Sep 15, 2007

[Pers] Goenawan Mohamad: “Boleh tersinggung, tetapi jangan memobilisasi kemarahan”

Wawancara dengan Goenawan Mohamad:
"Boleh tersinggung, tetapi jangan memobilisasi kemarahan"
 
 
Pengantar:
Di tahun ini, panggung susastra Indonesia agak panas dengan munculnya gerakan-gerakan yang "menghujat" TUK (Teater Utan Kayu). Mereka menuding TUK , baik secara terang-terangan  maupun diam-diam, sebagai sarang "Gerakan Syahwat Merdeka" (GSM). Istilah tersebut pertama kali dicuatkan oleh  Taufik Ismail. Ada yang bilang, GSM yang dimaksud adalah inisial dari nama lengkap sastrawan kondang Goenawan Soesatyo Mohamad yang
akrab dipanggil GM - salah seorang pendiri Majalah TEMPO.
 
Lalu muncul ikrar "Ode Kampung" di Rumah Dunia Banten yang juga "menghajar" TUK. Kelompok yang dimotori oleh Saut Situmorang dan kawan-kawan ini tak kenal lelah terus 'mengonceki' para tokoh KUK, seperti Nirwan Dewanto, Ayu Utami, Hasif Amini, Sitok Srengenge dan lainnya. Di mata Saut yang nyalang, mereka tidaklah layak digelari sebagai sastrawan.
 
Tak heran, di berbagai forum termasuk di milis-milis, Saut dan kawan-kawan terus berkampanye untuk menghajar mereka dari berbagai sudut. Namun, tonjokan-tonjokan yang mereka lakukan selalu berbalas pantun dengan orang-orang yang tak setuju perseteruan itu, apalagi kalau dilakukan dengan bahasa yang kurang santun.
 
Puncaknya adalah kala harian Media Indonesia memuat sebuah artikel tentang acara berkelas internasional yang digelar oleh TUK dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) beberapa waktu lalu. Karena isinya amat memojokkan  TUK, tak heran kalau TUK bereaksi keras dengan mencap artikel tersebut penuh dengan lumuran dusta. Menurut kabar
terakhir dari Saut  Situmorang melalui email, penulis artikel tersebut telah digeser jabatannya.
 
Namun kini, Rumah Dunia yang konon anti pornografi belum bereaksi ketika puisi Saut Situmorang yang "panas" termuat di Harian Republika.  Selain "berbau ranjang bergoyang", puisi tersebut juga menyinggung perasaan sebagian umat Hindu Bali, karena jelas-jelas menyebut  "pura" dan "Dewa". Reaksi dan komentar pun mengalir, baik di milis  maupun blog.
 
Sayangnya,  untuk kasus yang amat serius ini redaksi  Republika masih diam seribu bahasa. Padahal Republika baik sengaja atau tidak telah melukai hati umat Hindu Bali. Beberapa umat Hindu pun melayangkan tanggapan ke redaksi Republika, namun tak ada balasan. Mereka cuma berharap agar tanggapan tersebut minimal dapat dimuat di Surat
Pembaca. Mereka juga tak menginginkan harian Republika untuk meminta maaf kepada mereka.
 
Berikut wawancara khusus Rizka Maulana dengan GM yang berlangsung di Teater Utan Kayu (TUK) pada Jumat, 14 September 2007 lalu:

RM:  Apakah mas Goen mengikuti keramaian di internet karena satu sajak Saut Situmorang dianggap menyinggung perasaan umat Hindu Bali?
 
GM:  Tidak langsung. Saya selalu dapat kiriman email dari teman-teman.  Tetapi tidak semuanya sempat saya baca.  Tetapi seorang teman mengirimkan khusus soal yang Anda sebut tadi.
 
RM:  Menurut mas GM, apakah sajak Saut itu menghina agama Hindu  Bali?
 
GM:  Saya bukan orang Hindu Bali, tetapi saya tidak mau berlebihan.  Teman saya Ging Ginanjar yang kini mukim di Jerman mengatakan, (saya kutip  menurut ingatan saya) bahwa agama dan umat Hindu tidak akan rusak karena sajak itu. Saya setuju dengan pendapatnya. Tetapi dapat saja terjadi bahwa ada  umat Hindu Bali yang tersinggung perasaannya.  Kan tidak bisa kita  melarang orang untuk tersinggung.
 
Yang penting ialah bahwa ketersinggungan itu dinyatakan tetapi tidak memakai kekerasan dan memobilisasi kemarahan. Saya membaca tulisan I Gde Purwaka di blog Mediacare. Dia tersinggung tetapi tidak akan men-somasi atau mendemonstrasi Republika.  Saya kira itu
sikap  yang dewasa dan terhormat. Berbeda dengan sikap sejumlah organisasi yang mengatas-namakan Islam yang sedikit-sedikit "terhina" dan berdemo.
 
RM: Tetapi kenyataan bahwa sajak itu dimuat di "Republika" yang dianggap suara Islam bagaimana?
 
GM: Seharusnya tidak jadi soal di mana saja itu dimuat. Sebuah sajak kan bukan sebuah editorial.  Lagipula harus dibuktikan dulu, apakah "Republika" adalah "suara Islam".  Islam itu tidak satu ekspresinya dan "Republika" juga tidak selamanya dianggap satu suara utuh, apalagi ini bukan dalam halaman editorial.
 
Kalau tidak, kita akan terjatuh ke dalam teori komplotan:  gara-gara sajak itu dimuat Ahmaddun, maka itu berarti itu cerminan sikap anti Hindu "Republika" apalagi "Islam".  Saya kira Ahmaddun memuatnya tidak dengan maksud menghina.
 
RM: Menurut mas GM, apakah sajak Saut itu bermutu?
 
GM: Menurut saya, sajak itu bukan sajak yang mengejutkan dalam hal kekayaan imajinya, dan di sana-sini belum orisinal, tetapi agaknya bukan sajak yang buruk. Ada beberapa sajak Saut yang saya suka, karena tidak melingkar-lingkar.
 
RM: Wah, kan Mas GM orang TUK.  Kan TUK tidak suka karya-karya sastrawan yang tidak dekat dengan TUK.  Apalagi Saut.
 
GM: TUK itu kan bukan organisasi. TUK kan tempat kegiatan seni dan gagasan. Di TUK tidak selamanya kami sepaham dalam menilai karya – dan kami umumnya tidak membicarakan karya Saut, atau yang lain, karena masing-masing sibuk. Kami cuma bertemu seminggu sekali untuk merancang program. Itu saja sudah berat.

RM:  Jadi Mas GM, Hasif Amini, Nirwan Dewanto dan Sitok Srengenge tidak selalu sependapat?
 
GM:  Ya, dong. Sekali lagi, TUK itu bukan organisasi, bukan mazhab.  Hasif Amini bekerja untuk Kompas dengan timnya sendiri, Nirwan di Koran Tempo begitu juga.  Malah sajak saya pernah tidak dimuat oleh Hasif.
 
RM:  Begitu ya?  Sajak yang mana?
 
GM: Judulnya "Di Korintha".  Akhirnya sajak itu saya muat di buku pernikahan Hamid Basyaif.
 
RM:  Mas GM ngambek?
 
GM: Ya, nggak lah. Kan penilaian saya terhadap karya sendiri tidak selalu benar.
 
RM: Kalau di Koran Tempo?
 
GM: Saya dapat kesan (tapi tidak pernah saya tanyakan) Nirwan baru mau memuat tulisan saya untuk rubrik yang diasuhnya kalau sudah nggak ada tulisan lain. Nirwan sangat ketat (dan saya anggap sangat bagus) dalam  menjaga asas: jangan  sampai mentang-mentang karya orang TUK dan Tempo, maka gampang diterima.
 
RM: Terima kasih, Mas Goen. Ini menarik sekali.
 
Catatan:
Hasil wawancara ini boleh dikutip seperlunya oleh rekan-rekan wartawan tanpa perlu minta izin sebelumnya.

 


 


Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search. __._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: