Aug 26, 2004

BAPPEBTI menggelar seminar bertajuk "Prospek Perdagangan Berjangka di Indonesia"

Jakarta, 26 Agustus 2004 - Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) pada hari ini menggelar seminar bertajuk "Prospek Perdagangan Berjangka di Indonesia". Kepala BAPPEBTI membuka acara tersebut sekaligus menyampaikan presentasi berkaitan dengan peran BAPPEBTI dalam mengembangkan Perdagangan Berjangka.

"Acara seminar ini merupakan bagian dari program sosialisasi perdagangan berjangka kepada masyarakat Indonesia," tutur Ardiansyah Parman, kepala BAPPEBTI. "Kami ingin selalu terus menerus meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai perdagangan berjangka," tambahnya. Para pembicara dalam seminar ini selain kepala BAPPEBTI adalah Hasan Zein Mahmud (direktur utama Bursa Berjangka Jakarta), Surdiyanto Suryodarmodjo (direktur utama Kliring Berjangka Indonesia), dan Roy Sembel, selaku pengajar UBINUS dan pengamat Perdagangan Berjangka.

Pada kesempatan ini, Kepala BAPPEBTI membahas topik utama tentang pokok-pokok pengaturan dan pelaksanaan, serta penjaminan transaksi di bursa berjangka, dasar terciptanya pasar berjangka dan pengaruhnya bagi perekonomian nasional, hubungan pasar berjangka dengan UKM, dan upaya BAPPEBTI menjadi fasilitator pengembangan pasar berjangka. Ardiansyah mengakui bahwa perdagangan berjangka merupakan kegiatan bisnis yang kompleks, berisiko tinggi dan melibatkan banyak pihak di dalamnya. "Oleh karena itu, perlu dasar hukum yang kuat untuk memberi kepastian hukum dan melindungi masyarakat dari praktek-praktek perdagangan yang merugikan."

Menurut Ardiansyah, pengaturan dalam industri perdagangan berjangka meliputi dua lapis pengaturan. Lapis pertama dilaksanakan Bursa Berjangka dan Lembaga Kliring Berjangka dengan menekankan pada perlindungan kepentingan anggota dan pasarnya sendiri. Pengaturan lapis kedua adalah pengaturan yang dilakaksanakan BAPPEBTI yang mewakili pemerintah.


Pembicara lainnya, Hasan Zein Mahmud yang mewakili Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) akan membedah profil pemain di BBJ, portofolio BBJ dibandingkan bursa berjangka di luar negeri, dan kiat BBJ menyikapi trend perdagangan berjangka serta kesiapannya dalam memasuki era AFTA. Surdiyanto Suryodarmodjo selaku direktur utama Kliring Berjangka Indonesia (KBI) akan menyajikan informasi tentang pentingnya peran badan kliring dalam pelaksanaan pasar berjangka.

Terakhir, Roy Sembel selaku pengamat yang menjadi pembicara terakhir, akan membahas persepsi masyarakat terhadap pasar berjangka, posisi pasar berjangka dibandingkan alternatif investasi lainnya, dan strategi memasyarakatkan pasar berjangka di Indonesia.

Sebagai catatan, perdagangan berjangka di Indonesia kian marak dan menunjukkan arah positif dengan beroperasinya Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) sekitar 4 tahun lalu - tepatnya pada 15 Desember 2000. Pendiri BBJ adalah 4 perkebunan sawit, 7 pabrik minyak goreng, 8 pengekspor kopi, 8 perusahaan sekuritas, dan 2 pedagang barang-barang umum. Kontrak berjangka yang saat ini diperdagangkan di Bursa Berjangka Jakarta selaku penyelenggara perdagangan berjangka yang telah memperoleh izin dari BAPPEBTI adalah kontrak berjangka produk hasil pertanian (olein, CPO, dan kopi robusta), produk pertambangan (emas), dan produk finansial (mata uang, indeks gabungan saham yang diperdagangkan di Bursa Berjangka luar negeri).

Tentang Perdagangan Berjangka
Menurut UU Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi - sebagai landasan hukum pelaksanaan perdagangan berjangka di Indonesia - perdagangan berjangka (futures trading) adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan jual beli komoditi yang penyerahannya dilakukan kemudian berdasarkan kontrak berjangka atau opsi atas kontrak berjangka. Perdagangan berjangka berlangsung hanya di pasar-pasar yang terorganisasi atau dikenal sebagai Bursa Berjangka (disingkat Bursa).

Bursa memperdagangkan kontrak berjangka untuk berbagai komoditas, seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, atau produk-produk finansial seperti mata uang (currency), bahkan indeks seperti indeks saham. Sebagai pasar yang terorganisasi, transaksi di Bursa hanya dilakukan anggota bursa yang terdiri dari Pialang Berjangka dan Pedagang Berjangka. Para pengguna Bursa yang bukan anggota Bursa tetapi ingin memanfaatkan Bursa untuk tujuan lindung nilai (hedging) atau investasi (spekulasi) harus menyalurkan keinginannya tersebut melalui anggota Bursa yang berstatus Pialang Berjangka.

Ada dua fungsi utama perdagangan berjangka, yaitu sebagai sarana pengelolaan risiko (risk management) melalui kegiatan lindung-nilai (hedging) dan sebagai sarana pembentukan harga (price discovery) yang transparan dan wajar. Harga yang terjadi di pasar berjangka mencerminkan konsensus antara sejumlah besar pembeli dan penjual yang memiliki kesempatan sama untuk melakukan penjualan/pembelian di pasar.

Adanya pasar berjangka pun dapat membantu integrasi pasar-pasar lokal ke dalam pasar nasional, bahkan internasional. Dengan terintegrasikannya pasar-pasar lokal, harga di berbagai tingkat pemasaran yang berbeda akan bergerak mendekati pasar nasional dan internasional. Hal itu akan menjamin harga komoditas yang lebih realistis. Harga yang terjadi di Bursa umumnya menjadi acuan (reference price) dunia usaha - termasuk produsen/pengusaha kecil dan petani - dalam melakukan transaksi di pasar fisik. Selain dari dua fungsi tadi, perdagangan berjangka dapat dimanfaatkan juga sebagai alternatif investasi. Kelompok yang memanfaatkan Bursa untuk tujuan investasi adalah kelompok yang dikenal sebagai investor atau spekulator. Mereka memanfaatkan adanya perubahan harga untuk mencari keuntungan, yaitu membeli kontrak berjangka pada saat harga rendah dan menjualnya kembali pada saat harga lebih tinggi.


Tentang BAPPEBTI
Kehadiran perdagangan berjangka di Indonesia diawali terjadinya berbagai kasus penipuan pada dekade 70-an yang dilakukan beberapa perusahaan komisioner (commission house) yang menjalankan kegiatan penyaluran amanat (order) kontrak berjangka komoditi dari nasabah di dalam negeri ke bursa berjangka di luar negeri. Pada praktiknya, amanat ternyata tidak disalurkan ke bursa luar negeri dan banyak dana nasabah yang dilarikan. Akhirnya pada akhir 1977, Menteri Perdagangan saat itu melarang kegiatan perdagangan berjangka komoditi dengan penyerahan kemudian. Pandangan negatif tentang perdagangan berjangka di Indonesia pun sulit dihindari.

Meski demikian, berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Bank Dunia, keberadaan perdagangan berjangka penting dalam menunjang perekonomian nasional pada umumnya. Berdasarkan hal tersebut, serta setelah melalui proses yang cukup rumit dan panjang, akhirnya bulan Desember 1997 lahir Undang-Undang No 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. Berdasarkan UU itu, kedudukan BAPEBTI sebagai Badan Pelaksana Bursa Komoditi yang semula dibentuk berdasarkan PP Nomor 35/1982 berubah menjadi BAPPEBTI yang merupakan singkatan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. Kurang lebih tiga tahun kemudian, tepatnya tanggal 21 November 2000, izin usaha bursa berjangka pertama di Indonesia diterbitkan. Perusahaan yang ditetapkan sebagai pengelola bursa berjangka pertama adalah PT Bursa Berjangka Jakarta (disingkat BBJ). Pada 15 Desember 2000, untuk pertama kalinya BBJ membuka perdagangan di lantai bursa dengan memperdagangkan dua kontrak komoditas, yaitu crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit/olein dan kopi robusta.

Dipersiapkan oleh BizzComm!

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:

Sdr. Made Soekarwo
Kabag Humas & Kerjasama BAPPEBTI
Telp: (021) 315-6315
E-mail: made@bappebti.go.id