Dec 23, 2005

Koran masih bisa berevolusi

Koran masih bisa berevolusi
 
Azrul Ananda, Pemimpin Redaksi Jawa Pos
 
Mungkin, nama Azrul Ananda belum terlampau dikenal di industri media.
Tapi, belakangan ini pria kelahiran Samarinda, 28 tahun ini mendapat
sorotan dari kalangan pebisnis media. Pasalnya, putra CEO Grup Jawa
Pos, Dahlan Iskan ini tengah menakhodai koran Jawa Pos, sebagai
Pemimpin Redaksi sejak 1 September 2005. Terobosan apa yang akan
dilakukan Azrul yang akrab disapa Ulik ini untuk mengembangkan koran
Jawa Pos?
 
Berikut pengakuan blak-blakan jebolan cum laude jurusan marketing
California State University Sacramento, AS pada tahun 1999 kepada
CAKRAM.
 
Bagaimana perkembangan terkini dari Grup Jawa Pos?
 
Sebagai Grup, Jawa Pos terus tumbuh dan berkembang. Jumlah terbitan di
bawah bendera ini juga sudah dikisaran angka 100, dari Aceh sampai
Papua. Kebanyakan merupakan perintis dan market leader di kawasan
masing-masing, sehingga sebagai network Jawa Pos merupakan yang
terbesar di Indonesia.
 
Menurut AC Nielsen terakhir, market share koran Jawa Pos di kawasan
Surabaya dan Jawa Timur sekitar 80 persen. Padahal tahun 2000 dulu
sekitar 70 persen. Berarti dari dominan ke makin dominan.
Bagaimana Anda terjun di bisnis media? Apakah karena "dipaksa" sang
Ayah atau ada alasan lain?
 
Tidak pernah menjadi cita-cita saya untuk terjun di dunia ini. Bahkan,
orang tua saya dulu berusaha untuk menjauhkan saya dari dunia media.
Lulus SMP tahun 1993, langsung dikirim ke Amerika. Walau mungkin ada
menurun bakat menulis, karena saya sudah aktif menulis cerpen sejak
kelas IV SD, dimuat di berbagai majalah.
 
Mungkin terjun di dunia ini sudah jadi garis hidup. Saya dan Abah
(panggilan Ulik ke Pak Dahlan) sering tertawa kalau ingat waktu saya
kali pertama dikirim ke Amerika. Saya pergi sebagai siswa pertukaran,
semacam bea siswa. Jadi tidak tahu bakal tinggal di mana, sama siapa,
dan sekolah di SMA mana. Ternyata, saya dikirim ke sebuah kota kecil
Ellinwood, di negara bagian Kansas. Di sana saya tinggal dengan
keluarga angkat, John dan Chris Mohn seorang pemilik koran lokal,
Ellinwood Leader. Jadilah saya belajar tentang koran. Mulai dari
fotografi, layout, manajemen, reportase, dan lain-lain.
 
Sejak kapan mulai terlibat di koran Jawa Pos?
 
Saya lulus kuliah di Sacramento, 1999. Waktu pulang, niatnya hanya
setahun mencari pengalaman, lalu balik untuk S-2. Sampai saat itu,
saya hanya kontributor Jawa Pos, khusus menulis tentang balap mobil
Formula 1 (hobi utama). Nah, waktu pulang awal tahun 2000 itu saya
membesarkan halaman DetEksi, seksi khusus  anak muda, yang digarap
oleh anak-anak muda seperti saya waktu itu (22 tahun). Awalnya halaman
itu mendapat reaksi keras, karena mengambil sikap anti-orang tua
(ha.ha.ha.!). Tapi kemudian menjadi salah satu andalan Jawa Pos sampai
sekarang. Setahun DetEksi, saya pegang halaman kota atau Metropolis.
Dianggap OK di sana, setahun kemudian saya berlanjut lagi di Halaman
Utama, selama 1,5 tahun. Saya mungkin paling bangga dengan dua halaman
terakhir itu, karena waktu Metropolis ada kasus besar impeachment
wali kota, dan waktu di Halaman Utama fokus ke liputan perkembangan
kasus Bom Bali. Setelah itu floating, ikut merombak halaman Show &
Selebriti, sambil masih terlibat di berbagai halaman lain di Jawa Pos.
 
Latar belakang pendidikan Anda adalah marketing, bagaimana Anda
memanfaatkannya? Atau justru terbuangkah?
 
Oh tidak. Saya juga terlibat di marketing selama dua tahun terakhir.
Saya juga ditunjuk di Tim Kamisan, semacam Think Tank di Jawa Pos.
Kamisan ini berhak membuat keputusan apa saja, dengan catatan tidak
dilarang oleh direksi dalam waktu 24 jam. Kamisan ini melibatkan semua
lini, mulai redaksi, umum, keuangan, iklan, pemasaran, percetakan.
Sehingga semua program bisa digarap secara sinergi.
 
Visi dan misi Anda dalam mengembangkan koran Jawa Pos, dari sisi
bisnis ataupun konten?
 
Jawa Pos ini punya sesuatu yang istimewa sejak awal, dari Pak Dahlan. Bahwa koran daerah tidak harus kalah dari koran nasional, bahkan bisa lebih hebat dan lebih inovatif dari yang di Ibu Kota. Koran juga tidak sekadar
menyajikan berita, tapi ikut membantu mengembangkan potensi kawasan
tempat koran itu terbit.
 
Misi saya yang pertama adalah meneruskan misi tersebut. Secara
pribadi, tentu ingin melihat Jawa Pos lebih maju lagi. Selalu
melakukan hal-hal yang baru dan inovatif. Karena saya tergolong fresh,
semoga saja ide-idenya memang fresh, tidak terjebak pada konsep-konsep
koran gaya lama.
 
Banyak kalangan menilai anda "anak bawang" dalam bisnis media.
Apalagi, Anda dinilai kurang berpengalaman pada profesi jurnalistik
tapi dengan cepat menjabat posisi pemimpin Redaksi? Bagaimana komentar
Anda?
 
Saya juga mengakui kalau saya anak bawang, ha ha ha. Nggak apa-apa,
saya sudah biasa kok dianggap seperti itu. Tapi yang kenal saya tentu
tahu saya ini seperti apa. Sekali lagi, tidak pernah jadi cita-cita
saya jadi Pemimpin Redaksi, hanya mengalir begitu saja. Teman-teman di
Jawa Pos juga sering bercanda  soal itu. Situasi di sini sangat
egaliter.  Yang mereka tahu, bahwa saya cinta Jawa Pos, saya sayang
sama teman-teman, dan kita bekerja bersama.
 
Kendala-kendala dan masa sulit yang Anda hadapi ketika mengelola
bisnis ini? Bagaimana Anda bisa bangkit dari situasi sulit tersebut?
 
Wah, setiap hari itu ada kendala. Kalau  tidak namanya tidak hidup.
Tahun pertama mungkin sulit, karena waktu itu saya terlibat di
DetEksi, konsep halaman yang sebelumnya belum pernah ada di Indonesia,
bahkan mungkin di dunia. Baik eksternal maupun internal banyak
menanyakan apa guna dan fungsi halaman ini. Baru setelah eksis dan
terlibat pengaruhnya, orang baru percaya bahwa DetEksi produk
istimewa. Lalu di Metropolis dan Halaman Utama, karena saya terlibat
dengan berita-berita "keras" secara intens untuk kali pertama.

Kuncinya sebenarnya tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Tetap
bekerja keras. Sukses akan datang dengan sendirinya. Abah juga selalu
mengajarkan itu. Uang dan kesuksesan tak perlu dikejar, asal kerja
keras dengan hati tulus, akan datang dengan sendirinya.
 
Menurut Anda tren media yang berkembang di Indonesia ke depan akan
seperti apa? Bagaimana Jawa Pos menyikapi?
 
Dulu, waktu saya pulang, banyak yang bilang era koran itu bakal habis.
Ada TV dan internet yang bakal menggusurnya. Tapi saya tidak percaya
itu. Saya percaya koran akan terus eksis. Tinggal bagaimana
memposisikan diri. Kalau dulu hanya news, sekarang harus lebih yang
lain-lainnya. Nantinya pasti akan berubah terus, menyesuaikan dengan
situasi dan kondisi yang ada. Jawa Pos akan lebih muda dan cepat dalam
menyikapi perjalanan waktu dan situasi.
 
Terobosan yang akan Anda lakukan lima tahun ke depan untuk koran Jawa
Pos?
 
Saya ingin Jawa Pos terus berinovasi, menciptakan hal-hal baru yang
sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Bahwa koran masih bisa berevolusi,
menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
 
Obsesi Anda selanjutnya di bidang usaha ataupun pribadi?
 
Mengembangkan Jawa Pos. Saya juga punya cita-cita jadi stand-up
comedian, bikin film komedi, bikin sitkom. Mungkin nanti, ha ha ha...
Soal cita-cita lain, jadi komentator F1, sudah tercapai. Tapi sekarang
saya sudah berhenti, soalnya sudah tercapai, mau berkembang ke mana
lagi? Ha ha ha. Banyak yang menyayangkan keputusan saya berhenti jadi
komentator, tapi saya sudah berjanji akan fokus ke Jawa Pos.      
 

Sumber: Majalah Cakram edisi Oktober 2005
 
 


Ungkapkan opini Anda di:

http://mediacare.blogspot.com

http://indonesiana.multiply.com


Yahoo! Photos
Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays, whatever.