Nov 24, 2005

Goenawan Mohamad: Azahari dan Indonesia

Sekadar cerita:
 
"Boom...boom...boom.....!" Bom bunuh diri meledak di berbagai tempat.
Saya kaget, Anda kaget, semua kaget. Termasuk Goenawan Mohamad (GM), penulis
'Catatan Pinggir' di Majalah Tempo, juga ikut terkaget-kaget. Tak heran
kalau ia langsung menuliskan opininya bertajuk "Azahari dan Indonesia".
Sebenarnya sudah sejak kemarin saya terima email darinya, mohon maaf
baru sempat saya sampaikan kepada Anda pada hari ini.
 
Agaknya teror demi teror akan terus menghantui kita. Bayangkan, muncul
berita bahwa pasukan pengebom bunuh diri yang berjumlah sekira seribu
orang siap beraksi. Noordin Top masih gentayangan cari mangsa. Lalu muncul lagi kabar bahwa Azahari dan Noordin Top itu cuma 'kroco'. Artinya mereka
punya bos yang tetap memperluas dan mengukuhkan jaringan dengan merekrut tenaga-tenaga baru yang siap berjihad untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka.
 
Kebetulan, kemarin saya ngobrol dengan seorang tetangga yang baru dua tahun
lalu lulus SMA. Ia yang asli Betawi bercerita bahwa seorang temannya pernah diajak
oleh kawan lamanya untuk 'berguru' di sebuah rumah di kawasan Pasar
Minggu, Jakarta Selatan. Tiap malam mereka berkumpul dan 'diisi' -  berupa khotbah dan bacaan-bacaan. Belum satu minggu 'diasramakan', si  pemuda kabur ketakutan, ngumpet di rumah neneknya agar tak dijemput oleh anggota kelompok itu. Rupanya ia ngeri di-bai'at. Katanya, sekali bersumpah, akan susah lepas. Mereka juga diiming-imingi uang saku dan  hadiah sebuah sepeda motor. Tapi apa artinya semua itu kalau akhirnya nyawa melayang saat bom yang ia bawa meledak? Apa betul mereka akan masuk surga, walau sudah merenggut sejumlah nyawa orang-orang yang tak berdosa?
 
Duh Gusti, hidup rasanya jadi tak lagi nyaman. Rasa ketakutan menyelimuti
kita semua. Lengah sedikit, nyawa taruhannya, entah nyawa kita, nyawa kerabat kita, atau nyawa orang-orang yang tak kita kenal.  Lalu siapa sebenarnya dalang dan pendana dari serangkaian teror itu?  Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit terjawab, entah kapan bisa terkuak.

Ikut kaget,

Radityo Djadjoeri
e: radityo_dj@yahoo.com
 
____________________________________________________________________

Azahari dan Indonesia
Oleh Goenawan Mohamad
 
Azahari dan Noordin Top masuk diam-diam dari Malaysia ke Indonesia,
dan ‘membaur’ dengan orang setempat. Mereka bukan orang asing, jika
‘asing’ berarti ‘ganjil’ dan ‘tak dikenal’. Tapi mereka bukan orang
sini. 
 
Mereka merekrut orang lokal yang dilatih untuk meledakkan bom, membunuh
orang secara acak, dan sejak itu Indonesia pun terjerembab. Sejak itu
negeri ini, yang  kita nyanyikan sebagai negeri ‘aman sentausa’, jadi
tempat yang dianggap tak aman dan tak sentausa. 
 
Tentu saja Azahari dan Noordin Top mengatakan mereka melawan Amerika
Serikat dan Zionisme. Tentu saja mereka akan mengatakan jihad mereka
adalah bagian dari perang global yang kini berkecamuk. Tapi pada
akhirnya yang terluka bukanlah Amerika Serikat atau Israel, melainkan
Indonesia -- sebuah negeri yang bagi kedua orang Malaysia itu tak punya
makna apa-apa.
 
Mereka memang bukan orang sini.  Kata ‘sini’ mengimplikasikan sebuah
perbatasan, antara ‘dalam’ dan ‘luar’. Harus diakui perbatasan itu
tak datang dari Tuhan atau alam, melainkan dari sebuah proses politik
dalam sejarah. Perbatasan itu juga tak kekal. Tapi apakah yang tak
kekal tak punya arti dan tak punya kekuatannya sendiri?
 
Azahari dan orang sejenisnya - yang bercita-cita mendirikan sebuah
kekhalifahan Islam yang mengatasi ‘negara-bangsa’ -  berangkat dari
semangat ‘de-lokalisasi’: melintasi lokalitas yang mereka anggap
membatasi diri. Mereka tak mau bersetia kepada sebuah ‘tanah air’.
Yang pasti, mereka tak mau bersetia kepada Indonesia. 
 
Mereka berangkat bersama asumsi bahwa Islam adalah sesuatu yang
universal, yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Mereka seiring
dengan dinamika abad ini, yang menerjang atau menyeberangi perbatasan
nasional, dinamika yang digerakkan ilmu, teknologi, dan  kapitalisme
mutakhir. ‘Hari ini, agama bersekutu dengan tele-tekno-ilmu’, kata
Derrida dalam sebuah simposium di Capri di tahun 1994 - sebuah kalimat
yang tetap punya gema satu dasawarsa kemudian.
 
Tapi pada saat yang sama, terjadi juga sebuah tabrakan. Agama, seperti
yang dibawakan orang macam Azahari, mengandung kontradiksi: di satu
sisi ia mengklaim dirinya universal, tapi di sisi lain, semakin ia
jadi bendera identitas kelompok, semakin ia melawan sifat universalnya
sendiri. Maka ketika agama jadi identitas kelompok, ‘globalisasi’
yang dibawakan oleh modal, ilmu dan teknologi pun seakan-akan jadi
ancaman - meskipun sebenarnya televisi, internet, serta teknik
persenjataan dan pembunuhan, yang berasal dari ‘tele-tekno-ilmu’,
adalah penopang gerak ‘de-lokalisasi’ mereka. Dalam pemikiran agama macam ini, identitas kelompok bertaut dengan ‘de-lokalisasi’. Itu artinya agama, dalam kata-kata Derrida,  ‘terlepas’ dari ‘semua tempatnya yang pas’, bahkan dari  pengertian ‘tempat’ itu sendiri.
 
Tapi bisakah kebenaran agama, ketika diamalkan, berlangsung tanpa
tempat dan terlepas dari konteks lokal apapun? Pernahkah? Khalil
Abdul Karim, seorang mantan anggota gerakan Ikhwanul Muslimin di
Mesir, pernah menganalisa bahwa sejarah Islam sejak sebelum dan
segera sesudah Nabi Muhammad s.a.w. tak dapat dilepaskan dari posisi
politik suku Quraish di sekitar Mekah. Ia menyebut bukunya
(diterjemahkan dan diterbitkan oleh LkiS Yogyakarta) Hegemoni
Quraish.
 
Buku itu mungkin tak sepenuhnya tepat. Tapi sulit dibayangkan Islam
terlepas dari keterpautan dengan yang sempit di sebuah ruang dan sebuah
waktu. Khalifah Usmani yang berpusat di Turki, yang konon melintasi
perbatasan ‘negara-bangsa’ itu, pada dasarnya bagian dari pengalaman
dan kepentingan tahta Turki itu sendiri.
 
‘De-lokalisasi’ selalu mustahil: Islam yang diamalkan akan senantiasa
terkait dengan sebuah petak di muka bumi. Sesuatu yang ‘bukan-global’,
yang telah ada sejak beratus-ratus tahun, terus bertahan: sebuah
wilayah dan sehimpun manusia yang identifikasi dirinya disebutkan
dengan nama sebuah negeri ataupun bangsa.
 
Itulah ‘tanah air.’ Tanah air adalah tempat seseorang terlempar. Di
sana ia memilih untuk menerima posisi itu secara aktif ataupun pasif,
secara bersemangat atau pasrah. Tanah air, seperti yang terjadi ketika
republik ini lahir dari penjajahan, adalah sebuah ‘peristiwa’: sesuatu
yang mengguncang kehidupan dan menggerakkan hati. 
 
Tapi tanah air juga sebuah ‘pengalaman’: sebuah proses tumbuhnya
akar. Kita tak perlu mengaitkan akar itu dengan asal-usul ‘darah dan
tanah’, Blut und Boden, seperti dalam nasionalisme Jerman yang sesat.
Akar itu bukan sesuatu yang harus disakralkan, dan tempat kita hidup
dan berasal, Heimat, bukanlah sesuatu yang suci. Tanah air terbentuk
terus oleh sejarah, oleh kerja kita,  dan itu sebabnya ia, dengan
bekas darah dan keringat, punya arti bagi kita...
 
Indonesia, tanah air kita, lahir seperti itu, melalui revolusi - satu
hal yang tak dialami orang Malaysia macam Azahari. Revolusi itu
melibatkan rakyat banyak yang menderita di bawah penjajahan Belanda. 
Revolusi itu sebuah peristiwa, l’evenement dalam pengertian Badiou,
khususnya peristiwa solidaritas, dengan pengorbanan dan rasa bangga.
Tapi sebagai peristiwa, revolusi selalu punya akhir, tak dapat
diulangi, dan setelah itu Indonesia pun ‘terjadi’, tumbuh, dan
akhirnya jadi sebuah proyek bersama. Proyek itu makin disadari sebagai
sesuatu yang tak sempurna, karena menyadari keterbatasan manusia. 
 
Itu sebabnya Indonesia sebagaimana ia dirikan di tahun 1945 adalah
tanah air dengan banyak harap tapi juga cemas, dengan gairah tapi juga
gentar. Naskah Proklamasi itu tak ditulis dengan cetakan yang
sempurna; ada coretan dalam teks yang ditandatangani Bung Karno dan
Bung Hatta. Di situlah ia berbeda dengan ‘negara Islam’ yang membawa
nama sesuatu yang yang kekal dan tak akan salah. ‘Negara Islam’,
terutama dalam impian Azahari, adalah sebuah keangkuhan kepada
sejarah. Sebaliknya ‘Indonesia’: ia tak menafikan dan tak takut bahwa
dirinya tak akan pernah salah, bahkan berdosa.
 
Itulah sebabnya demokrasi niscaya: demokrasi adalah sebuah mekanisme
untuk selalu memperbaiki diri, mengurangi langkah yang keliru. Dan
kita tahu, Indonesia telah berjalan panjang dan terbentur-bentur,
tapi sampai hari ini bangkit lagi - juga dengan harap dan cemas.
 
Azahari tak memahami ini: ia dan kawan-kawannya tak punya kaitan dengan
pengalaman kita, apalagi dengan sejarah revolusi Indonesia. Mereka
meledakkan bom berkali-kali, merusak negeri ini berkali-kali, dan kita
merasakan sakitnya.
 
Apa gerangan hasilnya, selain sebuah jalan ke surga yang diyakini
sementara orang - sebuah firdaus yang instan, sebuah kenikmatan yang
seketika, seperti banyak hal yang ditawarkan di pasar dunia yang serba
tak sabar sekarang?
 
Mungkin Azahari dan kawan-kawannya, ketika mereka memasarkan surga
yang instan, mereka  tahu ‘jihad’ mereka akan gagal.  Amerika akan
tetap tegak dan Zionisme tak punah. Jika demikian, Azahari dan
kawan-kawannya siap mati dengan harapan bisa ke sorga bagi diri
sendiri, bukan dengan harapan untuk memenangkan orang-orang yang
mereka bela di muka bumi.**


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

No comments: