Nov 30, 2005

Program Gedung Kesenian Jakarta - Desember 2005

PROGRAM GEDUNG KESENIAN JAKARTA
DESEMBER 2005

PENGANTAR/FOREWORD

Salam Budaya,


Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa, kita sudah menuju ke penghujung
tahun, bulan Desember 2005. Waktu yang hampir genap setahun berjalan
menjadi bagian untuk dicermati. Sambil berjalan, Gedung Kesenian Jakarta
terus berusaha meningkatkan kinerjanya. Sebagai tempat berkesenian yang
bergengsi, memang bukan pekerjaan yang mudah dalam menghidupkan sebuah
gedung pertunjukan seperti Gedung Kesenian Jakarta, di tengah
persaingan yang begitu ketat seiring hadirnya tempat pertunjukan kesenian yang
makin marak di ibu kota Jakarta ini. Program-program pun menjadi modal
utama yang sarat kualitas dan makna, bagi peningkatan apresiasi
masyarakat terhadap seni pertunjukan. Begitu pula sarana fisik serta fasilitas
yang ada pun menjadi alat penting dalam mewujudkan hadirnya pementasan
seni pertunjukan yang berbobot dan variatif, ditunjang oleh sinergi
kerja yang tentunya harus terus ditingkatkan pula.

Untuk menutup tahun 2005, GKJ mengawalinya dengan pementasan Drama
Musikal Minahasa-Mapurengkey dengan judul TOAR DAN LUMIMUUT dengan
sutradara Remy Sylado, yang mengangkat budaya Minahasa sebagai sumber
inspirasi.

Jakarta World Music Festival hadir untuk pertama kalinya sebagai bagian
dari musik Indonesia yang makin berkembang mengimbangi kemajuan
perjalanan teknologi yang semakin aduhai dan canggihnya. Dialog budaya melalui
musik ditampilkan oleh seniman musik dari berbagai generasi dalam genre
yang berbeda pula, mudah-mudahan ini dapat menjadi acuan dalam
meningkatkan kreativitas bagi lahirnya karya-karya musik sebagai bagian dari
karya seni Indonesia.

Perkenankanlah kami selaku pimpinan dan seluruh karyawan Gedung
Kesenian Jakarta mengucapkan SELAMAT HARI NATAL 25 Desember 2005 bagi yang
merayakannya dan SELAMAT TAHUN BARU 1 JANUARI 2006 bagi kita semua.
Maafkan jika ada kesalahan dan kekurangan kami dalam melayani para sahabat,
relasi, pecinta seni serta adik remaja yang telah berpartisipasi dalam
berkesenian di Gedung Kesenian Jakarta sepanjang tahun 2005 ini.

Semoga Tuhan selalu melindungi dan menyertai kita dalam menyongsong
Tahun Baru 2006.



Marusya N.F. Nainggolan, MA

Direktur

_______________________________________________________

Jumat-Sabtu, 2-3 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Friday-Saturday, December 2-3, 2005 - 8pm


Drama Musikal Minahasa-Mapurengkey

TOAR DAN LUMIMUUT

Sutradara/Directed: Remy Sylado

Produksi/Production: Lembaga Kebudayaan Sulawesi Utara-Dapur Teater
Remy Sylado



Ditengah kedigdayaan era globalisasi yang menembus batas wilayah dan
budaya suatu bangsa, masyarakat Sulawesi Utara, khususnya yang tergabung
dalam Lembaga Kebudayaan Sulawesi Utara (LKSU) bersama Dapur Teater
Remy Sylado mengangkat salah satu seni tradisional Minahasa yaitu
Mapurengkey, dengan kisah "Toar dan Lumimuut". Dikemas dalam bentuk drama
musikal, perpaduan antara sastra, musik dan tari, hingga menjadi tontonan
teatrikal yang menarik dan dapat dinikmati masyarakat umum, khususnya
pencinta seni teater.

Mapurengkey adalah bentuk seni tradisional Minahasa yang
makin punah, karena khalayak penikmatnya dan yang mengapresiasi cenderung
langka. Bila ditilik dari bentuk teater dalam wacana teater Barat
dianggap 'teater total', yakni terpadunya antara sastra, musik dan tari,
maka mapurengkey merupakan contoh paling kasatmata dengan
kemungkinan-kemungkinan estetik yang leluasa di satu pihak dan etik yang terbatas di
lain pihak. Pergelaran ini juga didukung dengan sumber tulis Cina, Gu Shi
Nan Bei Fang.



Tickets price: Rp 75.000,- : Rp 50.000,- & Rp 35.000,-





Rabu & Jumat, 7 & 23 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Wednesday & Friday, December 7 & 23, 2005 - 8pm


KOMEDI BETAWI

Sutradara/Directed: Syaiful Amri

Penata Musik/Music Director: Andi Suhandi

Penata Panggung/Stage Manager: Djudjun Cs.

Pemain/Players: H. Bolot, H. Bodong, Hj. Nori, Edi Oglek, Rini SBB,
Kubil, Rita Hamzah, Rudi Sipit, jaya, Madih, dll.

Bintang Tamu/Guest Stars: Artis-artis Ibukota



MESSTER (7 Desember 2005)

Keserakahan dan kesenangan kerap terjadi dimana-mana dalam situasi
apapun. Sayangnya ini dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung
jawab dan tanpa wujud nyata, korbannya orang-orang yang tidak bersalah.
Demikian pula yang terjadi dengan si Pitung, namanya dijadikan kambing
hitam setiap ada keonaran oleh kelompok orang pengecut tak bertanggung
jawab.



MACAN KEMAYORAN (23 Desember 2005)

Penindasan tak ada habisnya. Tak perduli sesama anak bangsa demi
kekuasaan, hati nurani menjadi buta. Korban pun berjatuhan, ibarat
peribahasa, siapa yang menanam bibit dia yang akan menuai. Adalah Macan
Kemayoran, seorang pribumi yang berani melawan kezoliman tanpa pamrih demi
harkat dan harga diri bangsa khususnya warga Betawi.



Invitation/Information: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Prop. DKI
Jakarta, T. (021) 5263236





JAKARTA WORLD MUSIC FESTIVAL 2005

Gedung Kesenian Jakarta, 9 s.d. 16 Desember 2005



Jumat, 9 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Friday, December 9, 2005 - 8pm


NERA

Gilang Ramadhan, drum

Donny Suhendra, gitar

Adi Darmawan, bass

Krisna Prameswara, keyboard

Ivan Nestorman, vocal

Featuring: Indra Lesmana, Trie Utami



Nera yang artinya "sinar", adalah sebuah band yang dibentuk untuk
mengakomodasi keinginan pendukungnya membuat sesuatu yang baru, unik, kaya
musikal namun groovy, popular dan dapat mengiringi gerak tari. Grup yang
dimotori Gilang Ramadhan dalam album pertamanya banyak mengeksplorasi
ritmis khasanah tradisi nusantara dengan dominasi drum selain sentuhan
vokal yang macho dari Ivan Nestorman asal Flores juga didukung musisi
bereputasi yang dikenal luas pecinta musik, khususnya jazz dan world
music.

Mungkin, ini bagian dari kegelisahan musisi. Mencari
formulasi dan menemukan sesuatu yang berbeda di dunianya, musik.



Tickets price: Rp 75.000,- & Rp 50.000,-





Senin, 12 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Monday, December 12, 2005 - 8pm


DISCUS

Iwan Hasan, gitar, 21 string harpguitar, keyboards, vocal

Fadhil Indra, Keyboards, rindik, kempli, gong, electronic percussion,
vocal

Anto Praboe, clarinet, flute, suling, puik-puik, bass clarinet,
saxophones, vocal

Eko Partitur, violin, vocal

Kiki Caloh, bass

Hayunaji, drums, tawo-tawo

Krisna Prameswara, keyboards

Yuyun, vocal



Discus, sebuah band yang memilih jalur progresif sebagai ajang
kreativitas, mengawali debutnya di mancanegara dan meraih sukses luar biasa.
Formasi lengkap terbentuk tahun 1996, album pertama "1st" dirilis
perusahaan rekaman Italia, Mellow Records, tahun 1999 dan mendapat ulasan dari
majalah-majalah musik di Amerika Serikat, Perancis, Brazil, Belgia dan
Italia, sangat baik. Tampil di festival musik progresif Amerika
Serikat, ProgDay 2000, North Carolina USA dan beberapa kota. Tahun 2001
diundang tampil di festival Baja Prog V, Mexico. Album kedua ".tot licht!"
dirilis perusahaan rekaman Perancis, Musea Records, tahun 2003. Di tanah
air, Discus menerima penghargaan AMI-Samsung Award kategori musik
progresif untuk pertama kalinya, tahun 2004. Oktober 2005 Discus diundang
tampil dalam festival ProgSol Switzerland serta konser di Jerman dan
mendapat sukses. Tahun 2006 mendatang, Discus diundang tampil pada festival
Zappanale di Jerman, sebuah festival tahunan terbesar untuk menghormati
komponis Frank Zappa, dan satu-satunya grup musik Asia yang akan tampil
di festival tersebut.

Penampilan Discus di GKJ kali ini akan didukung oleh
bintang tamu Kompiang Raka, penyanyi jazz Andien, penyanyi pop Fadly dari
band Padi dan growler metal Krisna Suckerhead.



Tickets price: Rp75.000,- & Rp 50.000,-





Selasa, 13 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Tuesday, December 13, 2005 - 8pm


SAPTO RAHARDJO - INNISISRI

KALANGAN II


Musisi/Musicians: Innisisri, Sapto Rahardjo, SP. Joko, Azied Dewa



Bertolak dari pemahaman akan ekplorasi bunyi dan ritmik sebagai bagian
dalam pergelaran, jarak bukan lagi kendala buat mereka untuk menyatukan
karya yang sama sekali belum pernah dipertemukan. Perkusionis Innisisri
dan ahli gamelan/techno Sapto Rahardjo yang sangat terkenal di blantika
musik Indonesia bersama musikus serba bisa Joko dan Azied (personil
Kiai Kanjeng) mencoba mewakili potensi kreatif bangsa kita dalam merespon
arus kebudayaan modern yang hadir dengan jubah musik kontemporer. Bila
musisi atau komponis bicara lewat bahasa musik dan mengacu pada aspek
kreatifnya, bukan berarti aspek komersial harus ditinggalkan, yang
tersaji adalah ekplorasi bunyi sebagai tonggak pementasan.



Tickets price: Rp 50.000,- & Rp 40.000,-





Rabu, 14 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Wednesday, December 14, 2005 - 8pm


RAHAYU SUPANGGAH & KOMUNITAS BUNYI I LA GALIGO



Rahayu Supanggah is an international acclaimed Indonesian composer who
is leading pioneer of New Music in Indonesia. He has composed and
collaborated with impressive coterie of artist, directors, choreographers
worldwide in the field of music, film and dance.

Kali ini Komunitas Bunyi I La Galigo akan menbawakan beberapa karya
antara lain: Pra Bumi, Dunia Mula-Mula, Menggantung Asa, Elong Osong,
Batik-batik, Voyage, Mawar Mekar.



Tickets price: Rp 50.000,- & Rp 40.000,-





Jumat, 16 Desember 2005 - Pukul 20.00 Wib.

Friday, December 16, 2005 - 8pm


IKJ World Music

Vonty S Nahan - Pongki Nuzirwan - Epi Martison


SUNGAI KAHAYAN II

Komposisi: Vonty S. Nahan

HANYA MANUSIA, CAPUNG

Komposisi: Pongki Nuzirwan

BETAWI PLUS

Komposisi: Epi Martison



Tiga komposer alumni IKJ jurusan musik tampil bersama, Vonty S. Nahan,
Pongki Nuzirwan dan Epi Martison. Vonty menampilkan "Sungai Kahayan II"
sebuah komposisi musik tentang kerusuhan/peperangan antar suku
berdasarkan musik pentatonik Kalimantan: la, do, re, mi, sol. Pongki
menampilkan dua komposisi; "Hanya Manusia" kombinasi musik tradisi dan modern,
berkisah tentang manusia yang serba kekurangan, dan berusaha menemukan
kehidupan yang terbaik, namun semua itu tak terlepas takdir Tuhan yang
menentukan semuanya. "Capung" sebuah komposisi tentang penghijauan, alam
yang bersih merupakan suatu kebutuhan hidup jika kita ingin tetap
sehat. Dan Epi menampilkan "Betawi Plus", komposisi musik untuk perkusi,
berkembang dari musik tradisi Betawi, satu garis terisi beragam motif dari
tehyan, gambang, kendang dan instrumen perkusi non Betawi. Motif dan
pola rhythm tersebut merupakan kombinasi dari kontras dinamika pada
bagian perkusi.



Tickets price: Rp 50.000,- & Rp 40.000,-





Pimpinan dan Staf Gedung Kesenian Jakarta

Mengucapkan

Selamat Natal & Tahun Baru 2006


GEDUNG KESENIAN JAKARTA
Jalan Gedung Kesenian No.1, Jakarta 10710.

T. (021) 3808283, 3441892 - F. (021) 3810924

E-mail: gkj@pacific.net.id
Website: www.gkj-online.com



Ungkapkan opini Anda di:

http://mediacare.blogspot.com

http://indonesiana.multiply.com


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

Nov 24, 2005

Goenawan Mohamad: Azahari dan Indonesia

Sekadar cerita:
 
"Boom...boom...boom.....!" Bom bunuh diri meledak di berbagai tempat.
Saya kaget, Anda kaget, semua kaget. Termasuk Goenawan Mohamad (GM), penulis
'Catatan Pinggir' di Majalah Tempo, juga ikut terkaget-kaget. Tak heran
kalau ia langsung menuliskan opininya bertajuk "Azahari dan Indonesia".
Sebenarnya sudah sejak kemarin saya terima email darinya, mohon maaf
baru sempat saya sampaikan kepada Anda pada hari ini.
 
Agaknya teror demi teror akan terus menghantui kita. Bayangkan, muncul
berita bahwa pasukan pengebom bunuh diri yang berjumlah sekira seribu
orang siap beraksi. Noordin Top masih gentayangan cari mangsa. Lalu muncul lagi kabar bahwa Azahari dan Noordin Top itu cuma 'kroco'. Artinya mereka
punya bos yang tetap memperluas dan mengukuhkan jaringan dengan merekrut tenaga-tenaga baru yang siap berjihad untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka.
 
Kebetulan, kemarin saya ngobrol dengan seorang tetangga yang baru dua tahun
lalu lulus SMA. Ia yang asli Betawi bercerita bahwa seorang temannya pernah diajak
oleh kawan lamanya untuk 'berguru' di sebuah rumah di kawasan Pasar
Minggu, Jakarta Selatan. Tiap malam mereka berkumpul dan 'diisi' -  berupa khotbah dan bacaan-bacaan. Belum satu minggu 'diasramakan', si  pemuda kabur ketakutan, ngumpet di rumah neneknya agar tak dijemput oleh anggota kelompok itu. Rupanya ia ngeri di-bai'at. Katanya, sekali bersumpah, akan susah lepas. Mereka juga diiming-imingi uang saku dan  hadiah sebuah sepeda motor. Tapi apa artinya semua itu kalau akhirnya nyawa melayang saat bom yang ia bawa meledak? Apa betul mereka akan masuk surga, walau sudah merenggut sejumlah nyawa orang-orang yang tak berdosa?
 
Duh Gusti, hidup rasanya jadi tak lagi nyaman. Rasa ketakutan menyelimuti
kita semua. Lengah sedikit, nyawa taruhannya, entah nyawa kita, nyawa kerabat kita, atau nyawa orang-orang yang tak kita kenal.  Lalu siapa sebenarnya dalang dan pendana dari serangkaian teror itu?  Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit terjawab, entah kapan bisa terkuak.

Ikut kaget,

Radityo Djadjoeri
e: radityo_dj@yahoo.com
 
____________________________________________________________________

Azahari dan Indonesia
Oleh Goenawan Mohamad
 
Azahari dan Noordin Top masuk diam-diam dari Malaysia ke Indonesia,
dan ‘membaur’ dengan orang setempat. Mereka bukan orang asing, jika
‘asing’ berarti ‘ganjil’ dan ‘tak dikenal’. Tapi mereka bukan orang
sini. 
 
Mereka merekrut orang lokal yang dilatih untuk meledakkan bom, membunuh
orang secara acak, dan sejak itu Indonesia pun terjerembab. Sejak itu
negeri ini, yang  kita nyanyikan sebagai negeri ‘aman sentausa’, jadi
tempat yang dianggap tak aman dan tak sentausa. 
 
Tentu saja Azahari dan Noordin Top mengatakan mereka melawan Amerika
Serikat dan Zionisme. Tentu saja mereka akan mengatakan jihad mereka
adalah bagian dari perang global yang kini berkecamuk. Tapi pada
akhirnya yang terluka bukanlah Amerika Serikat atau Israel, melainkan
Indonesia -- sebuah negeri yang bagi kedua orang Malaysia itu tak punya
makna apa-apa.
 
Mereka memang bukan orang sini.  Kata ‘sini’ mengimplikasikan sebuah
perbatasan, antara ‘dalam’ dan ‘luar’. Harus diakui perbatasan itu
tak datang dari Tuhan atau alam, melainkan dari sebuah proses politik
dalam sejarah. Perbatasan itu juga tak kekal. Tapi apakah yang tak
kekal tak punya arti dan tak punya kekuatannya sendiri?
 
Azahari dan orang sejenisnya - yang bercita-cita mendirikan sebuah
kekhalifahan Islam yang mengatasi ‘negara-bangsa’ -  berangkat dari
semangat ‘de-lokalisasi’: melintasi lokalitas yang mereka anggap
membatasi diri. Mereka tak mau bersetia kepada sebuah ‘tanah air’.
Yang pasti, mereka tak mau bersetia kepada Indonesia. 
 
Mereka berangkat bersama asumsi bahwa Islam adalah sesuatu yang
universal, yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Mereka seiring
dengan dinamika abad ini, yang menerjang atau menyeberangi perbatasan
nasional, dinamika yang digerakkan ilmu, teknologi, dan  kapitalisme
mutakhir. ‘Hari ini, agama bersekutu dengan tele-tekno-ilmu’, kata
Derrida dalam sebuah simposium di Capri di tahun 1994 - sebuah kalimat
yang tetap punya gema satu dasawarsa kemudian.
 
Tapi pada saat yang sama, terjadi juga sebuah tabrakan. Agama, seperti
yang dibawakan orang macam Azahari, mengandung kontradiksi: di satu
sisi ia mengklaim dirinya universal, tapi di sisi lain, semakin ia
jadi bendera identitas kelompok, semakin ia melawan sifat universalnya
sendiri. Maka ketika agama jadi identitas kelompok, ‘globalisasi’
yang dibawakan oleh modal, ilmu dan teknologi pun seakan-akan jadi
ancaman - meskipun sebenarnya televisi, internet, serta teknik
persenjataan dan pembunuhan, yang berasal dari ‘tele-tekno-ilmu’,
adalah penopang gerak ‘de-lokalisasi’ mereka. Dalam pemikiran agama macam ini, identitas kelompok bertaut dengan ‘de-lokalisasi’. Itu artinya agama, dalam kata-kata Derrida,  ‘terlepas’ dari ‘semua tempatnya yang pas’, bahkan dari  pengertian ‘tempat’ itu sendiri.
 
Tapi bisakah kebenaran agama, ketika diamalkan, berlangsung tanpa
tempat dan terlepas dari konteks lokal apapun? Pernahkah? Khalil
Abdul Karim, seorang mantan anggota gerakan Ikhwanul Muslimin di
Mesir, pernah menganalisa bahwa sejarah Islam sejak sebelum dan
segera sesudah Nabi Muhammad s.a.w. tak dapat dilepaskan dari posisi
politik suku Quraish di sekitar Mekah. Ia menyebut bukunya
(diterjemahkan dan diterbitkan oleh LkiS Yogyakarta) Hegemoni
Quraish.
 
Buku itu mungkin tak sepenuhnya tepat. Tapi sulit dibayangkan Islam
terlepas dari keterpautan dengan yang sempit di sebuah ruang dan sebuah
waktu. Khalifah Usmani yang berpusat di Turki, yang konon melintasi
perbatasan ‘negara-bangsa’ itu, pada dasarnya bagian dari pengalaman
dan kepentingan tahta Turki itu sendiri.
 
‘De-lokalisasi’ selalu mustahil: Islam yang diamalkan akan senantiasa
terkait dengan sebuah petak di muka bumi. Sesuatu yang ‘bukan-global’,
yang telah ada sejak beratus-ratus tahun, terus bertahan: sebuah
wilayah dan sehimpun manusia yang identifikasi dirinya disebutkan
dengan nama sebuah negeri ataupun bangsa.
 
Itulah ‘tanah air.’ Tanah air adalah tempat seseorang terlempar. Di
sana ia memilih untuk menerima posisi itu secara aktif ataupun pasif,
secara bersemangat atau pasrah. Tanah air, seperti yang terjadi ketika
republik ini lahir dari penjajahan, adalah sebuah ‘peristiwa’: sesuatu
yang mengguncang kehidupan dan menggerakkan hati. 
 
Tapi tanah air juga sebuah ‘pengalaman’: sebuah proses tumbuhnya
akar. Kita tak perlu mengaitkan akar itu dengan asal-usul ‘darah dan
tanah’, Blut und Boden, seperti dalam nasionalisme Jerman yang sesat.
Akar itu bukan sesuatu yang harus disakralkan, dan tempat kita hidup
dan berasal, Heimat, bukanlah sesuatu yang suci. Tanah air terbentuk
terus oleh sejarah, oleh kerja kita,  dan itu sebabnya ia, dengan
bekas darah dan keringat, punya arti bagi kita...
 
Indonesia, tanah air kita, lahir seperti itu, melalui revolusi - satu
hal yang tak dialami orang Malaysia macam Azahari. Revolusi itu
melibatkan rakyat banyak yang menderita di bawah penjajahan Belanda. 
Revolusi itu sebuah peristiwa, l’evenement dalam pengertian Badiou,
khususnya peristiwa solidaritas, dengan pengorbanan dan rasa bangga.
Tapi sebagai peristiwa, revolusi selalu punya akhir, tak dapat
diulangi, dan setelah itu Indonesia pun ‘terjadi’, tumbuh, dan
akhirnya jadi sebuah proyek bersama. Proyek itu makin disadari sebagai
sesuatu yang tak sempurna, karena menyadari keterbatasan manusia. 
 
Itu sebabnya Indonesia sebagaimana ia dirikan di tahun 1945 adalah
tanah air dengan banyak harap tapi juga cemas, dengan gairah tapi juga
gentar. Naskah Proklamasi itu tak ditulis dengan cetakan yang
sempurna; ada coretan dalam teks yang ditandatangani Bung Karno dan
Bung Hatta. Di situlah ia berbeda dengan ‘negara Islam’ yang membawa
nama sesuatu yang yang kekal dan tak akan salah. ‘Negara Islam’,
terutama dalam impian Azahari, adalah sebuah keangkuhan kepada
sejarah. Sebaliknya ‘Indonesia’: ia tak menafikan dan tak takut bahwa
dirinya tak akan pernah salah, bahkan berdosa.
 
Itulah sebabnya demokrasi niscaya: demokrasi adalah sebuah mekanisme
untuk selalu memperbaiki diri, mengurangi langkah yang keliru. Dan
kita tahu, Indonesia telah berjalan panjang dan terbentur-bentur,
tapi sampai hari ini bangkit lagi - juga dengan harap dan cemas.
 
Azahari tak memahami ini: ia dan kawan-kawannya tak punya kaitan dengan
pengalaman kita, apalagi dengan sejarah revolusi Indonesia. Mereka
meledakkan bom berkali-kali, merusak negeri ini berkali-kali, dan kita
merasakan sakitnya.
 
Apa gerangan hasilnya, selain sebuah jalan ke surga yang diyakini
sementara orang - sebuah firdaus yang instan, sebuah kenikmatan yang
seketika, seperti banyak hal yang ditawarkan di pasar dunia yang serba
tak sabar sekarang?
 
Mungkin Azahari dan kawan-kawannya, ketika mereka memasarkan surga
yang instan, mereka  tahu ‘jihad’ mereka akan gagal.  Amerika akan
tetap tegak dan Zionisme tak punah. Jika demikian, Azahari dan
kawan-kawannya siap mati dengan harapan bisa ke sorga bagi diri
sendiri, bukan dengan harapan untuk memenangkan orang-orang yang
mereka bela di muka bumi.**


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.