Dec 23, 2005

Koran masih bisa berevolusi

Koran masih bisa berevolusi
 
Azrul Ananda, Pemimpin Redaksi Jawa Pos
 
Mungkin, nama Azrul Ananda belum terlampau dikenal di industri media.
Tapi, belakangan ini pria kelahiran Samarinda, 28 tahun ini mendapat
sorotan dari kalangan pebisnis media. Pasalnya, putra CEO Grup Jawa
Pos, Dahlan Iskan ini tengah menakhodai koran Jawa Pos, sebagai
Pemimpin Redaksi sejak 1 September 2005. Terobosan apa yang akan
dilakukan Azrul yang akrab disapa Ulik ini untuk mengembangkan koran
Jawa Pos?
 
Berikut pengakuan blak-blakan jebolan cum laude jurusan marketing
California State University Sacramento, AS pada tahun 1999 kepada
CAKRAM.
 
Bagaimana perkembangan terkini dari Grup Jawa Pos?
 
Sebagai Grup, Jawa Pos terus tumbuh dan berkembang. Jumlah terbitan di
bawah bendera ini juga sudah dikisaran angka 100, dari Aceh sampai
Papua. Kebanyakan merupakan perintis dan market leader di kawasan
masing-masing, sehingga sebagai network Jawa Pos merupakan yang
terbesar di Indonesia.
 
Menurut AC Nielsen terakhir, market share koran Jawa Pos di kawasan
Surabaya dan Jawa Timur sekitar 80 persen. Padahal tahun 2000 dulu
sekitar 70 persen. Berarti dari dominan ke makin dominan.
Bagaimana Anda terjun di bisnis media? Apakah karena "dipaksa" sang
Ayah atau ada alasan lain?
 
Tidak pernah menjadi cita-cita saya untuk terjun di dunia ini. Bahkan,
orang tua saya dulu berusaha untuk menjauhkan saya dari dunia media.
Lulus SMP tahun 1993, langsung dikirim ke Amerika. Walau mungkin ada
menurun bakat menulis, karena saya sudah aktif menulis cerpen sejak
kelas IV SD, dimuat di berbagai majalah.
 
Mungkin terjun di dunia ini sudah jadi garis hidup. Saya dan Abah
(panggilan Ulik ke Pak Dahlan) sering tertawa kalau ingat waktu saya
kali pertama dikirim ke Amerika. Saya pergi sebagai siswa pertukaran,
semacam bea siswa. Jadi tidak tahu bakal tinggal di mana, sama siapa,
dan sekolah di SMA mana. Ternyata, saya dikirim ke sebuah kota kecil
Ellinwood, di negara bagian Kansas. Di sana saya tinggal dengan
keluarga angkat, John dan Chris Mohn seorang pemilik koran lokal,
Ellinwood Leader. Jadilah saya belajar tentang koran. Mulai dari
fotografi, layout, manajemen, reportase, dan lain-lain.
 
Sejak kapan mulai terlibat di koran Jawa Pos?
 
Saya lulus kuliah di Sacramento, 1999. Waktu pulang, niatnya hanya
setahun mencari pengalaman, lalu balik untuk S-2. Sampai saat itu,
saya hanya kontributor Jawa Pos, khusus menulis tentang balap mobil
Formula 1 (hobi utama). Nah, waktu pulang awal tahun 2000 itu saya
membesarkan halaman DetEksi, seksi khusus  anak muda, yang digarap
oleh anak-anak muda seperti saya waktu itu (22 tahun). Awalnya halaman
itu mendapat reaksi keras, karena mengambil sikap anti-orang tua
(ha.ha.ha.!). Tapi kemudian menjadi salah satu andalan Jawa Pos sampai
sekarang. Setahun DetEksi, saya pegang halaman kota atau Metropolis.
Dianggap OK di sana, setahun kemudian saya berlanjut lagi di Halaman
Utama, selama 1,5 tahun. Saya mungkin paling bangga dengan dua halaman
terakhir itu, karena waktu Metropolis ada kasus besar impeachment
wali kota, dan waktu di Halaman Utama fokus ke liputan perkembangan
kasus Bom Bali. Setelah itu floating, ikut merombak halaman Show &
Selebriti, sambil masih terlibat di berbagai halaman lain di Jawa Pos.
 
Latar belakang pendidikan Anda adalah marketing, bagaimana Anda
memanfaatkannya? Atau justru terbuangkah?
 
Oh tidak. Saya juga terlibat di marketing selama dua tahun terakhir.
Saya juga ditunjuk di Tim Kamisan, semacam Think Tank di Jawa Pos.
Kamisan ini berhak membuat keputusan apa saja, dengan catatan tidak
dilarang oleh direksi dalam waktu 24 jam. Kamisan ini melibatkan semua
lini, mulai redaksi, umum, keuangan, iklan, pemasaran, percetakan.
Sehingga semua program bisa digarap secara sinergi.
 
Visi dan misi Anda dalam mengembangkan koran Jawa Pos, dari sisi
bisnis ataupun konten?
 
Jawa Pos ini punya sesuatu yang istimewa sejak awal, dari Pak Dahlan. Bahwa koran daerah tidak harus kalah dari koran nasional, bahkan bisa lebih hebat dan lebih inovatif dari yang di Ibu Kota. Koran juga tidak sekadar
menyajikan berita, tapi ikut membantu mengembangkan potensi kawasan
tempat koran itu terbit.
 
Misi saya yang pertama adalah meneruskan misi tersebut. Secara
pribadi, tentu ingin melihat Jawa Pos lebih maju lagi. Selalu
melakukan hal-hal yang baru dan inovatif. Karena saya tergolong fresh,
semoga saja ide-idenya memang fresh, tidak terjebak pada konsep-konsep
koran gaya lama.
 
Banyak kalangan menilai anda "anak bawang" dalam bisnis media.
Apalagi, Anda dinilai kurang berpengalaman pada profesi jurnalistik
tapi dengan cepat menjabat posisi pemimpin Redaksi? Bagaimana komentar
Anda?
 
Saya juga mengakui kalau saya anak bawang, ha ha ha. Nggak apa-apa,
saya sudah biasa kok dianggap seperti itu. Tapi yang kenal saya tentu
tahu saya ini seperti apa. Sekali lagi, tidak pernah jadi cita-cita
saya jadi Pemimpin Redaksi, hanya mengalir begitu saja. Teman-teman di
Jawa Pos juga sering bercanda  soal itu. Situasi di sini sangat
egaliter.  Yang mereka tahu, bahwa saya cinta Jawa Pos, saya sayang
sama teman-teman, dan kita bekerja bersama.
 
Kendala-kendala dan masa sulit yang Anda hadapi ketika mengelola
bisnis ini? Bagaimana Anda bisa bangkit dari situasi sulit tersebut?
 
Wah, setiap hari itu ada kendala. Kalau  tidak namanya tidak hidup.
Tahun pertama mungkin sulit, karena waktu itu saya terlibat di
DetEksi, konsep halaman yang sebelumnya belum pernah ada di Indonesia,
bahkan mungkin di dunia. Baik eksternal maupun internal banyak
menanyakan apa guna dan fungsi halaman ini. Baru setelah eksis dan
terlibat pengaruhnya, orang baru percaya bahwa DetEksi produk
istimewa. Lalu di Metropolis dan Halaman Utama, karena saya terlibat
dengan berita-berita "keras" secara intens untuk kali pertama.

Kuncinya sebenarnya tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Tetap
bekerja keras. Sukses akan datang dengan sendirinya. Abah juga selalu
mengajarkan itu. Uang dan kesuksesan tak perlu dikejar, asal kerja
keras dengan hati tulus, akan datang dengan sendirinya.
 
Menurut Anda tren media yang berkembang di Indonesia ke depan akan
seperti apa? Bagaimana Jawa Pos menyikapi?
 
Dulu, waktu saya pulang, banyak yang bilang era koran itu bakal habis.
Ada TV dan internet yang bakal menggusurnya. Tapi saya tidak percaya
itu. Saya percaya koran akan terus eksis. Tinggal bagaimana
memposisikan diri. Kalau dulu hanya news, sekarang harus lebih yang
lain-lainnya. Nantinya pasti akan berubah terus, menyesuaikan dengan
situasi dan kondisi yang ada. Jawa Pos akan lebih muda dan cepat dalam
menyikapi perjalanan waktu dan situasi.
 
Terobosan yang akan Anda lakukan lima tahun ke depan untuk koran Jawa
Pos?
 
Saya ingin Jawa Pos terus berinovasi, menciptakan hal-hal baru yang
sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Bahwa koran masih bisa berevolusi,
menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
 
Obsesi Anda selanjutnya di bidang usaha ataupun pribadi?
 
Mengembangkan Jawa Pos. Saya juga punya cita-cita jadi stand-up
comedian, bikin film komedi, bikin sitkom. Mungkin nanti, ha ha ha...
Soal cita-cita lain, jadi komentator F1, sudah tercapai. Tapi sekarang
saya sudah berhenti, soalnya sudah tercapai, mau berkembang ke mana
lagi? Ha ha ha. Banyak yang menyayangkan keputusan saya berhenti jadi
komentator, tapi saya sudah berjanji akan fokus ke Jawa Pos.      
 

Sumber: Majalah Cakram edisi Oktober 2005
 
 


Ungkapkan opini Anda di:

http://mediacare.blogspot.com

http://indonesiana.multiply.com


Yahoo! Photos
Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays, whatever.

Nov 30, 2005

Program Gedung Kesenian Jakarta - Desember 2005

PROGRAM GEDUNG KESENIAN JAKARTA
DESEMBER 2005

PENGANTAR/FOREWORD

Salam Budaya,


Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa, kita sudah menuju ke penghujung
tahun, bulan Desember 2005. Waktu yang hampir genap setahun berjalan
menjadi bagian untuk dicermati. Sambil berjalan, Gedung Kesenian Jakarta
terus berusaha meningkatkan kinerjanya. Sebagai tempat berkesenian yang
bergengsi, memang bukan pekerjaan yang mudah dalam menghidupkan sebuah
gedung pertunjukan seperti Gedung Kesenian Jakarta, di tengah
persaingan yang begitu ketat seiring hadirnya tempat pertunjukan kesenian yang
makin marak di ibu kota Jakarta ini. Program-program pun menjadi modal
utama yang sarat kualitas dan makna, bagi peningkatan apresiasi
masyarakat terhadap seni pertunjukan. Begitu pula sarana fisik serta fasilitas
yang ada pun menjadi alat penting dalam mewujudkan hadirnya pementasan
seni pertunjukan yang berbobot dan variatif, ditunjang oleh sinergi
kerja yang tentunya harus terus ditingkatkan pula.

Untuk menutup tahun 2005, GKJ mengawalinya dengan pementasan Drama
Musikal Minahasa-Mapurengkey dengan judul TOAR DAN LUMIMUUT dengan
sutradara Remy Sylado, yang mengangkat budaya Minahasa sebagai sumber
inspirasi.

Jakarta World Music Festival hadir untuk pertama kalinya sebagai bagian
dari musik Indonesia yang makin berkembang mengimbangi kemajuan
perjalanan teknologi yang semakin aduhai dan canggihnya. Dialog budaya melalui
musik ditampilkan oleh seniman musik dari berbagai generasi dalam genre
yang berbeda pula, mudah-mudahan ini dapat menjadi acuan dalam
meningkatkan kreativitas bagi lahirnya karya-karya musik sebagai bagian dari
karya seni Indonesia.

Perkenankanlah kami selaku pimpinan dan seluruh karyawan Gedung
Kesenian Jakarta mengucapkan SELAMAT HARI NATAL 25 Desember 2005 bagi yang
merayakannya dan SELAMAT TAHUN BARU 1 JANUARI 2006 bagi kita semua.
Maafkan jika ada kesalahan dan kekurangan kami dalam melayani para sahabat,
relasi, pecinta seni serta adik remaja yang telah berpartisipasi dalam
berkesenian di Gedung Kesenian Jakarta sepanjang tahun 2005 ini.

Semoga Tuhan selalu melindungi dan menyertai kita dalam menyongsong
Tahun Baru 2006.



Marusya N.F. Nainggolan, MA

Direktur

_______________________________________________________

Jumat-Sabtu, 2-3 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Friday-Saturday, December 2-3, 2005 - 8pm


Drama Musikal Minahasa-Mapurengkey

TOAR DAN LUMIMUUT

Sutradara/Directed: Remy Sylado

Produksi/Production: Lembaga Kebudayaan Sulawesi Utara-Dapur Teater
Remy Sylado



Ditengah kedigdayaan era globalisasi yang menembus batas wilayah dan
budaya suatu bangsa, masyarakat Sulawesi Utara, khususnya yang tergabung
dalam Lembaga Kebudayaan Sulawesi Utara (LKSU) bersama Dapur Teater
Remy Sylado mengangkat salah satu seni tradisional Minahasa yaitu
Mapurengkey, dengan kisah "Toar dan Lumimuut". Dikemas dalam bentuk drama
musikal, perpaduan antara sastra, musik dan tari, hingga menjadi tontonan
teatrikal yang menarik dan dapat dinikmati masyarakat umum, khususnya
pencinta seni teater.

Mapurengkey adalah bentuk seni tradisional Minahasa yang
makin punah, karena khalayak penikmatnya dan yang mengapresiasi cenderung
langka. Bila ditilik dari bentuk teater dalam wacana teater Barat
dianggap 'teater total', yakni terpadunya antara sastra, musik dan tari,
maka mapurengkey merupakan contoh paling kasatmata dengan
kemungkinan-kemungkinan estetik yang leluasa di satu pihak dan etik yang terbatas di
lain pihak. Pergelaran ini juga didukung dengan sumber tulis Cina, Gu Shi
Nan Bei Fang.



Tickets price: Rp 75.000,- : Rp 50.000,- & Rp 35.000,-





Rabu & Jumat, 7 & 23 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Wednesday & Friday, December 7 & 23, 2005 - 8pm


KOMEDI BETAWI

Sutradara/Directed: Syaiful Amri

Penata Musik/Music Director: Andi Suhandi

Penata Panggung/Stage Manager: Djudjun Cs.

Pemain/Players: H. Bolot, H. Bodong, Hj. Nori, Edi Oglek, Rini SBB,
Kubil, Rita Hamzah, Rudi Sipit, jaya, Madih, dll.

Bintang Tamu/Guest Stars: Artis-artis Ibukota



MESSTER (7 Desember 2005)

Keserakahan dan kesenangan kerap terjadi dimana-mana dalam situasi
apapun. Sayangnya ini dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung
jawab dan tanpa wujud nyata, korbannya orang-orang yang tidak bersalah.
Demikian pula yang terjadi dengan si Pitung, namanya dijadikan kambing
hitam setiap ada keonaran oleh kelompok orang pengecut tak bertanggung
jawab.



MACAN KEMAYORAN (23 Desember 2005)

Penindasan tak ada habisnya. Tak perduli sesama anak bangsa demi
kekuasaan, hati nurani menjadi buta. Korban pun berjatuhan, ibarat
peribahasa, siapa yang menanam bibit dia yang akan menuai. Adalah Macan
Kemayoran, seorang pribumi yang berani melawan kezoliman tanpa pamrih demi
harkat dan harga diri bangsa khususnya warga Betawi.



Invitation/Information: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Prop. DKI
Jakarta, T. (021) 5263236





JAKARTA WORLD MUSIC FESTIVAL 2005

Gedung Kesenian Jakarta, 9 s.d. 16 Desember 2005



Jumat, 9 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Friday, December 9, 2005 - 8pm


NERA

Gilang Ramadhan, drum

Donny Suhendra, gitar

Adi Darmawan, bass

Krisna Prameswara, keyboard

Ivan Nestorman, vocal

Featuring: Indra Lesmana, Trie Utami



Nera yang artinya "sinar", adalah sebuah band yang dibentuk untuk
mengakomodasi keinginan pendukungnya membuat sesuatu yang baru, unik, kaya
musikal namun groovy, popular dan dapat mengiringi gerak tari. Grup yang
dimotori Gilang Ramadhan dalam album pertamanya banyak mengeksplorasi
ritmis khasanah tradisi nusantara dengan dominasi drum selain sentuhan
vokal yang macho dari Ivan Nestorman asal Flores juga didukung musisi
bereputasi yang dikenal luas pecinta musik, khususnya jazz dan world
music.

Mungkin, ini bagian dari kegelisahan musisi. Mencari
formulasi dan menemukan sesuatu yang berbeda di dunianya, musik.



Tickets price: Rp 75.000,- & Rp 50.000,-





Senin, 12 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Monday, December 12, 2005 - 8pm


DISCUS

Iwan Hasan, gitar, 21 string harpguitar, keyboards, vocal

Fadhil Indra, Keyboards, rindik, kempli, gong, electronic percussion,
vocal

Anto Praboe, clarinet, flute, suling, puik-puik, bass clarinet,
saxophones, vocal

Eko Partitur, violin, vocal

Kiki Caloh, bass

Hayunaji, drums, tawo-tawo

Krisna Prameswara, keyboards

Yuyun, vocal



Discus, sebuah band yang memilih jalur progresif sebagai ajang
kreativitas, mengawali debutnya di mancanegara dan meraih sukses luar biasa.
Formasi lengkap terbentuk tahun 1996, album pertama "1st" dirilis
perusahaan rekaman Italia, Mellow Records, tahun 1999 dan mendapat ulasan dari
majalah-majalah musik di Amerika Serikat, Perancis, Brazil, Belgia dan
Italia, sangat baik. Tampil di festival musik progresif Amerika
Serikat, ProgDay 2000, North Carolina USA dan beberapa kota. Tahun 2001
diundang tampil di festival Baja Prog V, Mexico. Album kedua ".tot licht!"
dirilis perusahaan rekaman Perancis, Musea Records, tahun 2003. Di tanah
air, Discus menerima penghargaan AMI-Samsung Award kategori musik
progresif untuk pertama kalinya, tahun 2004. Oktober 2005 Discus diundang
tampil dalam festival ProgSol Switzerland serta konser di Jerman dan
mendapat sukses. Tahun 2006 mendatang, Discus diundang tampil pada festival
Zappanale di Jerman, sebuah festival tahunan terbesar untuk menghormati
komponis Frank Zappa, dan satu-satunya grup musik Asia yang akan tampil
di festival tersebut.

Penampilan Discus di GKJ kali ini akan didukung oleh
bintang tamu Kompiang Raka, penyanyi jazz Andien, penyanyi pop Fadly dari
band Padi dan growler metal Krisna Suckerhead.



Tickets price: Rp75.000,- & Rp 50.000,-





Selasa, 13 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Tuesday, December 13, 2005 - 8pm


SAPTO RAHARDJO - INNISISRI

KALANGAN II


Musisi/Musicians: Innisisri, Sapto Rahardjo, SP. Joko, Azied Dewa



Bertolak dari pemahaman akan ekplorasi bunyi dan ritmik sebagai bagian
dalam pergelaran, jarak bukan lagi kendala buat mereka untuk menyatukan
karya yang sama sekali belum pernah dipertemukan. Perkusionis Innisisri
dan ahli gamelan/techno Sapto Rahardjo yang sangat terkenal di blantika
musik Indonesia bersama musikus serba bisa Joko dan Azied (personil
Kiai Kanjeng) mencoba mewakili potensi kreatif bangsa kita dalam merespon
arus kebudayaan modern yang hadir dengan jubah musik kontemporer. Bila
musisi atau komponis bicara lewat bahasa musik dan mengacu pada aspek
kreatifnya, bukan berarti aspek komersial harus ditinggalkan, yang
tersaji adalah ekplorasi bunyi sebagai tonggak pementasan.



Tickets price: Rp 50.000,- & Rp 40.000,-





Rabu, 14 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Wednesday, December 14, 2005 - 8pm


RAHAYU SUPANGGAH & KOMUNITAS BUNYI I LA GALIGO



Rahayu Supanggah is an international acclaimed Indonesian composer who
is leading pioneer of New Music in Indonesia. He has composed and
collaborated with impressive coterie of artist, directors, choreographers
worldwide in the field of music, film and dance.

Kali ini Komunitas Bunyi I La Galigo akan menbawakan beberapa karya
antara lain: Pra Bumi, Dunia Mula-Mula, Menggantung Asa, Elong Osong,
Batik-batik, Voyage, Mawar Mekar.



Tickets price: Rp 50.000,- & Rp 40.000,-





Jumat, 16 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Friday, December 16, 2005 - 8pm


IKJ World Music

Vonty S Nahan - Pongki Nuzirwan - Epi Martison


SUNGAI KAHAYAN II

Komposisi: Vonty S. Nahan

HANYA MANUSIA, CAPUNG

Komposisi: Pongki Nuzirwan

BETAWI PLUS

Komposisi: Epi Martison



Tiga komposer alumni IKJ jurusan musik tampil bersama, Vonty S. Nahan,
Pongki Nuzirwan dan Epi Martison. Vonty menampilkan "Sungai Kahayan II"
sebuah komposisi musik tentang kerusuhan/peperangan antar suku
berdasarkan musik pentatonik Kalimantan: la, do, re, mi, sol. Pongki
menampilkan dua komposisi; "Hanya Manusia" kombinasi musik tradisi dan modern,
berkisah tentang manusia yang serba kekurangan, dan berusaha menemukan
kehidupan yang terbaik, namun semua itu tak terlepas takdir Tuhan yang
menentukan semuanya. "Capung" sebuah komposisi tentang penghijauan, alam
yang bersih merupakan suatu kebutuhan hidup jika kita ingin tetap
sehat. Dan Epi menampilkan "Betawi Plus", komposisi musik untuk perkusi,
berkembang dari musik tradisi Betawi, satu garis terisi beragam motif dari
tehyan, gambang, kendang dan instrumen perkusi non Betawi. Motif dan
pola rhythm tersebut merupakan kombinasi dari kontras dinamika pada
bagian perkusi.



Tickets price: Rp 50.000,- & Rp 40.000,-





Pimpinan dan Staf Gedung Kesenian Jakarta

Mengucapkan

Selamat Natal & Tahun Baru 2006


GEDUNG KESENIAN JAKARTA
Jalan Gedung Kesenian No.1, Jakarta 10710.

T. (021) 3808283, 3441892 - F. (021) 3810924

E-mail: gkj@pacific.net.id
Website: www.gkj-online.com



Ungkapkan opini Anda di:

http://mediacare.blogspot.com

http://indonesiana.multiply.com


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

Nov 24, 2005

Goenawan Mohamad: Azahari dan Indonesia

Sekadar cerita:
 
"Boom...boom...boom.....!" Bom bunuh diri meledak di berbagai tempat.
Saya kaget, Anda kaget, semua kaget. Termasuk Goenawan Mohamad (GM), penulis
'Catatan Pinggir' di Majalah Tempo, juga ikut terkaget-kaget. Tak heran
kalau ia langsung menuliskan opininya bertajuk "Azahari dan Indonesia".
Sebenarnya sudah sejak kemarin saya terima email darinya, mohon maaf
baru sempat saya sampaikan kepada Anda pada hari ini.
 
Agaknya teror demi teror akan terus menghantui kita. Bayangkan, muncul
berita bahwa pasukan pengebom bunuh diri yang berjumlah sekira seribu
orang siap beraksi. Noordin Top masih gentayangan cari mangsa. Lalu muncul lagi kabar bahwa Azahari dan Noordin Top itu cuma 'kroco'. Artinya mereka
punya bos yang tetap memperluas dan mengukuhkan jaringan dengan merekrut tenaga-tenaga baru yang siap berjihad untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka.
 
Kebetulan, kemarin saya ngobrol dengan seorang tetangga yang baru dua tahun
lalu lulus SMA. Ia yang asli Betawi bercerita bahwa seorang temannya pernah diajak
oleh kawan lamanya untuk 'berguru' di sebuah rumah di kawasan Pasar
Minggu, Jakarta Selatan. Tiap malam mereka berkumpul dan 'diisi' -  berupa khotbah dan bacaan-bacaan. Belum satu minggu 'diasramakan', si  pemuda kabur ketakutan, ngumpet di rumah neneknya agar tak dijemput oleh anggota kelompok itu. Rupanya ia ngeri di-bai'at. Katanya, sekali bersumpah, akan susah lepas. Mereka juga diiming-imingi uang saku dan  hadiah sebuah sepeda motor. Tapi apa artinya semua itu kalau akhirnya nyawa melayang saat bom yang ia bawa meledak? Apa betul mereka akan masuk surga, walau sudah merenggut sejumlah nyawa orang-orang yang tak berdosa?
 
Duh Gusti, hidup rasanya jadi tak lagi nyaman. Rasa ketakutan menyelimuti
kita semua. Lengah sedikit, nyawa taruhannya, entah nyawa kita, nyawa kerabat kita, atau nyawa orang-orang yang tak kita kenal.  Lalu siapa sebenarnya dalang dan pendana dari serangkaian teror itu?  Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit terjawab, entah kapan bisa terkuak.

Ikut kaget,

Radityo Djadjoeri
e: radityo_dj@yahoo.com
 
____________________________________________________________________

Azahari dan Indonesia
Oleh Goenawan Mohamad
 
Azahari dan Noordin Top masuk diam-diam dari Malaysia ke Indonesia,
dan ‘membaur’ dengan orang setempat. Mereka bukan orang asing, jika
‘asing’ berarti ‘ganjil’ dan ‘tak dikenal’. Tapi mereka bukan orang
sini. 
 
Mereka merekrut orang lokal yang dilatih untuk meledakkan bom, membunuh
orang secara acak, dan sejak itu Indonesia pun terjerembab. Sejak itu
negeri ini, yang  kita nyanyikan sebagai negeri ‘aman sentausa’, jadi
tempat yang dianggap tak aman dan tak sentausa. 
 
Tentu saja Azahari dan Noordin Top mengatakan mereka melawan Amerika
Serikat dan Zionisme. Tentu saja mereka akan mengatakan jihad mereka
adalah bagian dari perang global yang kini berkecamuk. Tapi pada
akhirnya yang terluka bukanlah Amerika Serikat atau Israel, melainkan
Indonesia -- sebuah negeri yang bagi kedua orang Malaysia itu tak punya
makna apa-apa.
 
Mereka memang bukan orang sini.  Kata ‘sini’ mengimplikasikan sebuah
perbatasan, antara ‘dalam’ dan ‘luar’. Harus diakui perbatasan itu
tak datang dari Tuhan atau alam, melainkan dari sebuah proses politik
dalam sejarah. Perbatasan itu juga tak kekal. Tapi apakah yang tak
kekal tak punya arti dan tak punya kekuatannya sendiri?
 
Azahari dan orang sejenisnya - yang bercita-cita mendirikan sebuah
kekhalifahan Islam yang mengatasi ‘negara-bangsa’ -  berangkat dari
semangat ‘de-lokalisasi’: melintasi lokalitas yang mereka anggap
membatasi diri. Mereka tak mau bersetia kepada sebuah ‘tanah air’.
Yang pasti, mereka tak mau bersetia kepada Indonesia. 
 
Mereka berangkat bersama asumsi bahwa Islam adalah sesuatu yang
universal, yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Mereka seiring
dengan dinamika abad ini, yang menerjang atau menyeberangi perbatasan
nasional, dinamika yang digerakkan ilmu, teknologi, dan  kapitalisme
mutakhir. ‘Hari ini, agama bersekutu dengan tele-tekno-ilmu’, kata
Derrida dalam sebuah simposium di Capri di tahun 1994 - sebuah kalimat
yang tetap punya gema satu dasawarsa kemudian.
 
Tapi pada saat yang sama, terjadi juga sebuah tabrakan. Agama, seperti
yang dibawakan orang macam Azahari, mengandung kontradiksi: di satu
sisi ia mengklaim dirinya universal, tapi di sisi lain, semakin ia
jadi bendera identitas kelompok, semakin ia melawan sifat universalnya
sendiri. Maka ketika agama jadi identitas kelompok, ‘globalisasi’
yang dibawakan oleh modal, ilmu dan teknologi pun seakan-akan jadi
ancaman - meskipun sebenarnya televisi, internet, serta teknik
persenjataan dan pembunuhan, yang berasal dari ‘tele-tekno-ilmu’,
adalah penopang gerak ‘de-lokalisasi’ mereka. Dalam pemikiran agama macam ini, identitas kelompok bertaut dengan ‘de-lokalisasi’. Itu artinya agama, dalam kata-kata Derrida,  ‘terlepas’ dari ‘semua tempatnya yang pas’, bahkan dari  pengertian ‘tempat’ itu sendiri.
 
Tapi bisakah kebenaran agama, ketika diamalkan, berlangsung tanpa
tempat dan terlepas dari konteks lokal apapun? Pernahkah? Khalil
Abdul Karim, seorang mantan anggota gerakan Ikhwanul Muslimin di
Mesir, pernah menganalisa bahwa sejarah Islam sejak sebelum dan
segera sesudah Nabi Muhammad s.a.w. tak dapat dilepaskan dari posisi
politik suku Quraish di sekitar Mekah. Ia menyebut bukunya
(diterjemahkan dan diterbitkan oleh LkiS Yogyakarta) Hegemoni
Quraish.
 
Buku itu mungkin tak sepenuhnya tepat. Tapi sulit dibayangkan Islam
terlepas dari keterpautan dengan yang sempit di sebuah ruang dan sebuah
waktu. Khalifah Usmani yang berpusat di Turki, yang konon melintasi
perbatasan ‘negara-bangsa’ itu, pada dasarnya bagian dari pengalaman
dan kepentingan tahta Turki itu sendiri.
 
‘De-lokalisasi’ selalu mustahil: Islam yang diamalkan akan senantiasa
terkait dengan sebuah petak di muka bumi. Sesuatu yang ‘bukan-global’,
yang telah ada sejak beratus-ratus tahun, terus bertahan: sebuah
wilayah dan sehimpun manusia yang identifikasi dirinya disebutkan
dengan nama sebuah negeri ataupun bangsa.
 
Itulah ‘tanah air.’ Tanah air adalah tempat seseorang terlempar. Di
sana ia memilih untuk menerima posisi itu secara aktif ataupun pasif,
secara bersemangat atau pasrah. Tanah air, seperti yang terjadi ketika
republik ini lahir dari penjajahan, adalah sebuah ‘peristiwa’: sesuatu
yang mengguncang kehidupan dan menggerakkan hati. 
 
Tapi tanah air juga sebuah ‘pengalaman’: sebuah proses tumbuhnya
akar. Kita tak perlu mengaitkan akar itu dengan asal-usul ‘darah dan
tanah’, Blut und Boden, seperti dalam nasionalisme Jerman yang sesat.
Akar itu bukan sesuatu yang harus disakralkan, dan tempat kita hidup
dan berasal, Heimat, bukanlah sesuatu yang suci. Tanah air terbentuk
terus oleh sejarah, oleh kerja kita,  dan itu sebabnya ia, dengan
bekas darah dan keringat, punya arti bagi kita...
 
Indonesia, tanah air kita, lahir seperti itu, melalui revolusi - satu
hal yang tak dialami orang Malaysia macam Azahari. Revolusi itu
melibatkan rakyat banyak yang menderita di bawah penjajahan Belanda. 
Revolusi itu sebuah peristiwa, l’evenement dalam pengertian Badiou,
khususnya peristiwa solidaritas, dengan pengorbanan dan rasa bangga.
Tapi sebagai peristiwa, revolusi selalu punya akhir, tak dapat
diulangi, dan setelah itu Indonesia pun ‘terjadi’, tumbuh, dan
akhirnya jadi sebuah proyek bersama. Proyek itu makin disadari sebagai
sesuatu yang tak sempurna, karena menyadari keterbatasan manusia. 
 
Itu sebabnya Indonesia sebagaimana ia dirikan di tahun 1945 adalah
tanah air dengan banyak harap tapi juga cemas, dengan gairah tapi juga
gentar. Naskah Proklamasi itu tak ditulis dengan cetakan yang
sempurna; ada coretan dalam teks yang ditandatangani Bung Karno dan
Bung Hatta. Di situlah ia berbeda dengan ‘negara Islam’ yang membawa
nama sesuatu yang yang kekal dan tak akan salah. ‘Negara Islam’,
terutama dalam impian Azahari, adalah sebuah keangkuhan kepada
sejarah. Sebaliknya ‘Indonesia’: ia tak menafikan dan tak takut bahwa
dirinya tak akan pernah salah, bahkan berdosa.
 
Itulah sebabnya demokrasi niscaya: demokrasi adalah sebuah mekanisme
untuk selalu memperbaiki diri, mengurangi langkah yang keliru. Dan
kita tahu, Indonesia telah berjalan panjang dan terbentur-bentur,
tapi sampai hari ini bangkit lagi - juga dengan harap dan cemas.
 
Azahari tak memahami ini: ia dan kawan-kawannya tak punya kaitan dengan
pengalaman kita, apalagi dengan sejarah revolusi Indonesia. Mereka
meledakkan bom berkali-kali, merusak negeri ini berkali-kali, dan kita
merasakan sakitnya.
 
Apa gerangan hasilnya, selain sebuah jalan ke surga yang diyakini
sementara orang - sebuah firdaus yang instan, sebuah kenikmatan yang
seketika, seperti banyak hal yang ditawarkan di pasar dunia yang serba
tak sabar sekarang?
 
Mungkin Azahari dan kawan-kawannya, ketika mereka memasarkan surga
yang instan, mereka  tahu ‘jihad’ mereka akan gagal.  Amerika akan
tetap tegak dan Zionisme tak punah. Jika demikian, Azahari dan
kawan-kawannya siap mati dengan harapan bisa ke sorga bagi diri
sendiri, bukan dengan harapan untuk memenangkan orang-orang yang
mereka bela di muka bumi.**


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

Oct 30, 2005

Akademi Jakarta Minta Usulan Nama Untuk Anggota Dewan Kesenian Jakarta

Jakarta, 29 Oktober 2005

Dengan hormat,

Bersama ini disampaikan Siaran Pers Pers Akademi
Jakarta berjudul “Akademi Jakarta Minta Usulan Nama
Untuk Anggota Dewan Kesenian Jakarta”.

Mengingat pentingnya berita tersebut bagi semua pihak
yang menaruh perhatian pada perkembangan Dewan
Kesenian Jakarta dalam waktu kemudian ini, kami
berharap berita tersebut dapat dimuat dalam surat
kabar/majalah yang Saudara asuh dalam waktu tidak
terlalu lama.

Terlebih dahulu kami mengucapkan terima kasih untuk
bantuan dan kerjasama Saudara.

Salam kami,

Ketua Akademi Jakarta

Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, S.H., M.L.

_____________________________________________________

AKADEMI JAKARTA

Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya 73, Jakarta 10330
Telp/fax. 39899926; 78835543
e-mail: akademi_jkt@indo.net.id

Koesnadi Hardjasoemantri – Goenawan Mohamad – Ramadhan
KH– AD Pirous – Ahmad Syafii Maarif – Ajip Rosidi –
Amrus Natalsya – Endo Suanda – H. Misbach Yusa Biran –
Ignas Kleden – Iravati M. Sudiarso –Mochtar Pabottingi
– Nh. Dini – Nono Anwar Makarim – Rendra – Rosihan
Anwar – Saini KM – Sardono W. Kusumo – Sitor
Situmorang – Slamet Abdul Sjukur – Tatiek Maliyati WS
– Taufik Abdullah – Toeti Heraty N. Roosseno

LAMPIRAN SURAT No: 43/SEKAJ/X/2005.

AKADEMI JAKARTA MINTA USULAN NAMA UNTUK ANGGOTA DEWAN
KESENIAN JAKARTA

Jakarta, 27 Oktober, 2005

Akademi Jakarta, yang berfungsi memilih anggota Dewan
Kesenian Jakarta (DKJ), dalam keputusannya kemarin
mengundang masyarakat seniman di Jakarta untuk
mengusulkan nama calon anggota DKJ bagi kepengurusan
2006-2009.

Cara ini ditempuh agar masyarakat Jakarta, khususnya
kalangan seniman, ikut aktif dalam pembentukan DKJ.
Ini merupakan perbaikan atas cara seleksi di masa
lalu.

Dengan dukungan penuh Gubernur DKI Jakarta Raya waktu
itu, Ali Sadikin, DKJ didirikan di tahun 1968, sebagai
lembaga seniman yang membantu Pemerintah DKI
merumuskan dan mengelola kehidupan seni di ibukota.
Anggota DKJ berjumlah 25 orang, terdiri dari para
seniman di pelbagai bidang. Sejak beberapa tahun
terakhir ini peran DKJ berfokus pada menyelenggarakan
acara-acara kesenian di Pusat Kesenian Taman Ismail
Marzuki.

Masa kerja DKJ adalah tiga tahun. DKJ yang sekarang,
diketuai oleh sutradara teater Ratna Sarumpaet, akan
berakhir tugasnya di awal tahun 2006.

Akademi Jakarta, yang anggotanya kini terdiri dari 27
orang budayawan, bertugas menyeleksi dan mengangkat
anggota DKJ setiap tiga tahun. Mereka yang dipilih
kemudian disahkan oleh Pemerintah DKI Jakarta. Ketua
Akademi Jakarta yang sekarang adalah Prof. Dr.
Koesnadi Hardjasoemantri, dengan wakil ketua Goenawan
Mohamad dan Ramadhan KH.

Untuk DKJ yang akan datang, Akademi Jakarta menetapkan
lima kriteria bagi mereka yang dicalonkan. Pertama,
calon harus seorang yang punya prestasi dalam bidang
kesenian, baik sebagai pencipta, kritikus, atau
organisator. Kedua, calon harus adaptif, dalam arti
bisa bekerja-sama dengan person maupun lembaga lain.
Ketiga, calon harus bisa bekerja dalam organisasi.
Keempat, calon harus mampu menyusun rencana dan
menyelenggarakan program-program kesenian di
bidangnya. Kelima, calon harus bersedia menyediakan
waktu untuk menjalankan tugas sebagai anggota ataupun
pengurus DKJ.

Usulan dapat dimajukan oleh perorangan maupun
komunitas atau kelompok seni, secara tertulis ke
alamat Akademi Jakarta, Galeri Cipta II Taman – Ismail
Marzuki Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat (e-mail
atau sur-el: akademi_jkt@indo.net.id). Batas waktunya
adalah akhir Nopember 2005.

Sejak beberapa minggu terakhir, Akademi Jakarta juga
telah mengundang sejumlah pribadi ataupun lembaga
untuk mengajukan calon mereka. Nama-nama yang sudah
masuk akan dilengkapi dengan usulan dari masyarakat
seni umumnya.

Jakarta, 27 Oktober 2005

Ketua Akademi Jakarta

Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri.

Ungkapkan opini Anda di:

http://mediacare.blogspot.com

http://indonesiana.multiply.com


__________________________________
Start your day with Yahoo! - Make it your home page!
http://www.yahoo.com/r/hs

Mar 2, 2005

Konser The PRODIGY Dibuka AGRIKULTURE

Konser The PRODIGY "Live in Jakarta" yang Insya Allah akan
dilaksanakan di Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran pada hari Kamis tanggal 17 Maret 2005 pukul 8 malam rencananya akan dibuka oleh penampilan dari AGRIKULTURE.

AGRIKULTURE, Band electronic dance Indonesia yang beranggotakan dua DJ terkemuka Indonesia, yaitu DJ Anton dan DJ Hogi ini kariernya telah mencapai satu dekade di dunia dance musik Indonesia dan mancanegara, bersama instrumentalis/komposer handal Aditya. Band ini telah meremix dan show bersama artis-artis besar, seperti Kris Dayanti, Slank, dan Shanty.

Khusus untuk acara konser The PRODIGY mendatang, AGRIKULTURE akan mengajak DJ Winky (Junko), DJ Cream (Soul Menace), dan Fan DFMC (Kripik
Peudeus/Javabass) untuk berkolaborasi.

Tiket untuk konser The PRODIGY "Live in Jakarta" yang disponsori oleh Djarum Black Cappuccino ini sudah dapat diperoleh di tiket-tiket box di Jakarta dan beberapa kota lainnya seharga RP 250.000,-.

Selain tiket The PRODIGY, tiket untuk konser CAKE, SIMPLE PLAN, AVRIL LAVIGNE dan MAKSIM - ADDIE MS juga sudah dapat diperoleh.

Dan juga bagi mereka yang ingin menguji keberuntungannya, JAVA
Musikindo juga menyiapkan 30 tiket gratis bagi pemenang beberapa kuis yang digelar di website www.javamusikindo.com

Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi JAVA Musikindo,
Plaza Mutiara Lantai 2,
Suite 201 Jalan Lingkar Mega Kuningan Kav. E 1,
Kawasan Mega Kuningan Jakarta 12950
Telpon : (021) 579 88623 - 5

atau ke
info@javamusikindo.com


www.theprodigy.com

It's Java's Event.
JAVA Musikindo
Maret 2005
www.javamusikindo.com

Sikap PKS Sumbar terhadap rilis ICW

BAYANAT
tentang
PEMBERITAAN 38 ANGGOTA DPR RI DIDUGA KORUPSI, BERUPA SUAP
DAN PENYALAHGUNAAN WEWENANG JABATAN.
(satu berasal dari FPKS DR. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc Datuk Rajo Bandaro Basa)

ICW MEMFITNAH KADER PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

Realese ICW menyatakan bahwa:
1.Irwan Prayitno menerima dana perjalanan dari Pertamina
2.Komisi VIII DPR RI mendukung penjualan tanker Pertamina
3.Melakukan indikasi korupsi (penyalahgunaan kekuasaan).
4.Kasus tersebut tidak diusut

Penjelasan :
1.Ketua DPR RI pada waktu itu sudah menjelaskan kepada publik bahwa rombongan Komisi VIII tidak menggunakan dana Pertamina. Selain itu Pertamina pun menyebutkan tidak memberikan dana kepada Komisi VIII.

Perjalanan tersebut adalah resmi karena merupakan tugas komisi VIII untuk melakukan kontrol terhadap kebijakan Eksekutif.

2.Komisi VIII DPR RI semenjak awal menolak penjualan tanker Pertamina tersebut bahkan telah diputuskan pada rapat pleno Komisi VIII yang kemudian dikuatkan dengan keputusan pimpinan DPR RI. Pada Rapat Paripurna DPR RI juga dibacakan oleh Ketua DPR RI bahwa DPR RI menolak penjualan tanker tersebut bahkan saat ini komisi VII membuat Panja tentang penjualan tanker tersebut.

3.Komisi VIII sama sekali tidak menyalahgunakan kekuasaan karena
kepergiaannya tidak menggunakan dana Pertamina dan tidak menyetujui kebijakan penjualan tanker oleh Pertamina.

4.Kasus ini tidak pernah menjadi suatu perkara sehingga tidak
diperlukan suatu pengusutan. Di samping itu, kasus tersebut telah selesai pada enam bulan yang lalu ketika tuduhan tersebut sudah diklarifikasi.

Kesimpulan :
1.Pernyataan ICW menyesatkan publik karena tidak berdasarkan bukti dan kebenaran. Mereka hanya menggunakan data media bukan investigasi secara ilmiah
2.Diduga ICW melakukan character assasination (pembunuhan karakter) dan black campaign (kampanye hitam) kepada IP yang sedang maju untuk Cagub Sumbar.
3.Diduga ICW mengalihkan kasus yang sebenarnya yaitu penjualan tanker yang diduga merugikan uang negara ratusan milyar rupiah kepada perjalanan rombongan Komisi VIII DPR RI.

Sikap Kader :
1.Melakukan tabayun (cek dan ricek) terhadap segala macam informasi media yang diperkirakan akan semakin meningkat hingga kampanye pilkada
2.Husnudzon (sangka baik) dan tsiqoh (percaya) lebih dahulu kepada Al Akh terlebih yang maju untuk menjadi calon pimpinan daerah.
3.Selalu waspada terhadap segala macam serangan pihak lawan yang akan mengalahkan kita dalam Pilkada 2005.
4.Segera menangkis segala informasi tersebut kepada kalangan eksternal dan mensosialisasikan kemenangan pilkada.
5.Diminta kader Partai Keadilan Sejahtera tidak melakukan tindakan destruktif dan emosional.

Padang, 28 Februari 2005

DEWAN PIMPINAN WILAYAH
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
SUMATERA BARAT




H. MAHYELDI ANSHARULLAH, SP
Ketua Umum

=====
Erwin Febrian Safra
Email: erwin_fs@yahoo.com

Mar 1, 2005

LG Electronics mencatat penjualan 10 juta AC

Jakarta, 1 Maret 2005 – LG Electronics (LGE), sebagai produsen air conditioner terkemuka dunia, berhasil mencatat penjualan 10 juta unit AC selama tahun 2004. "Keberhasilan ini merupakan prestasi puncak dan baru pertama kali di dunia karena belum ada catatan yang menyamai angka tersebut," ujar General Manager Sales & Marketing PT. LG Electronics Indonesia (LGEIN), Sung Khiun di Jakarta saat menyampaikan informasi yang diperolehnya dari Japan Air Conditioning, Heating & Refrigerator News (JARN).

Dalam jurnal bisnis bidang AC, JARN, disebutkan perusahaan riset
pasar kelas dunia, Fuji Keizai melaporkan LGE berhasil menjual lebih dari 10 juta unit AC serta menguasai 20 % market size pasar AC dunia yang mencapai 52 juta unit sepanjang 2004. "Keberhasilan LGE yang sangat mengesankan ini diraih dalam kompetisi yang sangat ketat sejalan dengan makin banyaknya produk AC dari Cina maupun persepsi di masyarakat bahwa
produk dari Jepang lebih canggih teknologinya," papar Sung Khiun.

Di tahun 2004 lalu pun LGE berhasil menciptakan seri "2 in 1 plus" yaitu peningkatan kualitas dari seri sebelumnya bernama "2 in 1". Sistem ini secara umum memungkinkan dua unit AC indoor dengan satu unit outdoor. Yang membedakan dengan seri terbaru adalah telah dilengkapinya penyaring udara pada sistem kerja unit AC. "Dengan harga jual sama, produk AC LG jenis ini banyak diminati konsumen karena lebih efisien," tukas Sung Khiun.

Dari Importir Menjadi Nomor Satu

Menurut Head of Public Relations LGEIN, Widi Nugroho Sahib,"LGE
memulai bisnis AC pada tahun 1968 di saat kondisi dalam negeri Korea Selatan mengalami ketergantungan sangat besar terhadap produk impor." Tekad menekuni bisnis AC itu, lanjut Widi, diikuti keberhasilan pada tahun 2000 dengan meluncurkan model baru bernama "Digital Whisen" yang unggul dengan teknologi lapisan plasma guna melindungi lebih lama komponen teknisya.

Sekalipun bila dibandingkan dengan Jepang dan Amerika Serikat yang lebih dulu masuk bisnis AC dunia, LGE terhitung masih baru sebagai produsen berskala global, namun berkat kegigihan melalui beragam krisis selama 30 tahun lamanya, AC LGE dapat dikenal di seluruh dunia.

Berbagai upaya dilakukan LGE hingga berhasil mencatat angka penjualan AC sebanyak 4,1 juta unit di tahun 2000, kemudian 4,9 juta unit selama tahun 2001 dan 6,7 juta unit pada tahun 2002. Setahun kemudian 8 juta unit AC terjual sampai akhirnya tahun 2004 lalu meraih angka 10 juta unit di seluruh dunia. "Langkah LGE untuk meraih prestasi itu diperoleh lewat jaringan penjualan di 148 negara," tandas Sung Khiun. Posisi nomor satu dalam penjualan AC pun dipertahankan LGE di lebih 40 negara
diantaranya Korea Selatan, Amerika Serikat, Rusia, Australia, dan Arab Saudi.

Kini LGE bertekad agar di masa depan dapat melanjutkan prestasi
penjualan AC itu dengan berusaha menduduki posisi puncak di pasar global.

Latar belakang yang menjadikan LGE meraih posisi nomor satu adalah :
1. Periode penjualan selama 5 tahun berturut - turut
2. Memastikan kecanggihan teknologi terbaik di dunia lewat
keunggulan inovasi
3. Strategi pemasaran yang berbeda di masing-masing wilayah di
dunia
4. Dukungan karyawan LGE yang memiliki motivasi kerja yang tinggi

Paparan tersebut menunjukan gigihnya LGE untuk meriah prestasi
penjualan AC di dunia. Berikut grafik angka penjualan AC LGE
dibanding penjualan AC secara kumulatih di seluruh dunia.

Feb 24, 2005

Sujiwo Tejo bakal tampil di Java Jazz Festival 2005: Jazz rasa Indonesia yang penuh kejutan

Jakarta, 18 Februari 2005 - Sujiwo Tejo dan Bintang Indrianto akan tampil pada hari pertama Jakarta International Java Jazz Festival (JIJJF) 2005 di Jakarta Convention Center, tepatnya
tanggal 4 Maret 2005, pukul 18.45 – 19.45 di ruang Assembly 3.
Dalam penampilannya kali ini, Sujiwo Tejo yang juga berjuluk ‘dalang edan’ akan berkolaborasi dengan Bintang Indrianto, salah satu pemain bass terbaik negeri ini.

Dalam pentas yang tergolong kolosal untuk ukuran sebuah festival sebab didukung oleh 47 (empat puluh tujuh) artis dan musisi ini akan menjadikan sebuah pertunjukan yang lengkap dan utuh dengan adanya unsur wayang dan tari yang secara khusus disiapkan untuk
konser ini.

Yang juga unik adalah terlibatnya penyanyi anak-anak, Nala Amrytha, yang akan berduet dengan Sujiwo Tejo bersama paduan suara anak-anak Bintang Melodia.


Dalam pertunjukan kolosal ini Sujiwo Tejo dan Bintang
Indrianto akan didukung musisi papan atas, seperti:
Idang Rasjidi (Keyboards), Hendry Lamiri (Violin),
Pongki Nuzirwan (Gitar), Taufan Irianto (Drum), Bang
Sa’at (Suling), Anton Seva (Keyboards), Kiki Dunung
(Perkusi), Arief Setiadi (Saxophone), serta vokalis
Netta Kusumah Dewi. Takako Leen yang juga adalah
penari utama EKI Dance Company akan tampil sebagai
penari sekaligus sebagai backing vocal.

Selain itu, EKI Dance Company beserta tiga orang
peraga wayang asal Solo: Nanang Hape, Sambowo dan
Irwan akan menyajikan sajian visual unik sehingga
menjadikan tampilan Sujiwo Tejo dan Bintang Indrianto
sebagai tontonan yang utuh dan menghibur.

Bertemunya dua karakter yang berbeda, antara Sujiwo
Tejo dan Bintang Indrianto, bukanlah hal sederhana,
namun sejumlah ‘ketidakcocokan pribadi’ malah
disatukan dan dijadikan nilai positif di atas
panggung.

Sujiwo Tejo dan Bintang Indrianto akan menggarap
pertunjukan dengan mengekplorasi nuansa ke-Indonesiaan
yang dihadirkan dalam kekinian ditambah penggarapan
aksi panggung yang menghadirkan pertunjukkan wayang
kulit, bahkan tap dance, tari Saman dari Aceh dan
sebuah penampilan kejutan yang baru akan diketahui di
hari-H nanti!

Adapun sejumlah komposisi lagu yang akan dibawakan
oleh Sujiwo Tejo diambil dari album ‘Syair Dunia
Maya’, yang merupakan album ketiga Sujiwo Tejo, yang
akan beredar pada pertengahan Maret tahun ini.
Lagu-lagu tersebut diantaranya berjudul ‘Hujan Deras’,
‘Blakothang’, ‘Panakawan dan Saya’, ‘Dewi Ruci’,
‘Syair Dunia Maya’, dan ‘Zen-Die’.

Feb 22, 2005

Kerjasama AdamAir - GMF

Penandatanganan kerjasama antara PT Adam SkyConnection Airlines dengan GMF AeroAsia untuk pemeliharaan 40 pesawat AdamAir di Hotel Sheraton Bandara, Jakarta, pada tanggal 18 Februari 2005. Naskah kerjasama ini ditandatangani oleh Bapak Gunawan Suherman, Chief Operation Officer AdamAir, serta Bapak Bimo A. Prihantono, Director of Base Operation GMFAA, disaksikan oleh Bapak Dave Laksono, Chief Communication Officer AdamAir.

AdamAir menjalin kerjasama dengan perusahaan perawatan pesawat PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia untuk menangani pesawat seri Boeing 737 selama kurun waktu 3 tahun. Selama masa itu, AdamAir menargetkan akan mengoperasikan sedikitnya 40 pesawat seri Boeing 737.

Dalam jumpa pers yang diadakan pada 18 Februari 2005 lalu di Hotel Sheraton Bandara, Chief Operation Officer AdamAir, Gunawan Suherman meyakini bahwa kerjasama ini akan membuat AdamAir lebih efisien sekitar 30%, dengan demikian AdamAir akan makin terfokus pada penerbangan dan pelayanan terhadap penumpang. Apalagi pihak GMF AeroAsia akan memberikan layanan dalam bentuk heavy maintenance, supporting component dan engineering serta pelayanan konsultasi. Selain itu GMFAA telah memiliki bengkel yang tersebar di 23 kota, perusahaan perawatan pesawat ini telah mendapatkan sertifikat dari Amerika dan Eropa serta sudah dipercaya oleh beberapa maskapai lain.

Untuk info lebih lanjut, hubungi:
Dyah Puspawardhani Haryono
Public Relations AdamAir
PT Adam SkyConnection Airlines
Jl. Raya Gedong Panjang 28
Jakarta 11240
Tel. +62 21 691 7540
Fax. +62 21 6902911-12
E-mail: pr@adamair.co.id
www.adamair.co.id

Feb 21, 2005

Rahasia Negara vs Kebebasan Informasi dalam Kronologi

Rahasia Negara dan Kebebasan Informasi kini tengah menjadi kontroversi. Berikut rangkuman singkat perkembangan kedua isu ini secara kronologis.

31 Oktober 2000

Dalam raker Komisi I DPR dengan Lembaga Sandi Negara (LSN), Kepala LSN BO Hutagalung mengusulkan RUU Rahasia Negara ke Komisi I DPR, yang diharapkan mengatur informasi mana saja yang menjadi rahasia negara dan mana yang tidak. Komisi I DPR meminta agar RUU itu dibahas secara berdampingan dengan RUU Hak Warga Negara Memperoleh Informasi agar tidak
bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi.

(Kompas “Lembaga Sandi Negara Usulkan RUU Rahasia Negara” 2 November 2000)

23 Februari 2001

Rapat Pleno Baleg DPR membentuk Panitia Kerja (Panja) untuk menyusun draf RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik.

(Kompas “RUU Kebebasan Informasi versus RUU Rahasia Negara” 14 Maret 2002)

9-11 April 2001

Anggota Panja DPR yang menyusun draf RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik melakukan sosialisasi dan mencari masukan ke berbagai daerah, termasuk ke perguruan tinggi.

(Kompas “RUU Kebebasan Informasi versus RUU Rahasia Negara” 14 Maret 2002)

16 dan 23 Maret 2001

Panja RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik menggali informasi dari LSM, Universitas Gajah Mada dan universitas lain untuk penyempurnaan draf.

(Kompas “RUU Kebebasan Informasi versus RUU Rahasia Negara” 14 Maret 2002)

8 Agustus 2001

Dalam kunjungan ke Kompas dalam rangka sosialisasi RUU tentang Kebebasan Memperoleh Informasi Publik, Mas Achmad Santosa dari Koalisi untuk
Kebebasan Informasi mengatakan bahwa saat ini pemerintah mengajukan RUU
tentang Rahasia Negara ke DPR. Semestinya rahasia negara itu menjadi
bagian dari RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik. Hak masyarakat
memperoleh informasi tak boleh dibatasi lebih dahulu dengan RUU Rahasia
Negara.

(Kompas “Pemanfaatan Informasi oleh Publik Tak Boleh Dibatasi” 4 Agustus 2001)

24 Agustus 2001

Dalam diskusi tentang RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik dan
Rahasia Negara, Deputi III LSN Wihardiyono Reksosiswoyo menyatakan draf
RUU Rahasia Negara dibuat karena belum ada UU yang mengatur masalah
rahasia negara. Draf tersebut disiapkan sejak tahun 1997. Selama ini aturan
soal rahasia negara tersebar di berbagai UU seperti KUHP, KUHP Militer,
UU no 77/1971 tentang Pokok-Pokok Kearsipan, UU no 8/1974 tentang
Pokok-Pokok Kepegawaian dan UU no 36/1999 tentang Telekomunikasi.

Rahasia negara didefinisikan sebagai bahan keterangan dan benda-benda
yang berkaitan dengan keselamatan negara yang tidak dapat atau tidak
boleh diketahui, dan dimiliki atau dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang
berhak. Dalam pasal 12 draf RUU Rahasia Negara dirumuskan: kewenangan untuk
menentukan bahan keterangan menjadi Rahasia Negara berada pada pimpinan
lemabga-lembaga negara, pimpinan lembaga pemerintah baik departemen
maupun non-departemen, pimpinan ABRI, pimpinan BUMN dan pimpinan-pimpinan
badan-badan lain yang ditunjuk oleh Pemerintah Republik Indonesia,
rincian kewenangannya diatur dalam peraturan pelaksanaan UU Rahasia Negara.

Mas Achmad Santosa dari Koalisi untuk Kebebasan Informasi mengatakan
bahwa pasal-pasal soal kerahasiaan negara seyogyanya ditempatkan dalam
payung RUU Kebebasan Informasi. Mas Achmad Santosa tidak menolak adanya
pasal kerahasiaan negara, namun sebaiknya pasal kerahasiaan negara itu menjadi pengecualian dari UU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik.

(Kompas “Kerahasiaan Negara Harus Ditempatkan dalam RUU Kebebasan Informasi” 25 Agustus 2001)

19 Februari 2002

Dalam rapat kerja tertutup antara Kepala LSN BO Hutagalung dengan Komisi I DPR, LSN menyatakan bahwa draft RUU Rahasia Negara sudah diproses lama dan sudah disosialisasikan kepada kalangan kampus, kalangan LSM dan pakar. Draf yang diterima DPR adalah draft bulan Januari 2000. LSN menyatakan bahwa draft RUU tersebut sudah hampir final dan akan diserahkan
ke DPR Maret 2002.

Ketua Sub Komisi Media dan Informasi Komisi I DPR Djoko Susilo meragukan sosialisasi tersebut, “LSM yang mana, kampus yang mana, pakar yang mana? Kalau ada sosialisasi, kalangan LSM dan pers mestinya tahu, tetapi saya sendiri tidak tahu prosesnya. Saya menyesalkan cara kerja seperti
ini karena mengerjakannya sembunyi-sembunyi.”

(Kompas “RUU Kerahasiaan Negara Masuk DPR Maret” 21 Februari 2002).

11 Maret 2002

Dalam Rapat Paripurna DPR, wakil Baleg (Badan Legislasi) DPR Tumbu
Saraswati menyampaikan usul inisiatif RUU Kebebasan Memperoleh Informasi
Publik.

(Kompas “RUU Kebebasan Informasi versus RUU Rahasia Negara” 14 Maret 2002)

13 Maret 2002

Wakil Ketua Badan Legislasi DPR Tumbu Saraswati menyatakan belum menerima draft RUU Rahasia Negara. Tumbu Saraswati mengakui bahwa RUU Rahasia
Negara itu juga merupakan usulan dari Baleg DPR sendiri dengan meminta bantuan dari Universitas Indonesia untuk membuat draft akademikinya.

Menurut Tumbu Saraswati, tim UI yang meminta masukan dari lembaga-lembaga seperti Badan Intelijen Negara (BIN, dan LSN untuk membuat draftnya.

Dalam RUU Rahasia Negara diatur bahwa hampir semua pimpinan lembaga negara dapat menentukan kategori informasi yang dianggap rahasia. Bahkan pejabat eselon dua diberi wewenang untuk menentukan kategori rahasia di kantornya. Penetapan rahasia negara itu dimaksudkan untuk menjamin “keselamatan negara”

Dalam penjelasan RUU Rahasia Negara disebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan “mengancam keselamatan negara” apabila kebocoran rahasia negara akan dapat mengakibatkan terancamnya:
(a) tetap tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945;
(b) terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa;
(c) keutuhan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia.

Disebutkan pula yang dimaksudkan dengan “mengganggu keselamatan negara” apabila kebocoran rahasia negara akan dapat mengakibatkan terganggunya kesinambungan pembangunan.”

Dalam RUU tersebut, ketentuan pidana berkisar 6-20 tahun. Ketentuan pidana itu umumnya ditujukan pada masyarakat luas yang dengan sengaja mengumumkan atau menyebarkan surat-surat, berita-berita, peta-peta,
rencana-rencana, gambar-gambar atau benda-benda kepada pihak yang tidak berhak atau pihak asing.

Menurut Ketua Baleg DPR Zein Badjeber, penyusunan RUU Kerahasiaan Negara bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan dibiayai luar negeri.

Koalisi untuk Kebebasan Informasi mendesak kepada DPR agar menunda pembahasan RUU tentang Kerahasiaan Negara dan meminta DPR mempercepat
pembahasan RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik. Mas Achmad Santosa
dari Koalisi untuk Kebebasan Informasi menyatakan bahwa pada dasarnya
Koalisi untuk Kebebasan Informasi menolak tegas adanya RUU Kerahasiaan
Negara.

Josi Khatarina Assegaf, juga dari Koalisi untuk Kebebasan Informasi
menambahkan, penolakan terhadap RUU Kerahasiaan Negara bukan berarti
Koalisi untuk Kebebasan Informasi bersikap anti kerahasiaan negara. “Jadi
kami tidak menolak kerahasiaan negara, karena biar bagaimanapun negara
yang berdaulat perlu rezim kerahasiaan. Tetapi penerapannya tidak harus
melalui undang-undang, bisa melalui peraturan perundang-undangan di
bawah undang-undang.”

Mas Achmad Santosa dari Koalisi untuk Kebebasan Informasi berpendapat
bahwa tidak perlu ada UU Kerahasiaan Negara, tetapi cukup UU tentang
Kebebasan Memperoleh Informasi Publik.

(Kompas “RUU Kebebasan Informasi versus RUU Rahasia Negara” 14 Maret 2002)

18 Maret 2002

Dalam pertemuan dengan pers di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
Indonesia (YLBHI) Jakarta, Koalisi untuk Kebebasan Informasi
mengindikasikan bahwa ada keinginan pemerintah melindungi pelaku korupsi dan
kejahatan hak asasi manusia dengan mengajukan RUU Rahasia Negara. Ifdhal Kasim
dari ELSAM menyatakan bahwa selama ini pengadilan militer menyatakan
berkas dakwaan dan replik terdakwa dinyatakan sebagai rahasia negara,
walau pengadilan dinyatakan terbuka untuk hukum.

Koalisi menyoroti ayat 1 pasal 12 draf RUU yang menyatakan bahwa
kewenangan untuk menentukan bahan keterangan menjadi rahasia negara berada
pada pimpinan lembaga negara, pimpinan lembaga pemerintah baik departemen
dan non departemen, pimpinan TNI/Polri dan pimpinan BUMN. Ayat 2 pasal
yang sama menyatakan bahwa semua pimpinan lembaga negara ... dapat
mendelegasikan kewenangan kepada eselon di bawahnya.

(Kompas “RUU Rahasia Negara Berpotensi Melindungi Kejahatan Korupsi” 19 Maret 2002)

20 Maret 2002

Dalam Rapat Paripurna DPR, RUU Kebebasan Memperoleh Informasi
ditanggapi oleh fraksi-fraksi DPR untuk selanjutnya dibahas di Badan
Musyarawarah (Bamus) DPR untuk dijadwalkan kapan akan dibahas oleh sebuah Panitia
Khusus atau Komisi I DPR.

(Kompas “RUU Kebebasan Informasi versus RUU Rahasia Negara” 14 Maret 2002)

17 Februari 2003

Dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi I DPR dengan Nachrowi Ramli dari LSN
terungkap bahwa banyak rahasia negara, khususnya menyangkut strategi
diplomasi pemerintah dengan pihak luar negeri, yang bocor karena
departemen-departemen yang ada, termasuk pihak intelijen, belum mengoptimalkan
teknik persandian. Kebocoran rahasia negara ini menyebabkan negara
kerap kali dirugikan, terutama untuk data yang kategorinya sangat rahasia.

Tentang rahasia negara apa saja yang sempat bocor dan
departemen-departemen apa saja yang belum mengoptimalkan persandian itu, sebagaimana
terungkap di dalam rapat, tidak jelas karena Wakil Ketua Komisi I DPR
Effendy Choirie tidak menjelaskan lebih lanjut.

Dalam kesempatan tersebut, LSN meminta dukungan Komisi I untuk
menindaklanjuti pembahasan RUU Kerahasiaan Negara. Menanggapi hal tersebut,
Komisi I akan segera mendesak pemerintah, khususnya Departemen Pertahanan
RI agar segera memasukkan draf RUU Kerahasiaan Negara pada masa sidan
DPR ke IV sehingga bisa segera dibentuk panitia khusus. Dengan
dimasukkannya RUU Kerahasiaan Negara, diharapkan pembahasannya bisa seiring
dengan pembahasan RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik.

(Kompas “Banyak Rahasia Negara Bocor” 18 Februari 2003)

18 Februari 2003

Dalam rapat kerja dengan Pansus RUU Antiterorisme, Kepala BIN AM
Hendropriyono mengusulkan agar pembahasan RUU Pemberantasan Tindak Pidana
Terorisme (RUU Anti Terorisme) terintegrasi dengan RUU Kebebasan
Memperoleh Informasi Publik, RUU Kerahasiaan Negara dan RUU Intelijen, agar
“suasana kebatinan” keempat RUU tersebut dapat disamakan dan tidak tambal
sulam dalam pembahasannya.

Ketika ditanya apakah pengintegrasian pembahasan itu dalam satu pansus,
Hendropriyono mengatakan bahwa bukan berarti dibahas dalam satu pansus
tetapi pembahasannya terintegrasi dan tidak sendiri-sendiri. “Suasana
kebatinannya mesti disamakan terlebih dahulu. Dengan begitu sekaligus
mempelajarinya bersama apakah terdapat unsur-unsur sinergis dalam
tiap-tiap pasal, sehingga kita bisa punya pedoman bagi pemerintah, DPR dan
seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

(Kompas “BIN Usul RUU Antiterorisme Terintegrasi dengan RUU KMI, RUU Kerahasiaan Negara dan RUU Intelijen” 19 Februari 2003)

18 Februari 2003

Dalam Rapat Paripurna DPR yang dipimpin Wakil Ketua DPR Soetardjo
Soerjogoeritno, para anggota DPR sepakat untuk membentuk Panitia Khusus RUU
KMI dengan anggota 50 orang dari seluruh fraksi. Beberapa nama anggota
pansus dari Fraksi PDIP di antaranya adalah Panda Nababan, dari Fraksi
Partai Golkar, Ridwan Mukti, dari Fraksi PPP Aisyah Aminy, Effendy
Choirie dari FKB, Djoko Susilo dari Fraksi Reformasi, dari Fraksi TNI /
Polri Franklin Kayhatu, dari Fraksi KKI Ismawan DS, Fraksi PBB Noorbalqis
dan Fraksi PDU KH Abdul Qadir Djaelani.

(Kompas “BIN Usul RUU Antiterorisme Terintegrasi dengan RUU KMI, RUU Kerahasiaan Negara dan RUU Intelijen” 19 Februari 2003)

19 Februari 2003

Koordinator Tim Lobi Koalisi untuk Kebebasan Memperoleh Informasi Agus
Sudibyo, Bimo Nugroho dari Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan
Ignatius Haryanto dari Lembaga Studi Pers dan Pembangunan menolak BIN dan
Meneg Kominfo agar pembahasan RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik
dilakukan bersama-sama dengan RUU Kerahasiaan Negara maupun RUU
Intelijen.

Dikhawatirkan bila pembahasan dilakukan bersama-sama justru hak asasi
untuk memperoleh informasi akan terabaikan demi kepentingan-kepentingan
yang mengatasnamakan negara. Paradigma RUU Kebebasan Informasi adalah
keterbukaan, transparansi dan partisipasi. Sebaliknya RUU Kerahasiaan
Negara dan RUU Intelijen masih menggunakan paradigma ketertutupan.
Pembahasan RUU Kebebasan Memperoleh Informasi telah dilakukan melalui
mekanisme dialog publik yang lama, bahkan dengan melibatkan aparat negara.
Sebaliknya proses pembahasan RUU Kerahasiaan Negara dilakukan tertutup dan
kurang dikomunikasikan kepada publik.
(Kompas “DPR Didesak Dahulukan Bahas RUU Kebebasan Informasi” 20
Februari 2003)

28 Februari 2003

Dalam diskusi “RUU Kebebasan Memperoleh Informasi, Kebebasan Pers dan
Kerahasiaan Negara” yang diselenggarakan Dewan Pers dan Asia Foundation
di Jakarta, dinyatakan bahwa Koalisi untuk Kebebasan Inforamsi
mengharapkan rahasia negara menjadi sub-bagian dari UU Kebebasan Memperoleh
Informasi Publik.

(Kompas “Soal Rahasia Negara Diharapkan Hanya Jadi Sub-Bagian
Undang-Undang Kebebasan Memperoleh Informasi” 1 Maret 2003)

14 Maret 2003

Dalam seminar internasonal dan workshop “Peran Penting UU Kebebasan
Memperoleh Informasi Publik untuk Mewujudkan Pemerintahan yang Terbuka dan
Demokratis” disampaikan bahwa Koalisi untuk Kebebasan Memperoleh
Informasi menilai usulan integrasi pembahasan RUU Kebebasan Memperoleh
Informasi Publik dengan RUU Kerahasiaan Negara, RUU Pemberantasan Tindak
Pidana Terorisme dan RUU Intelijen akan mengecilkan arti RUU Kebebasan
Memperoleh Informasi Publik.

(Kompas “UU KMI Ampuh Kikis KKN” 15 Maret 2003)

6 Maret 2003

DPR mengadakan Rapat Dengar Pendapat Umum yang pertama dengan Koalisi
Kebebasan Memperoleh Informasi.

(Kompas “Soal Rahasia Negara Diharapkan Hanya Jadi Sub-Bagian
Undang-Undang Kebebasan Memperoleh Informasi” 1 Maret 2003)

1 April 2003

Dalam pendapat yang disampaikan kepada Pansus RUU Kebebasan Informasi,
Ketua Komnas HAM Abdul Hakim Garuda Nusantara bersama Ketua Sub-Komisi
Pengkajian dan Penelitian Lies Sugondo menyatakan bahwa Komisi Nasional
Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) berpandangan bahwa tidak perlu ada UU
tersendiri yang mengatur atau mengenai kerahasiaan negara. Hal-hal yang
berkaitan dengan kerahasiaan negara cukup diatur dalam UU tentang
Kebebasan Memperoleh Informasi Publik.

Dinyatakan bahwa dokumen yang berkategori rahasia tidak perlu diatur
secara tersendiri dalam peraturan perundang-undangan yang setingkat
dengan UU. Hal tersebut sudah cukup bila penjabaran tentang tata cara
penyimpanan, pemberitan informasi dan masa berlakunya sebuah dokumen yang
menjadi rahasia negara diatur dalam peraturan pemerintah saja, dengan
tetap mengacu pada RUU Kebebasan Informasi.

“Sudah sangat tepat bahwa pemuatan substansi pengujian kerahasiaan
informasi melalui pertimbangan mengutamakan kepentingan publik yang lbeih
luas. Dengan begitu, kerahasiaan informasi tidak bersifat permanen atau
mutlak ketika berdahapan dengan kepentingan umum yang lebih besar,”
tutur Hakim.

Hakim menambahkan bahwa semua dokumen informasi yang dikategorikan
sebagai rahasia memang seharusnya dimasukkan sebagai pengecualian dalam
membuka informasi. “Akan tetapi pengecualian dalam hal ini perlu dirinci,
mana yang benar-benar dapat dikecualikan dan mana yang tidak,” ujar
Hakim.

Menurut Hakim, data-data intelijen pada pemerintahan yang lalu mengenai
orang-orang atau lembaga tertentu sudah saatnya disingkap (disclose).
Orang-orang yang merasa dirinya pernah diidentifikasi sebagai ekstrem
kiri, ekstrem kanan atau LSM bermasalah dan sebagainya berhak untuk
meminta data-data intelijen itu disingkap. Publik dapat menuntut hal yang
sama agar data-data itu tidak disalahgunakan oleh pemerintah yang
sekarang maupun yang akan datang.

(Kompas “Tidak Perlu UU Tersendiri Tentang Kerahasiaan Negara” 4 April
2003)

17 April 2004

Dalam diskusi di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Koalisi
untuk Kebebasan Informasi mengusulkan cukup hanya ada satu UU yang
mengatur keterbukaan informasi sekaligus kerahasiaan negara. Jika kedua hal
tersebut diatur dalam UU yang berbeda, dikhawatirkan akan terjadi
tumpang tindih dan kerancuan dalam implementasinya.

Koalisi berpendapat bahwa RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik tak
hanya mengakui adanya informasi yang harus dibuka kepada publik;
melainkan juga tentang informasi yang harus dirahasiakan atas nama pemberitan
informasi yang dapat membahayakan pertahanan dan keamanan nasional,
fungsi-fungsi intelijen, hubungan bilateral, proses penegakan hukum serta
hak asasi manusia, termasuk hak pribadi.

(Kompas “Undang-Undang tentang Informasi Cukup Hanya Satu” 21 April
2003)

20 Mei 2003

Dalam Rapat Kerja Pansus RUU KMI dengan BIN, LSN, BAIS (Badan Intelijen
Strategis), Departemen Kehakiman dan HAM, Polri dan TNI yang dipimpin
oleh Ketua Pansus Paulus Widianto, terungkap bahwa BIN dan LSN menilai
RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik memberikan hak atau kewenangan
yang terlalu luas kepada publik untuk mengakses informasi dan menilai
perlu ada pembatasan akses.

“Adalah sulit bagi pemerintah untuk melaksanakan tugas-tugas apabila
seluruh kebijakan publik dari lembaga dan badan pemerintah dibuka untuk
umum dengan mengabaikan kerahasiaan,” tandas Wakil Kepala BIN As’at.
Ketua LSN Nachrowi Ramli menegaskan bahwa UU KMI tetap harus melakukan
pembatasan agar tidak kebablasan.

Beberapa pembatasan akses yang disampaikan BIN kepada Pansus di
antaranya usulan perubahan pasal 4 ayat 3. Apabila sebelumnya setiap orang
dalam mengajukan permintaan informasi tidak diwajibkan menyertakan alasan,
BIN mewajibkan adanya alasan. Apabila sebelumnya informasi tidak
dibeda-bedakan, BIN juga mengusulkan pengklasifikasian informasi menjadi
sangat rahasia, rahasia dan konfidensial demi kepentingan publik. BIN pun
mengusulkan penghapusan kata “wajib” pada pasal 12 ayat (1) yang
berbunyi “badan publik wajib menyediakan informasi publik setiap saat.”

(Kompas “RUU KMI Dianggap Beri Hak Terlalu Luas” 21 Mei 2003)

27 Oktober 2004

Menteri Dalam Negeri M Ma’ruf menandatangani Instruksi Mendagri no 7
tahun 2004 tentang Penegakan Tertib Kerja Aparatur Departemen Dalam
Negeri (Depdagri) sebagai Penjabaran Kontrak Politik Kabinet Indonesia
Bersatu yang menyatakan bahwa seluruh pegawai Depdagri Depdagri harus
meningkatkan disiplin kerja dengan menjaga dan tidak membocorkan atau
memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk
kepentingan pribadi, golongan, atau pihak lain.

Kepala Pusat Penerangan Depdagri Ujang Sudirman, Rabu kemarin,
menjelaskan, rahasia negara yang dimaksudkan adalah berbagai dokumen yang tidak
boleh diketahui masyarakat sebelum waktunya. Bila rahasia negara itu
bocor dan diketahui masyarakat, dikhawatirkan akan membahayakan negara.
"Kalau dokumen itu sudah dijadikan keputusan atau sudah resmi, maka baru
bisa disampaikan ke masyarakat. Artinya, dokumen tersebut sudah jadi
milik publik," kata Ujang.

(Kompas “Instruksi Menteri Dalam Negeri: Dilarang Bocorkan Rahasia Negara” 28 Oktober 2004)

2 November 2004

Dalam kesempatan jumpa pers di Komisi Hukum Nasional, Koalisi untuk Kebebasan Informasi mendesak pemerintahan Yudhoyono segera mengambil langkah kongkret untuk mengeluarkan amanat presiden untuk menyegerakan pengesahan RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik. Koalisi menyatakan adalah ironi ketika Mendagri M Ma’ruf justru mengeluarkan instruksi yang salah satu isinya adalah melarang pegawai membocorkan rahasia negara pada pihak lain. Status rahasia negara tersebut berpotensi diterakan
secara sembarang oleh pejabat publik sehingga bakal mematikan akses publik atas informasi publik.

(Kompas “Pemerintahan Yudhoyono Belum Buka Akses Informasi Publik” 3 November 2004)

4 November 2004

Dalam acara silaturahmi dan buka bersama bersama kalangan pers, Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil mengatakan bahwa definisi dan klasifikasi apa yang disebut sebuah rahasia negara akan ditegaskan dalam RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik.


"Rahasia negara dalam RUU KMIP akan ada klasifikasi dan definisi apa yang disebut rahasia negara serta diatur secara tegas. Misalhnya akan diatur apa saja saja yang mengancam keselamatan negara sehingga nanti tidak bisa sembarangan mengatakan ini rahasia negara atu tidak karena sudah ada definisinya di UU itu," ujar Sofyan Djalil.

(Kompas “Definisi Rahasia Negara Akan Ditegaskan pada RUU Kebebasan Memperoleh Informasi” 5 November 2004)

10 November 2004
Dalam Rapat Kerja Menegkominfo dengan Komisi I DPR, Sofyan Djalil mengatakan bahwa pembahasan RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik akan disatukan dengan RUU Kerahasiaan Negara maupun RUU Intelijen. “Dengan dijadikan satu paket, akan lebih efektif dan tidak tumpang tindih,” ujarnya.

(Kompas “Anggota DPR: Prioritas 100 Hari Menneg Kominfo
Mengawang-awang” 11 November 2004)



25 November 2004

Dalam jumpa pers di DPR, Koalisi mengatakan bahwa RUU KMIP diharapkan
tidak dibahas bersama-sama dengan RUU Intelijen, RUU Kerahasiaan Negara
dan RUU lainnya yang membatasi akses publik untuk mendapatkan
informasi. Koalisi menyatakan, “Legislasi RUU Kerahasiaan Negara dan RUU
Intelijen harus dibahas, didahului dengan dialog publik yang representatif dan
partisipasi publik mutlak diserap, karena kemarin kemunculan kedua RUU
ini sangat misterius, tiba-tiba ada dan mau dibahas.” Koalisi juga
menyatakan bahwa DPR dan pemerintah harus menciptakan mekanisme yang
transparan dan partisipatif dalam proses pembahasan RUU KMIP.

(Kompas “Presiden Didesak Turunkan Amanat Presiden Pembahasan RUU KMIP” 26 November 2004)

15 Desember 2004

Dalam diskusi Rahasia Negara dalam Diskusi Rahasia Negara dan Kebebasan Informasi yang diselenggarakan UNESCO dan Koalisi untuk Kebebasan Informasi, Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil mengatakan, pihaknya tetap menginginkan pembahasan RUU Rahasia Negara dan RUU Kebebasan Memperoleh Informasi dilakukan secara bersamaan.

(Kompas “Kebebasan Informasi Penting bagi Demokrasi” 17 Desember 2004)

28 Januari 2005

Dalam diskusi "Evaluasi 100 Hari Pemerintahan SBY-Memberantas Korupsi, Tanpa Penegakan Prinsip-Prinsip Transparansi" di Gedung Dewan Pers Jakarta, Koalisi menilai, Instruksi Mendagri Nomor 7 Tahun 2004 mengenai larangan kepada jajaran Departemen Dalam Negeri membuka rahasia negara justru menjadi kontraproduktif bagi tekad pemerintah memberantas korupsi.

(Kompas “Sikap Pemerintah Hambat Proses RUU KMIP” 29 Januari 2005)

11 Februari 2005

Dalam pernyataan yang disampaikan Koalisi di Gedung MPR/DPR, Koalisi menilai Keputusan DPR untuk lebih memprioritaskan Rancangan Undang-Undang Kerahasiaan Negara ketimbang RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik dinilai sebagai hal yang tidak logis dan tak masuk akal. RUU KMIP sudah melalui debat publik, pembahasan di DPR sudah pada tingkat kedua dan hanya tinggal menunggu amanat presiden. Hal itu berbeda dengan RUU Kerahasiaan Negara yang baru dalam pembahasan tingkat pertama. Merujuk draf RUU Kerahasiaan Negara, Koalisi mempertanyakan definisi kerahasiaan negara. Selain definisi yang tidak jelas, tidak ada batasan siapa yang berwenang memastikan sifat kerahasiaan sebuah informasi.

(Kompas “Prioritaskan RUU Kerahasiaan Negara, DPR Tidak Logis, 12 Februari 2005)

Feb 17, 2005

Siaran Pers YLBHI - LBH Makassar tentang Penyatuan TNI dan Polri

SIARAN PERS
No. : 002/SP/YLBHI/II/2005

Tentang
PENYATUAN TNI DAN POLRI

Rencana Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono menyatukan TNI dan Polri dalam satu atap melalui penyusunan draf RUU Hankam perlu mendapat perhatian serius. Institusi TNI dan Polri nantinya akan berada di bawah Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam). Dengan alasan untuk mengatasi ketimpangan fungsi atau koordinasi penanganan masalah pertahanan keamanan, penyatuan tersebut akan menodai semangat reformasi.

Oleh karenanya kami,YLBHI-LBH Makassar perlu menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama; Rencana penyatuan TNI-Polri di bawah satu atap yaitu kementerian Polkam tidak disadari dengan argumen yang kuat. Kami melihat bahwa Menhan hanya melihat kebutuhan-kebutuhan jangka pendek dan tidak berorientasi jangka panjang dalam menata demokrasi.

Kedua; Pernyataan Menhan bahwa reformasi yang dilakukan adalah sebagai buah kebablasan, merupakan pernyataan yang sumir dan menegasikan peran masyarakat (khususnya rakyat dan mahasiswa) dalam memperjuangkan reformasi di Indonesia pada tahun 1998 yang lalu.Bahwa agenda refromasi yang diperjuangkan tersebut adalah justeru menghendaki pemisahan Polri dari TNI (ABRI) karena bercampurnya fungsi-fungsi militer dalam kehidupan sosial politik di Indonesia dan dominasi militer (TNI) dalam seluruh aspek sosial politik dengan selimut kondisi HANKAM.

Ketiga; Menhan tidak mengerti konsepsi security secara utuh. Perlu diketahui bahwa secara keseluruhan aspek-aspek keamanan adalah bukan hanya mengenai “pengendalian”secara fisik, melalui tindakan represif akan tetapi keamanan (security) adalah juga menyangkut keberlanjutan kehidupan. Jadi konsepsi keamanan sebagai masalah refresi oleh perangkat-perangkat keamanan represif adalah kekeliruan besar.

Keempat; Menhan hanya mengedepankan argumen legalistik berdasarkan Palas 30 UUD 1945 tanpa melihat masalah secara subtansial. Yang dibutuhkan adalah bukan penyatuan TNI dan Polri di bawah satu atap akan tetapi membuat regulasi yang tegas terhadap tugas-tugas yang melibatkan kedua institusi Polri dan TNI.


Oleh karena itu kami menyatakan :

1. Menolak rencana Menhan menyatukan TNI dan Polri di bawah satu atap.

2. Mendesak pemerintah membuat Undang-undang Perbantuan Militer


Demikian siaran pers ini di buat, di ucapkan terima kasih

Makassar, 17 Februari 2005

Yayasan LBH Indonesia

Badan Pengurus

Munarman
Ketua

Feb 15, 2005

Undangan Diskusi: Mewaspadai Legislasi RUU Kerahasiaan Negara

Rapat Paripurna DPR 1 Februari 2005 telah mengesahkan daftar rancangan undang-undang (RUU) yang akan dibahas DPR sampai tahun 2009. Salah satu RUU yang diprioritaskan adalah pembahasan RUU Rahasia Negara.

Langkah menempatkan RUU Rahasia Negara sebagai prioritas patut dicermati. RUU Rahasia Negara berpotensi untuk menghambat proses demokratisasi karena akan membatasi partisipasi masyarakat dalam melakukan pengawasan penyelenggaraan kekuasaan negara.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka kami mengundang rekan-rekan media massa untuk hadir dalam diskusi yang akan kami selenggarakan pada:

Hari/Tanggal:
Jum’at, 18 Februari 2005

Jam :
13.30 WIB- Selesai

Tempat:
Ruang Pertemuan Dewan Pers
Gedung Dewan Pers lt. VI.
Jln. Kebon Sirih, Jakarta Pusat

Pembicara:
- Daniel Dhakidae (Litbang Kompas)
- Joko Susilo (Komisi I DPR-RI)
- Paulus Widiyanto (Koalisi Untuk Kebebasan Memperoleh Informasi).


Demikian undangan yang kami sampaikan, atas kehadiran rekan-rekan media massa kami mengucapkan terima kasih.


Koalisi Untuk Kebebasan Memperoleh Informasi


Agus Sudibyo
Koordinator Lobby


Kontak Ahmad Faisol : 08151847551

Feb 14, 2005

Radio Bahana: Most Romantic Artist Couple

Jakarta, 14 Pebruari 2005 - Di tengah maraknya berita kawin cerai para selebritis, radio Bahana ingin mengungkapkan sisi positif beberapa selebritis yang "adem-ayem" dengan pasangannya, melalui ajang Most romantic Artist Couple.

Ajang ini digelar dalam rangka hari Valentine 14 Pebruari, dengan cara interaktif polling yang digelar seminggu menjelang hari kasih sayang itu.

Empat (4) pasang Selebritis yang menjadi pilihan pendengar untuk didaulat sebagai pasangan paling romantis tsb, adalah:
- Nia Paramita-Gusti Randa
- Chrisye Subono-Adri Subono
- Mona Ratuliu-Indra Brasco
- Vena Melida-Ivan

Polling berlangsung dari tanggal 03 - 12 Februari 2005. Jawaban di kirim lewat SMS 08121010180. Pengumuman 2 besar tanggal 12 Februari 2005 jam 23.00 Wib - On Air.

Hasil akhirnya adalah: (Total Responden dengan 149 Suara)
- Pasangan Gusti Randa dan Nia Paramitha - 38,3 Persen
- Pasangan Indra Brasco dan Mona Ratuliu - 26,9 Persen
- Pasangan Adri Subono dan Chrisye Subono - 20.8 Persen
- Pasangan Ivan Fadilla dan Vena Melinda - 14 Persen

Dua pasang yang memperoleh suara terbanyak akan di pilih lagi untuk dipilih satu pasangan sebagai pasangan paling romantis. Dan kedua pasangan tersebut bakal ketemuan dengan pemilihnya dan mereka yang merayakan Valentine day di The Piano Bistro, drink, dine, and romance, Jl. Wijaya Jakarta Selatan pada Senin 14 Pebruari 2005 jam 19.00 WIB.

Jadi, jangan lewatkan final The Most Romantic Artist Couple Versi Bahana hari ini.

Radio Bahana 101,8 FM memposisikan diri sebagai radio Pasangan Muda bagi pendengar pria-wanita usia 20 s/d 39 tahun di Jakarta. Komposisi musik dominan lagu Indonesia Populer dan sisipan Lagu Barat Hits membungkus informasi dari manca negara hingga sudut-sudut kota Jakarta, dengan sudut pandang kehidupan keluarga pasangan muda. Info ringan , tips, dan sisipan berita yang ditampilkan memberi inspirasi keseharian, seolah potret kehidupan para pendengar Bahana, yang optimis, produktif, Ceria, easy going, dan bersahabat.

Sharing seputar kehidupan keluarga Pasangan Muda, tercermin dari berbagai konsultasi yang digelar pada jam 9 pagi dan jam 9 malam.

Jam 9 Pagi di Senin, Taman Kreativitas Anak di pekan pertama, Pekan kedua dan keempat menampilkan Konsultasi Kesehatan Bunda dan Balita, Pekan ketiga dan Kelima menggelar Ajang Konsultasi Usaha Sambilan.

Setiap Selasa pendengar dapat berkonsultasi seputar Hukum dan Perempuan.

Rabu - konsultasi psikologi : Anak, Suami Istri, maupun psikologi karir.
Kamis - konsultasi perencanaan Keuangan Keluarga.
Jumat - konsultasi mengenai Berpikir Otak Kanan, atau positif thinking.

Jam 9 malam di Senin konsultasi hak dan hukum perempuan, Selasa konsultasi kehidupan dari sudut pandang religi, Rabu pekan ganjil konsultasi kesehatan secara umum, dan pekan genap konsultasi seputar motivasi hidup berwirausaha. Kamis pendengar menikmati saat santai bersama penyiar, dan jumat pasangan muda dapat konsultasi seputar sex sehat. Malam Minggunya pendengar dapat ngobrolin seputar parenting.

Segmen lain yang memotret kehidupan pasangan muda, antara lain tips, testimony, dongeng, dll.

Bahana 101, 8 FM
Radio Pasangan Muda

Jl. Pengadegan Selatan VII No. 23
Jakarta Selatan

Feb 13, 2005

Silaturrahim Musyawarah Fokal IMM Jatim; Farid Fathoni Ketua Fokal IMM

Surabaya, Minggu (13/2/05) - Akhirnya Drs. H. Farid Fathoni. AF, SH. terpilih menjadi ketua Umum Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOkal IMM)Jawa Timur. Acara Silaturrahim ini diselenggarakan di Inna Simpang Hotel pada sore hari ini. Ia terpilih dengan dukungan terbanyak sebagai ketua umum sekaligus ketua Formatur yang akan membentuk kepengurusan periode 2005-2009.

Sebelumnnya Fokal IMM di Jawa Timur sempat terbentuk dan di pimpin Ahadin Mintaroem. namun dalam perjalanannya sempat vakum sekitar 10 tahun. "Oleh sebab itulah berkat dukungan dan kerja keras DPD IMM Jatim, akhirnya Fokal IMM terbentuk lagi secara definitif."

Diharapkan dalam perjalannya Fokal IMM dpat menampung dan menselaraskan antara Alumni IMM dan Aktivis IMM khususnya di Jatim ini.

Dalam paparan visi dan misinya Farid, menyatakan akan
membawa gerbong Fokal IMM Jatim pada program nyata dan menjadi jembatan anatara kader IMM dalam perannya di Muhammadiyah, Msyarakat dan Bangsa. Aktivis IMM dan peran Muhammadiyah harus progresif, dimana Muhammadiyah harus berpihak pada kaum lemah dan tidak berpihak pada kekuasaan.

"Kalau Muhammadiyah tidak peduli pada hal yang sifatnya sosial yang lebih kongkrit, maka Muhammadiyah tidak akan maju-maju dan sibuk mengurus amal usahanya saja," tegasnya.

Hadir dalam Acara Silaturrahim, Prof. DR Yahya
Muhaimin, Mantan Mendiknas di era Gu Dur, Ketua PD
Muhammadiyah Surabaya Drs Wahid Sukur, Prof. Syafiq A
Mughny, MA. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah
Jatim, Erlangga Calon Walikota PD-PAN yang mengaku
aktifis IMM tahun 80-an.

Sebelumnya terbentuk Fokal IMM Jatim difasilitasi
oleh DPD IMM Jawa Timur yang menggelar acara silaturrahim dan buka puasa bersama antara kader IMM dan Alumni se Jatim.

Dalam pertemuan itu terbentuk kepanitian Musyda Fokal
IMM Jatim yang dipimpin oleh Drs Siadi sebagai ketua
dan Choirul Anam SPd sebagai sekretaris.(fokal imm)

Wassalam

Humas Panitia Silaturrahim Musyda Fokal IMM Jatim

Syafrudin Budiman
031-60704041

Pengirim: Ellyani
email: ellyani_rudi@yahoo.com

Feb 10, 2005

Official launching of Access Indonesia website from USC

Dear all:

I am pleased to inform you about our official launching of Access Indonesia website. The website is the principal output of a project jointly undertaken by University of Southern California (Los Angeles, United States) and Bandung Institute of Technology (Bandung, Indonesia). The project has
been sponsored by the United States Department of Education's Technological Information and Cooperation for Foreign Information Access (TICFIA) program since October 2002. The main purpose of the project is to foster a fuller interdisciplinary understanding of Indonesia through a "one-stop website" (available both in English and in Bahasa Indonesia), which is designed for scholars,
students, international development practitioners, policymakers, and the business community
interested in Indonesia. As you may know, since the Asian financial crisis of 1997, this largest
Muslim country in the world has also been going through major political transitions. With our Access
Indonesia project website, we hope to keep you updated on Indonesia's transformation processes.

You can access our website from the following URL: http://www-rcf.usc.edu/~indo

The website is organized around six main sections:

(a) THEMES: This section provides information on five themes [Culture, Economy, Geography, History,
and Politics] related to Indonesia. Each theme page contains full-text documents (including
documents that are only accessible through our website), book and journal citations, and web-links.
There is also a summary section called "Indonesia at a Glance."
(b) NEWS INDO SECTION: It provides news briefs of current news from Indonesia (updated weekly on
Mondays).
(c) STAT INDO SECTION: It has statistical data on Indonesia both in excel and in html format
(gathered from Indonesian and international organizations).
(d) MAP INDO SECTION: It includes Web-GIS based thematic maps of Indonesia.
(e) SLIDE INDO SECTION: It includes photographs from selected Indonesian cities (e.g. Jakarta,
Bandung, Yogyakarta, Banjarmasin) and a private collection by a professional photographer from
Indonesia.
(f) LEARNING TOOLKITS SECTION: It has one multiple choice quiz on different aspects of Indonesia and
two map exercises to locate Indonesian islands and cities.

We also have a SPECIAL TSUNAMI SECTION that focuses on the disaster recovery and rebuilding
processes in Aceh and North Sumatra, which were gravely affected by the recent Tsunami. We would be
expanding this section during the coming months. We will soon be adding a BUSINESS MANUAL SECTION
that may be of interest to those who would like to conduct business activities in or with Indonesia.

If you like to be informed about our activities and receive our weekly news summaries on Indonesia,
please subscribe to our DIALOGUE INDO email list from the website.

We hope that you find our Access Indonesia website helpful. We would appreciate your cooperation in
disseminating information about the website. Please feel free to write to us at indo@usc.edu for any
comments or questions that you may have.

Sincerely yours,

Dr. Koichi Mera
Director, Access Indonesia Project
Research Professor
School of Policy, Planning, and Development
University of Southern California
Los Angeles, CA 90089-0626
U.S.A.


Access Indonesia Project
email: indo@usc.edu

February 8, 2005



Feb 9, 2005

Cockpit Band Charity Concert in Bali

Bernostalgia, mengajak beramal, dan Peduli Aceh
Di PLANET HOLLYWOOD BALI

Jumat, 11 Februari 2005


Siapa yang tak mengenal GENESIS sebagai salahsatu grup musik legenda dengan karya-karyanya yang monumental? Orang kerap mengindentikannya dengan Art Rock dan yang lainnya menyebutnya Progressive Rock atau ada juga yang mengklasifikasikannya sebagai Classic Rock. Namun dibalik itu GENESIS adalah grup musik rock yang ditunjang oleh individual skill musik yang hebat dari Peter Gabriel, Mike Rutherford, Tony Banks lalu kemudian Phil Collins dan beberapa musisi yang pernah bergabung pada masa kejayaan GENESIS.

Lantunan “Lamb Lies Down on Broadway”, “ABACAB”, “Cinema Show”, “Turn it On” serta ratusan nomor-nomor GENESIS lainnya seakan menyerbu penjuru dunia dan akrab di telinga anak-anak muda di tahun 1970-80. Tidak heran jika public musik Indonesia pada tahun 80-an juga akrab dengan nama COCKPIT BAND sebagai band Indonesia yang berkiblat pada musik musik GENESIS.

Perjalanan COCKPIT BAND dimulai tahun 1980 di Jakarta, didirikan oleh Dadan Muchtar, Izal, Oding Nasution, Yaya Muktio & Joseph Martam. Pada malam tahun baru 1983 sempat tampil di Pantai Kuta, Bali dan menuai sukses. Vokalisnya yang paling menonjol datang dari Belanda. Dia menguasai karakter vokal Peter Gabriel dan Phil Collins dan mampu tampil secara teatrikal sesuai dengan style yang diusung oleh GENESIS jika tampil live. Dia adalah Freddy Tamaela yang kini sudah tiada. Gaya teatrikalnya konon lebih menarik dari yang biasa dilakukan Gabriel dan Collins di panggung.

Pada era 80-an inilah GENESISnya Indonesia ini mewabah di Indonesia dengan kemasan GENESIS NIGHT di Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. COCKPIT BAND mempersembahkan musik yang tidak sekadar memainkan lagu-lagu GENESIS tapi juga menghayati dan memainkannya dengan segenap kreatifitas yang dimiliki oleh para personalnya sehingga kentara kekhasannya.

LATAR BELAKANG
Kini setelah 20 tahun berlalu, kembali COCKPIT BAND berkiprah di dunia musik Indonesia dengan sebuah concert yang akan dilakukan di BALI pada 11 February 2005. Apa yang membuat COCKPIT BAND tampil kembali setelah sekian lama sibuk dalam kegiatan musik masing-masing personelnya ini?

Rasa Kemanusiaan. Itulah jawaban yang muncul melatar belakangi rencana shownya di Bali. Musibah di Aceh dan Sumatera Utara yang merenggut ratusan ribu nyawa memberi dorongan kuat bagi COCKPIT BAND untuk memberikan kontribusi musical dengan mengajak publik (khususnya publik musik era 80-an yang pernah bergiat pada musik GENESIS dan aliran klasik rock lainnya) untuk merevitalisasi diri terhadap rasa kemanusiaan yang perlu dimiliki sepanjang hayat manusia.

Secara nyata bagi personil COCKPIT BAND, Aceh adalah semacam penanda bagi manusia untuk kembali kepada khittahnya sebagai makhluk Sang Khalik. Untuk itu jauh dari ikut arus melakukan kegiatan amal bahkan sebaliknya, seyogianya semua pihak dan mereka yang mampu terus menggalang dan menyampaikan rasa kemanusiaan kepada saudaranya yang lain melalui banyak kegiatan yang dikemas sebaik mungkin. Perbaikan saudara kita di Aceh baik fisik dan mental pun tidak cukup dalam 5 tahun.

COCKPIT BAND akan tampil selama 2 jam di depan publik musik di Bali dan juga dalam acara CHARITY CONCERT ini COCKPIT BAND akan memberikan sebagian besar honornya bagi Aceh. Sebagai aksi pembuka bagi show Cockpit Band akan hadir 63KG Band dari Bali yang akan mempersembahkan lagu-lagu originalnya dan kehadiran 63KG Band yang notabene adalah musisi-musisi Bali yang telah lama berkecimpung di dunia musik ini merupakan bagian dari program charity mereka untuk Aceh dimana album yang mereka baru rilis penjualannya diberikan untuk membantu saudara-saudara kita di Aceh. Selain itu penyelenggara yang rencananya mengumpulkan sejumlah dana dari penjualan tiket juga akan dibuka kotak amal serta pelelangan beberapa barang.

Juga tidak kalah pentingnya malam itu akan diadakan video conference Bali-Aceh dengan menggunakan teknologi Videophone “Beamer” yang akan langsung menampilkan kondisi terkini di Aceh serta dialog dengan relawan dan korban yang selamat dari bencana Tsunami.


PERSONIL COCKPIT BAND
Ronny Harahap – Keyboard
Odink Nasution – Guitar
Raidy Noor – Bass
Yaya Muktio – Drums
Arrie Syaff – Vokal


PERSONIL 63KG BAND
Bayu – Vocal
Doddy – Bass
Bogie – Drums
Otto – Guitar

Additional
Onnie – keyboard
Gus Tilem – Guitar

More info about 63KG BAND please visit www.63kgband.com


Untuk keterangan mengenai acara
Silakan menghubungi Ayip
Matapro
Jalan Imam Bonjol 467
Denpasar 80119
Bali-Indonesia
Tel. 0361-481906
Fax. 0361-481907
Email. ayip@matamera.com
Mobile. 08553735580


Planet Hollywood Bali
Komplek Mall Bali Galeria
Jalan By Pass Ngurah Rai, Simpang Siur
Kuta 80361
Bali-Indonesia
Tel. 0361-757827
Fax. 0361-765858
Email. phbalism@indo.net.id
Mobile. 0817560079


Feb 8, 2005

Bantahan terhadap pernyataan Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Singapura di Jakarta tentang kasus limbah B3 di Pulau Galang

Menanggapi surat pembaca Bapak Adrian Chung, Sekretaris Pertama Keduaan Besar Singapura di Jakarta di Harian Kompas pada Hari Senin, 7 Pebruari 2005, mengenai kasus limbah B3 di Pulau Galang, dengan ini beberapa hal yang perlu kami bantah dan luruskan, yaitu :

Judul surat yang berbunyi ”Bukan B3” perlu kami gugat, karena kami tidak yakin pihak otoritas dari Singapura dapat mengambil kesimpulan pasti bahwa limbah dimaksud bukan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Selama tujuh bulan sejak kasus ini terungkap, tidak pernah ada pihak yang mengatasnamanakn otoritas Pemerintah Singapura melakukan uji sampel limbah-limbah tersebut untuk memastikan jenis substansinya. Nampaknya pihak Kedubes Singapura masih tetap menggunakan dokumen ekspor awal sebagai referensi. Padahal dokumen tersebut telah jelas-jelas ditolak pihak Indonesia karena tidak sesuai dengan kenyataan.

Dalam kasus ini bahwa hukum Singapura yang tidak menganggap limbah tersebut sebagai limbah B3 tidak dapat digunakan. Berdasarkan Konvensi Basel, dasar hukum tentang penetapan substansi limbah apakah limbah tersebut sebagai limbah B3 atau bukan yang menentukan adalah hukum negara tujuan. Dalam kasus ini negara tujuan tersebut adalah Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, Pemerintah Indonesia telah menyatakan secara resmi bahwa ”pupuk” yang dikirim adalah limbah B3, dan berasal dari Singapura.

Sesuai kesepakatan Konvensi Basel maka Singapura sebagai negara asal wajib mengambil kembali limbah dimaksud. Pernyataan-pernyataan yang mencerminkan bantahan atas keputusan resmi pemerintah Indonesia dan keengganan Singapura untuk melakukan kewajibannya kami nilai sangat kontra produktif dalam menyelesaikan persoalan ini. Apabila limbah tersebut bukan limbah B3 mengapa pihak Singapura harus mengelak untuk mengambil kembali limbah tersebut.

Usaha untuk terus memperdebatkan status substansi ”pupuk” yang berlangsung dalam bentuk debat kusir saat ini kami nilai tidak ada lagi gunanya. Mediasi oleh Sekretariat Konvensi Basel bukan lagi untuk membahas status ”pupuk”, tetapi untuk menentukan kapan limbah B3 tersebut diambil kembali oleh negara asalnya.

Kami meminta agar himbauan Bapak Chung untuk tidak memperbesar kasus ini, perlu diletakkan secara proporsional. Bagaimanapun keberadaan limbah B3 yang volumenya mencapai 1,15 juta kilogram di Pulau Galang yang diikuti isu akan ada kiriman-kiriman berikutnya sangat meresahkan masyarakat. Mereka amat berhak untuk menuntut penyelesaian dan pelurusan informasi ini. Perlu kami ingatkan bahwa himbauan Bapak Adrian Chung tersebut dapat secara sepihak diartikan sebagai bentuk ketidakseriusan atau anggapan sepele Pemerintah Singapura. Hal ini akan mudah sekali menyulut reaksi emosi masyarakat sehingga tidak menguntungkan dari berbagai pihak.

Kami menekankan kembali bahwa kasus limbah B3 Pulau Galang terjadi karena isi barang berbeda dengan apa yang dideklarasikan oleh eksporter. Pasal 9 Konvensi Basel menyatakan bahwa bentuk ”pemalsuan” dokumen seperti ini mensyaratkan kewajiban pengeksporan kembali (re-ekspor) oleh negara pengekspor, yaitu Singapura. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menuntut kewajiban pengembilan kembali ”pupuk” tersebut.

Pada saat ini Kementerian Lingkungan Hidup sedang melakukan upaya penegakan hukum pidana. Telah ditetapkan empat orang tersangka, yaitu seorang Warga Negara Singapura dan tiga orang Warga Negara Indonesia.

Sesuai dengan prinsip transparansi dalam pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana yang diamanatkan oleh UU NO. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kementerian Lingkungan Hidup perlu menjelaskan status penanganan limbah B3 di Pulau Galang tersebut kepada masyarakat melalui media massa. Hal ini dilakukan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dan lingkungan hidup.

Jakarta, 7 Pebruari 2005

Asisten Deputi Urusan Informasi
Kementerian Lingkungan Hidup

ttd.


Drs. Rasio Ridho Sani, M.Com, MPM


Tembusan Yth :

1. Deputi Menteri Bidang Pembinaan Sarana Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup

Dipublikasikan oleh : Asdep Urusan Informasi
Telp. 021-858 0081/Fax. 021-859 00103
e-mail : infolh@menlh.go.id

Sumber: http://www.menlh.go.id/terbaru/artikel.php?article_id=1231