Oct 22, 2003

Sekilas tentang PT H.M. Sampoerna

PT H.M. Sampoerna Tbk., salah satu produsen rokok terkemuka di Indonesia, masuk dalam jajaran perusahaan keluarga terbesar di dunia yang masih tetap berkiprah dari generasi ke generasi. Sejarah perusahaan ini tak dapat dipisahkan dari keberadaan keluarga Sampoerna secara turun temurun. Kesuksesan diawali dari perintisan bisnis oleh Liem Seeng Tee, dilanjutkan kesuksesan Liem Swie Ling membangun pondasi bisnis yang kokoh, lalu kemudian diteruskan hingga kini oleh Putera Sampoerna dan Michael Joseph Sampoerna, putranya.

GENERASI PERTAMA

Sejarah perusahaan ini berawal jauh sebelum 1913 ketika Liem Seeng Tee dan isterinya, Tjiang Nio, mendirikan perusahaan dengan nama Handel Maastchapij Liem Seeng Tee yang kemudian berubah menjadi NV Handel Maastchapij Sampoerna (H.M. Sampoerna). Usai Perang Dunia II, nama perusahaan tersebut di-Indonesia-kan menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna dengan tetap menonjolkan inisial HM.

Kesempatan besar muncul pada awal 1916, ketika Liem Seeng Tee membeli berbagai jenis tembakau dalam jumlah besar dari seorang pedagang tembakau yang bangkrut bisnisnya. Sejak itu Liem Seeng Tee dan Tjiang Nio, isterinya, mencurahkan seluruh tenaganya untuk mengembangkan bisnis tembakau.

Ditengah situasi keuangan yang sulit, Liem Seeng Tee tetap bertekad menjadikan perusahaannya sebagai "Kerajaan Tembakau" dengan menempatkan karakter bahasa Mandarin "Wang" (yang dalam dialek Hokkian disebut "Ong") yang berarti "raja" di depan produk unggulannya 'Dji Sam Soe'. Kemudian ia menggabungkan simbol "Wang" dengan huruf Mandarin "Ren" yang berarti "orang", sehingga menghasilkan paduan kata yang bermakna "Sampoerna". Hal ini sangat jelas menggambarkan keinginan Liem Seeng Tee untuk menghasilkan produk tembakau yang terbaik dan meraih predikat sebagai 'raja rokok kretek'.

Sangat menarik untuk diketahui bahwa jumlah huruf pada merk 'Dji Sam Soe' adalah 9 dan bila angka "234" dijumlahkan juga akan menjadi 9. Selain itu, pada setiap kemasan 'Dji Sam Soe' terdapat 9 bintang bersudut sembilan. Jumlah huruf dalam angka "Sampoerna" juga ternyata 9. Ini berhubungan dengan kepercayaan di Cina Selatan tentang angka 9 sebagai angka keberuntungan.

Rangkaian produk awal yang dibuat Sampoerna antara lain 'Sampoerna Star', 'Summer Palace', dan 'Statue of Liberty'. Merk 'Sampoerna Star' termasuk salah satu rokok berfilter yang pertama di Indonesia.

Sejak awal Liem Seeng Tee bertekad untuk menghasilkan produk yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Dari rokok murah bermerk 'Djangan Lawan', sampai ke rokok yang berharga lebih mahal karena terbuat dari tembakau pilihan dan rempah alami.

Mulai awal 1940, bisnis PT H.M. Sampoerna terus tumbuh dengan pesat. Produksi gabungan rokok lintingan tangan dan lintingan mesin mencapai kurang lebih 3 juta batang setiap minggunya. Untuk melinting 'Dji Sam Soe' saja diperlukan sekitar 1.300 pekerja.

Perang Dunia II yang dimulai dengan pendaratan tentara Jepang di Pulau Jawa, memporak-porandakan asset perusahaan ini. Liem Seeng Tee ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara selama masa perang. Pabriknya digunakan oleh pasukan Jepang untuk membuat rokok bermerk 'Fuji'. Seusai perang, tiada secuilpun harta benda keluarga ini yang tertinggal selain merk 'Dji Sam Soe'.

Dengan berakhirnya pendudukan Jepang di Indonesia selama 3,5 tahun lamanya, keluarga ini perlahan-lahan mulai membangun kembali bisnisnya. Hal ini juga ditunjang dengan keberhasilan 'Dji Sam Soe' di pasar, sehingga pada 1949 kondisi usaha PT H.M. Sampoerna sudah dapat dikatakan pulih kembali.

Pada 1956, Liem Seeng Tee wafat dalam usia 63 tahun.

GENERASI KEDUA

Setelah wafatnya Liem Seeng Tee, roda perusahaan dijalankan oleh kedua puterinya, Liem Sien Nio dan Liem Hwee Nio, beserta suami masing-masing. Kerja keras mereka ternyata tidak memberikan hasil yang memuaskan karena terjadi perubahan politik dan keadaan ekonomi Indonesia yang kian memburuk pada akhir tahun '50-an dan awal '60-an.

Liem Swee Ling yang lebih dikenal dengan nama Aga Sampoerna, lalu memimpin tampuk perusahaan. Beliau adalah putra kedua dari pasangan Liem Seeng Tee dan Tjiang Nio. Masuknya manajemen Aga Sampoerna berbeda dengan almarhum ayahnya yang selalu hadir dan mengawasi proses pembuatan rokok dari awal hingga akhir. Aga memanfaatkan beberapa tenaga profesional pada tingkatan manajer. Kunci sukses Aga Sampoerna adalah pada kemampuan dan kemauannya untuk bekerja sama dengan semua tingkatan karyawan. Dengan modal kepiawaian berbicara dalam berbagai ragam bahasa, Aga Sampoerna dapat dengan mudah berbaur dengan seluruh pekerja dan membangun hubungan yang bersifat pribadi. Kepekaannya ini tampak dari upah pelinting di Sampoerna yang selalu paling tinggi di Jawa Timur.

Pada 16 Juni 1968, Aga Sampoerna mulai memproduksi rokok kretek bermerk 'Sampoerna A' di Denpasar, Bali. Kini merk tersebut lebih dikenal dengan sebutan 'Sampoerna Hijau'. Di masa itu pula muncul merk 'Panamas Kuning'. Kini sigaret kretek tangan buatan Surabaya tersebut lebih banyak beredar di wilayah Sumatra.

Aga Sampoerna wafat di Singapura pada tanggal 13 Oktober 1995.

GENERASI KETIGA

Putera Sampoerna, putera kedua Liem Swie Ling, mulai aktif dalam perusahaan pada awal '70-an. Lalu pada 1978, Putera dipercaya untuk mengelola pabrik baru di Malang. Namun usaha keras untuk mengembangkan perusahaan terhadang oleh kebakaran yang terjadi di pabrik Taman Sampoerna pada 1979. Akan tetapi dengan kerja keras seluruh karyawan, Sampoerna tetap dapat mempertahankan produksi rokoknya dari Malang. Dalam waktu 24 jam setelah kejadian itu, rokok 'Dji Sam Soe' kembali hadir di masyarakat, walau dalam jumlah terbatas.

Dengan kian berkembangnya perusahaan, ruang untuk produksi di Taman Sampoerna dan di Malang menjadi kian terbatas, sehingga pada 1982 manajemen memutuskan pemindahan pusat usaha ke kawasan industri Rungkut, Surabaya. Sejak saat itu, telah banyak prestasi yang berhasil dicetak, antara lain pendirian laboratorium kontrol untuk memenuhi standar internasional dan perolehan lisensi untuk transportasi komersial bagi PT Sampoerna Transportasi Nusantara (STN). STN dimanfaatkan untuk keperluan distribusi produk-produk Sampoerna. Pada 1989, muncul ide brilian Putera Sampoerna dalam mengembangkan jajaran merk rokok berlabel 'A', ditandai dengan peluncuran A Mild - rokok dengan kadar tar dan nikotin terendah. Produk ini meraih sukses di pasaran karena dapat memenuhi keinginan masyarakat luas yang kian berpikiran modern. Selain itu, masih ada beberapa merk rokok lainnya yang diproduksi PT H.M. Sampoerna di masa kepemimpinan Putera Sampoerna, diantaranya adalah merk 'A International'.

Keberhasilan lainnya adalah dengan terdaftarnya PT H.M. Sampoerna sebagai perusahaan publik pada 27 Agustus 1990. Ketika itu, PT. H.M. Sampoerna Tbk berhasil menjual sahamnya sebanyak 27 juta lembar dengan harga Rp 12,600 per lembar saham. Sejak saat itu, saham PT H.M. Sampoerna Tbk selalu menduduki lapisan saham papan atas (blue chip).

GENERASI KEEMPAT

Pada 27 Juni 2001, Michael Joseph Sampoerna menduduki posisi sebagai Presiden Direktur sekaligus sebagai Chief Operating Officer dan Chief Financial Officer PT. H.M. Sampoerna Tbk.

Sedangkan Putera Sampoerna kini tetap aktif di perusahaan sebagai Presiden Komisaris PT HM Sampoerna Tbk.

No comments: