Hijau yang secara berkala temanya selalu berganti. Versi iklan Geng Hijau sebelumnya antara lain: "Lomba Bakiak"; "Bedug"; "Durian Jatuh"; dan "Banjir". Iklan-iklan Geng Hijau tersebut dinilai unik dan mendapat tanggapan positif dari masyarakat luas. Bahkan beberapa diantaranya meraih kemenangan dalam ajang pemilihan iklan favorit pilihan pemirsa.

Geng Hijau yang menjadi icon Sampoerna Hijau tentunya akan hadir untuk memeriahkan pesta. Mereka juga akan memandu seluruh prosesi pencetakan rekor tersebut. Selain itu, penyanyi kondang Nini Karlina juga akan tampil untuk menghibur seluruh peserta serta ribuan pengunjung Pesta Nasgor Sampoerna Hijau. Penampilan Geng Hijau yang kocak, beragam permainan menarik yang digelar, serta panggung hiburan, tentunya akan menambah semaraknya pesta. Para penonton juga diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi di berbagai segmen acara yang digelar. Usai acara, ribuan piring nasi goreng yang tersaji dapat langsung disantap oleh masyarakat dengan gratis. Sungguh sebuah hajatan akbar dengan makna yang sebenar-benarnya.

Sekilas Sampoerna Hijau

Sampoerna Hijau merupakan salah satu produk sigaret kretek tangan (SKT) unggulan dari PT. HM Sampoerna Tbk. (HMS). Ditujukan bagi pria dewasa (25-35 tahun) yang menghargai pentingnya kebersamaan baik dalam suka maupun duka, menikmati hidup yang sedang dijalani apa adanya, serta menghargai waktu saat beraktivitas bersama teman-teman. Rokok ini pertama kali diproduksi pada 16 Juni 1968 di Denpasar (Bali) semasa almarhum Aga Sampoerna, generasi kedua dari pendiri HMS. Menapaki usia ke 35 tahun, Sampoerna Hijau yang menawarkan konsep good value for money kian populer dengan munculnya icon Geng Hijau yang kocak serta kompak.


"Sampoerna Hijau, Asyiknya Rame-Rame......."


Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi:
Yudy Rizard Hakim
Head, Public Relations
PT HM Sampoerna Tbk.
Telephone +62 21 526 7205
Facsimile +62 21 526 7260/61
E-mail: y-rizard@sampoerna.co.id

Jun 5, 2003

Kota Singa mengaum kembali melalui program pemulihan senilai S$200 juta

Jakarta, 5 Juni 2003 - Singapore Tourism Board (STB) dan industri pariwisata Singapura, hari ini mengumumkan program jangka panjang dalam rangka memulihkan sektor pariwisata, untuk mengundang kembali pengunjung ke Singapura dan membuat kota Singa ini mengaum kembali. Langkah tersebut dipaparkan oleh Lim Neo Chian, STB Deputy Chairman dan Chief Executive kepada 500 kalangan industri pariwisata pada pertemuan hari ini.

Program pemulihan sebesar S$200 juta (sekitar Rp.960 milyar), akan dipusatkan pada tiga arah, yaitu pembangunan kepercayaan, promosi taktis terhadap pasar dalam negeri bersama mitra industri, dan kampanye global. Dari dana S$200 juta (sekitar Rp.960 milyar), S$60 juta ditanamkan oleh STB dan Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS) (termasuk dana S$10 juta untuk pembangunan lalulintas udara). Dan sisanya akan digunakan oleh mitra swasta termasuk perusahan penerbangan, hotel, pertokoan, tempat-tempat wisata, operator wisata dan jasa-jasa lainnya yang berbasis lokal maupun di luar negeri.

Program ini akan berusaha menambah jumlah pengunjung melalui tiga elemen kunci:

" Sebagai tuan rumah yang berinisiatif membangun rasa percaya dengan kegiatan testimonial advertisement, media dan trade familiarisation trip, sejalan dengan kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh STB dan anggota pariwisata Singapura untuk berkerjasama dengan mitra industri dan corporate decision-maker di luar negeri.






" Pengunjung dari seluruh dunia akan ditawarkan perjalanan wisata yang menakjubkan, paket akomodasi dan hiburan yang mendorong mereka untuk mengunjungi, tinggal dan menikmati semua yang ditawarkan Singapura. Hal ini akan terus diusahakan melalui kerjasama promosi secara intensif dengan mitra industri, yang akan menghasilkan paket-paket menarik. Singapura juga akan menjadi tuan rumah yang menyelengarakan acara-acara yang menarik dalam enam bulan kedepan.

" Program advertising dan promosi secara global akan menarik kerja sama dan menjadi kunci kegiatan dengan dunia internasional, serta menunjukkan bahwa Singapura telah mengaum kembali.

"Program pemulihan sebesar S$200 juta diharapkan akan mendatangkan 4 juta pengunjung ke Singapura selama tujuh bulan kedepan dan menghasilkan penerimaan dari sektor pariwisata sebesar S$4 milyar," kata Lim Neo Chian, Deputy Chairman dan Chief Executive STB. "Arah dari program ini telah dikembangkan dari konsultansi dengan industri pariwisata. Kami akan meluncurkan dan memulai rollout program yang terinci ini diminggu ketiga bulan Juni."

"Kami tahu bahwa memulihkan angka pengunjung akan membutuhkan waktu dan kami sedang terus menerus melakukan segala upaya untuk memacu pemulihan. Kami sangat percaya bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk melakukan pemulihan jangka jauh yang tanpa henti terhadap jumlah pengunjung, sejak Singapura dicabut dari daftar negara terinfeksi SARS oleh WHO, khususnya dengan komitmen kami yang kuat untuk tetap waspada dalam tindakan pencegahan melawan SARS," katanya.

Walau penurunan jumlah pengunjung selama tiga bulan terakhir adalah yang terendah dalam 12 bulan terakhir ini, STB percaya kunjungan wisata telah mencapai angka yang terendah dan mengharapkan keadaan ini segera berbalik.

"Program ini dipercaya dapat menarik para pengunjung untuk kembali mengunjungi Singapura dan mendorong kembali industri pariwisata di pulau ini. Kami gembira dengan adanya dukungan dari STB dan usaha konsultasi dengan mitra industri untuk memastikan keberhasilan ini dapat diraih. Bersama-sama, kami percaya bahwa Singapura akan segera mengaum kembali," kata Kay Kuok, Shangri-La Hotels Executive Chairman dan COOL Team Co-Chairman.


Sebagai bagian dari program, STB dengan CAAS akan mengatur promosi taktis bersama dengan mitra industri seperti in-market tour operator, pengaturan meeting, dan destination management companies. Program kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan Kunjungan Wisata (Visitor Arrivals) ke Singapura selama Juni-Desember 2003, dengan program paket-paket yang dapat memberikan dukungan kepada mitra industri dan meningkatkan angka kunjungan wisata.

STB juga akan menyediakan penempatan dana dan mendukungan secara aktif untuk menyelengarakan acara hiburan besar di Singapura setiap bulannya dalam enam bulan kedepan. Baik incentives maupun acara hiburan, dapat memenuhi semua kriteria pengunjung potensial, dan akan disesuaikan untuk setiap key-market di seluruh dunia.

Program pemulihan STB adalah fase terbaru dari strateginya untuk menghadapi dampak dari SARS. Fase pertama merupakan implementasi dari tindakan pencegahan SARS yang tepat melalui "Cool Singapore Award" di bandara, hotel, jasa transportasi bawah tanah dan tempat-tempat wisata yang penting. Pengumuman hari ini juga merupakan bagian dari kesuksesan STB melalui program "Step Out! Singapore" yang ditujukan untuk menggerakan kembali pasar turis lokal dengan mengajak warga Singapura ke luar rumah untuk makan, berbelanja, mengunjungi acara-acara dan kembali menjalani hidup seperti biasanya.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Hawamah Abu Bakar
Country Manager Indonesia
Singapore Tourism Board
Email: hawa@stb.com.sg
Website: http://www.stb.com.sg

Ida Bayuni
BW Communications
for STB Indonesia
Tel: (6221) 830 5600; 830 6200
Fax: (6221) 830 6700
Email: stbindonesia@cbn.net.id

May 5, 2003

Goethe-Institut memulai perpustakaan teater digital

Munich, 5 Mei 2003 - Kepada para pekerja teater yang tidak berbahasa Jerman tetapi berminat pada teater kontemporer
Jerman, Goethe-Institut menawarkan cara baru yang
lebih nyaman untuk mengakses karya-karya drama yang
telah diterjemahkan. Mereka yang berminat dapat
mengunjungi alamat web:

www.goethe.de/theaterbibliothek

di alamat ini terdapat daftar terjemahan yang dapat dengan mudah dan gratis dipesan melalui email. Saat ini di perpustakaan teater terdapat lebih dari 60 judul, dari Igor Bauersima "norway.today" yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Italia sampai dengan karya Urs Widmers "Top Dogs" dalam bahasa Cina.

Goethe-Institut merencanakan untuk memasukkan kira-kira 30-50 terjemahan-terjemahan baru setiap tahunnya di perpustakaan teater digitalnya. Usaha memajukan drama Jerman di luar negri sejak bertahun-tahun termasuk dalam tugas Goethe-Institut.

Pada tahun 2002 saja Goethe-Institut mendukung/membantu 28 pementasan dan lebih dari 50 pembacaan karya-karya drama baru Jerman di luar negeri. Perpustakaan teater mengumpulkan terjemahan-terjemahan yang dibuat pada kesempatan
itu dan sekarang membuat terjemahan-terjemahan
tersebut dapat diakses oleh seluruh dunia.

Asosiasi Penerbit Teater dan Media Jerman (Der Verband Deutscher Bühnen- und Medienvelage) menyambut hangat inisiatif Goethe-Institut tersebut. Banyak penerbit teater mengumumkan akan menyediakan terjemahan-terjemahan berikutnya untuk perpustakaan
teater digital ini.

Bila anda membutuhkan informasi lebih jauh, silakan
hubungi kami di alamat ini:

Martin Berg
Zentrale München
Bereich Theater/Tanz (233)
Tel.: +49 89 159 21 238
Fax +49 89 159 21 549
Email: berg@goethe.de

Pressemitteilung
Nr. 16/2003
München, den 05. Mai 2003

Goethe-Institut startet digitale Theaterbibliothek

Das Goethe-Institut bietet ausländischen
Theatermachern mit Interesse an zeitgenössischer
deutscher Dramatik einen neuartigen und bequemen
Zugang zu übersetzten Stücken. Unter der Web-Adresse


www.goethe.de/theaterbibliothek

finden Interessenten eine Liste verfügbarer
Übersetzungen, die einfach und kostenlos per
E-Mail-Versand bestellt werden können. Zur Zeit
verfügt die Theaterbibliothek über 60 Titel von Igor
Bauersimas "norway.today" in Italienisch bis zu Urs
Widmers "Top Dogs" in Chinesisch. Das
Goethe-Institut plant, jedes Jahr etwa 30-50 neue
Übersetzungen in seine digitale Theaterbibliothek
aufzunehmen.

Die Förderung deutscher Dramatik im Ausland gehört
seit vielen Jahren zu den Aufgaben des
Goethe-Instituts. Allein im Jahr 2002 wurden dabei
28 Inszenierungen und über 50 szenische Lesungen
neuer deutschsprachiger Stücke im Ausland
unterstützt. Die Theaterbibliothek sammelt die dabei
entstandenen Übersetzungen und macht sie jetzt auch
weltweit verfügbar.

Der Verband Deutscher Bühnen- und Medienverlage
begrüßt die Initiative des Goethe-Instituts. Viele
Theaterverlage kündigten an, der Theaterbibliothek
weitere Übersetzungen digital zur Verfügung stellen
zu wollen.

Für Rückfragen steht Ihnen gerne zur Verfügung:

Zentrale München
Bereich 233 - Theater/Tanz
Martin Berg
Tel.: +49 89 159 21 238
Fax : +49 89 159 21 549
Email: berg@goethe.de


Lanny Tanulihardja
Programmabteilung
Goethe-Institut Inter Nationes
Jl. Sam Ratulangi 9-15
Jakarta Pusat
Tel. 021-235 50 208
Fax 021-235 50021
kultur@jak.goethe.de
www.goethe.de/so/jak

Jan 25, 2003

Para jawara SCOPA 2003

KATEGORI A (Brosur/Annual Report/Company Profile)
Karya-karya desain grafis yang masuk nominasi untuk KATEGORI A adalah dari Architec (Surabaya), Vaith Design Office (Surabaya) dan Le Bo Ye (Jakarta).

Pemenang: Le Bo Ye (Jakarta)

KATEGORI B (Invitation Card/Greeting Card)
Karya-karya desain grafis yang masuk nominasi untuk KATEGORI B adalah dari Paper Work (Jakarta), Vaith Design Office (Surabaya) dan Le Bo Ye (Jakarta).

Pemenang: Paper Work (Jakarta)

KATEGORI C (Calendar)
Karya-karya desain grafis yang masuk nominasi untuk KATEGORI C adalah dari ARCHITEC (Surabaya), Willy Wijaya (Surabaya) dan Le Bo Ye (Jakarta)

Pemenang: Le Bo Ye (Jakarta)

KATEGORI D (Corporate Identity)
Karya-karya desain grafis yang masuk nominasi untuk KATEGORI D adalah dari After Hours (Jakarta), Kritya Prado (Jakarta), PT. Arga Calista Design (Jakarta).

Pemenang: After Hours (Jakarta)

KATEGORI E (Yupo)
Karya-karya desain grafis yang masuk nominasi untuk KATEGORI E adalah dari Avigra (Jakarta), Head Line (Jakarta) dan Sugianto Handoyo (Jakarta)

Pemenang: Avigra (Jakarta)

PT. Surya Palace menggelar kompetisi rancang grafis "SCOPA 2003"

Jakarta, 24 Januari, 2003 - PT. Surya Palacejaya (SPJ) selaku penyelenggara kompetisi rancang grafis SCOPA 2003 pada malam ini, bertempat di Intercontinental Mid Plaza Hotel, akan mengumumkan para juara yang berhak meraih award dan hadiah-hadiah menarik lainnya. Dari sebanyak 386 karya peserta yang masuk ke panitia, telah berhasil dipilih 15 karya terbaik. Sebagian besar peserta datang dari Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Peserta lomba dibagi menjadi 5 kategori, dimana para pemenang dan karya terpilih masing-masing kategori berhak atas hadiah uang tunai, trophy dan sertifikat. Dari seluruh karya yang masuk nominasi, akan dipilih satu karya terbaik yang berhak meraih trophy SCOPA 2003 plus hadiah uang tunai (Overall Winner). Penilaian pemenang dilakukan oleh dewan juri yang terdiri dari para profesional independen. Aspek yang dinilai oleh tim juri mencakup estetika, fungsi, keindahan, kualitas cetakan, kreativitas dan keaslian dari suatu karya. Pada kompetisi tahun ini, 3 juri yang ikut berkiprah dalam penilaian adalah Hanny Kardinata (design consultant dari Jakarta), Priyanto Sunarto (dosen Desain Grafis ITB Bandung) dan Drs. Lintang Widyokusumo, MFA (Ketua Jurusan Desain Grafis Universitas Bina Nusantara Jakarta).






Materi yang diikut sertakan pada kompetisi rancang grafis SCOPA 2003 adalah beragam barang cetakan dengan bahan utama kertas seperti brosur (brochure), leaflet, poster, laporan tahunan (annual report), profil usaha (company profile), kartu undangan (invitation card), kartu ucapan (greeting card) dan kalender (calendar). Untuk materi identitas bisnis (corporate identity) seperti amplop, kartu nama dan compliment card, berpeluang meraih "Conqueror Awards". Sedangkan "Yupo Award" akan dipersembahkan untuk karya terbaik yang menggunakan kertas Yupo dari Jepang.

Untuk yang keempat kalinya, PT. Surya Palacejaya (SPJ) menggelar kompetisi rancang grafis yang terbuka bagi warga negara Indonesia. Lomba yang digelar selama tiga tahun sekali ini bertajuk SCOPA 2003 - Surya Palacejaya Creative On Paper Awards 2003. Sebelumnya SPJ pernah menggelar Scopa 1995, Scopa Café Tenda 1998, dan terakhir Scopa Millenium 2000. Sebagai distributor kertas berkualitas, SPJ memiliki komitmen terhadap perkembangan dunia rancang grafis di Indonesia. Salah satunya adalah dalam bentuk penyelenggaraan kompetisi rancang grafis.

"Tujuan utama kami menggelar SCOPA 2003 adalah untuk turut serta mengembangkan seni rancang grafis di Indonesia dan merangsang kreativitas insan seni perancang grafis untuk tetap berkreasi, walau di masa krisis ekonomi sekalipun," tutur Nachrudin Ramali, ketua panitia penyelenggara SCOPA 2003. Tak heran kalau tema yang diangkat dalam kompetisi kali ini yaitu "It's time to show off your magic talent" - inilah saat yang tepat untuk memamerkan kebolehan Anda melakukan 'sihir'. "Di tengah hantaman krisis ekonomi dimana banyak bisnis yang macet, kami berharap para perancang grafis dan orang-orang kreatif harus tetap terpacu imajinasinya seperti laiknya seorang penyihir," jelas Nachrudin. Ia juga berharap agar para perancang grafis tidak buntu ide.








Manajemen SPJ menyadari, bahwa maju mundurnya bisnis kertas tak lepas dari perkembangan seni rancang grafis dan teknologi cetak, seiring dengan selera masyarakat yang kian meningkat akan pilihan kertas bermutu tinggi. Untuk itulah, dengan adanya kompetisi ini manajemen SPJ berharap akan terjadi peningkatan kualitas dari karya para perancang grafis di Indonesia

Dipersiapkan oleh Bizzcomm!

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:
Sdr. Nachrudin Ramali
PT. Surya Palacejaya
Telp. : (021) 630-6106
Fax : (021) 631-9836
Website : www.suryapj.com